Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

CHAPTER 4 FOOLISH LOVE

image

Cast: Im Yoonan a.k.a Yoona snsd

Jung Chaeyeon DIA (II)

Jung Sooyeon a.k.a jessica jung

Jung soojung a.k.a krystal jung

Choi Tae Joon

Rating: Mature

Genre: Romance, Life, Sad, NC

Lenght: Chapter

Author Pov

Disini mereka berempat, di sebuah meja makan duduk saling tatap-tatapan satu sama lain.

Chaeyeon memakan makan malamnya tanpa bersuara begitu juga yoonan.

Sedangkan kedua kakaknya menatap adiknya dan juga yoonan dengan tatapan yang sulit di artikan, terlebih lagi soojung sedari tadi memasang muka aneh.

“Ehemmm” Sooyeon sengaja berdehem memecah keheningan. “Yoong.. Bagaimana kabarmu?” mau tak mau Sooyeon bertanya. Rasanya sangat aneh dilanda keheningan seperti ini.

“Huh” yoong menoleh kearah Sooyeon. “Baik” jawab yoong sembari tersenyum.

“Siapa yang memulai ciu…”

“SOOJUNG”

“EONNI”

Soojung hampir kaget akibat jeritan kakaknya dan adiknya sendiri.

“Kan aku hanya bertanya” sungut soojung.

Sedangkan yoonan yang melihatnya hanya tersenyum.

“Sebaiknya kau tidur disini saja, sudah sangat malam untuk pulang”

UHUKK!!

Chaeyeon dan soojung sama-sama terbatuk, kemudian saling bertatapan Lalu menatap Sooyeon.

“Eonni” keduanya memanggil kakak tertuanya.

“Kalian kenapa sih..?”

“Tapi eonni”

“Soojung biarkan sajalah, mereka… Kau tau kan. Dan siapkan keperluan untuk tidur yoong malam ini. Aku tidak mau adik iparku tidak nyenyak tidurnya” Sooyeon menatap Chaeyeon dengan kerlingan yang dapat dilihat soojung yang menatap kakaknya ini dengan tidak percaya.

***

Yoonan dan Chaeyeon berdiri saling tatap-tatapan satu sama lain dengan kikuk di kamar yeoja ini.

“Yoong akan tidur di bawah” akhirnya yoonan membuka suara dan tangannya bergerak mengambil bantal.

“Andwee”

Gerakan yoonan terhenti saat Chaeyeon dengan cepat menghentikan tangan yoonan yang mengambil bantal.

“Di bawah dingin, tidur di atas saja”

“Tapi..”

“Bukankah kita pernah tidur satu ranjang?”

“Yoonan mengedip-ngedipkan matanya. “Tapi..”

“Sudahlah aku sudah mengantuk”

Yeoja itu menarik tangan yoonan agar ikut berbaring di kasur.
Kini mereka sudah sama-sama terlentang di kasur.

Chaeyeon melirik yoonan sekilas. “Selamat malam”

Setelah mengucapkan hal itu Chaeyeon membalikan badannya membelakangi yoonan yang masih telentang menatap langit-langit kamarnya.

Kasur bergerak. Chaeyeon tau kasur ini bergerak bukan karena yoonan membalikan badannya seperti dia. Tapi namja ini bergerak mendekati dirinya.

Tangan yoonan melingkar memeluk Chaeyeon dari belakang.

“Selamat malam juga”

Chaeyeon menyunggingkan senyumnya mendengar kata yang keluar dari mulut yoonan. Kemudian yeoja ini membalikan badannya menghadap yoonan. Di tatap yoonan yang sedang menatapnya.

“Tau night kiss?”

“Huh?” yoonan menatap Chaeyeon bingung.

Smirk tersungging di bibir Chaeyeon. Yeoja ini semakin mendekati tubuh yoonan. Tangannya bergerak menangkup wajah yoonan. Di tempelkannya bibirnya ke bibir tipis yoonan, di kecup-kecupnya bibir yoonan membuat yoonan semakin bingung.

“Apa yang Chaeyeon lakukan?”

Tidak menjawab, Chaeyeon terus memberi kecupan-kecupan singkat di bibir yoonan. Setelah puas memberi kecupan-kecupan kemudian dikulumnya bibir bawah yoonan dengan lembut. Sudah puas dengan bibir bawahnya, Chaeyeon kembali ke bibir atas yoonan. Chaeyeon sedikit bersyukur yoonan tidak ikut membalas. Tak puas hanya bibir atas dan bawah yoonan, Chaeyeon menjulurkan lidahnya memasuki bibir yoonan yang sedikit terbuka. Di absennya gigi yoonan lidahnya bermain bebas di rongga milik yoonan. Setelah itu di gerakan kepalanya kekiri dan kekanan mengekploitasi bibir yoonan. Sedangkan yoonan, diam menikmati perlakuan bibir Chaeyeon ke bibirnya, sampai Chaeyeon menggigit gemas bibirnya dia hanya menahan ringisannya dan membiarkan Chaeyeon mengulum dan menghisap kembali bibirnya dengan puas.

MWAAHH

Chaeyeon melepaskan tautan bibirnya di bibir yoonan. Yoonan menatapnya dengan dingin tidak seperti tadi.

“Apa yang kau lakukan” desisnya tajam.

Chaeyeon sampai kaget mendengar desisan tajamnya. Chaeyeon menatap pandangan mata yoonan yang tajam. Sedikit takut dia menatap pandangan mata yoonan.

“Night kiss” walaupun sedikit takut Chaeyeon tetap menjawab dengan nada biasanya.

“Tck” namja ini berdecak mendengarnya.

Chaeyeon membelakan matanya. “Tidak mungkin..jangan bilang dia di..” belum saja batin dan fikirannya selesai berseteru. Namja ini menarik Chaeyeon yang tadi sedikit menjauh dari dirinya.

“Boleh aku membalikannya di dirimu”

Jemari panjang yoonan menusuri surai rambut Chaeyeon dengan lembut. Chaeyeon meneguk ludahnya kasar. Sedetik kemudian bibir yoonan mendarat dengan lembut di bibir Chaeyeon. Mengecupi berulang-ulang seperti yang dilakukan yeoja ini kepadanya. Setelah puas mengecupi bibir Chaeyeon, yoonan menghentikan kegiatannya lalu tersenyum ke arah Chaeyeon.

“Selamat malam”

Chaeyeon terperangah, dalam pikirannya yoonan akan berbuat lebih dari ini. Tapi kali ini dia salah.

“Yoong..apa kau berada di titik yang belum pernah kau rasakan sebelumnya?” Chaeyeon menatap yoonan.

“Entahlah..aku rasa aku berbeda. Aku sendiri juga tidak tau apa ini, tapi aku senang seperti ini”

“Aku ingin kau seperti ini” ucap Chaeyeon lirih. “Aku kau selalu seperti ini”

Yoonan diam tak menjawab. Di tatapnya Chaeyeon yang menatapnya.

“Apa perasaanku saja, aku merasakan seperti saat bersama mu?”

“Begitukah?”

“Hum”

“Kalau begitu aku akan selalu berada di dekatmu”

Chaeyeon dan yoonan saling tersenyum. Kemudian yoonan merengkuh kembali Chaeyeon ke pelukannya. Dalam hati yeoja ini. Dia benar-benar bertekad membuat yoonan menjadi miliknya.

“Tunggu aku. Tunggu” batin Chaeyeon dengan tekad kuatnya.

***

Chaeyeon rasanya ingin mengutuk habis-habisan relator kelasnya yang seenaknya memasukan namanya ke acara study tour ke japan tanpa memberi tahu dia dulu. Chaeyeon kesal hotel yang akan di tempati dia bersama teman-teman kampusnya.

“Chaeyeon kau sekamar dengan Ahn Eunjin ya..” sebuah suara yang membuat kekesalan Chaeyeon semakin memuncak.

Di balikan badannya menatap seseorang tersebut.

“DIAM! AKU SUDAH TAHU! EUNJIN SUDAH MEMBERI TAHUKU!” pekik Chaeyeon benar-benar kesal membuat relatornya sedikit memundurkan langkahnya.

“Ya.. Kenapa kau menjerit kepadaku? Aku ini relatormu?” pekik relator kelas Chaeyeon yang bernama Ki HiuHyeon.

“Jadi kalau kau relatorku, aku tidak boleh menjerit begitu hah? Seharusnya wajar kalau aku marah. Kau seenaknya saja memasukan namaku ke daftar study tour ini” Chaeyeon menatap marah HiuHyeon yang sedang menatapnya takut.

“Tck.. Kau begitu saja marah., aku kan tidak tau. Lagi pula ini rekomendasi prof.shin. ya aku sebagai relator kelas bisa apa?”

“Cih..menyebalkan” Chaeyeon mendesis kesal.

“Hah.. Dan ini berkas untuk mu, jangan lupa diisi sehabis makan siang kumpulkan kepadaku” titah HiuHyeon.

Chaeyeon menarik kasar lembaran kertas dari tangan HiuHyeon dan langsung meninggalkan relatornya
yang terpaku melihatnya. Menatap Chaeyeon yang berubah dari pendiam kini menjerit dihadapannya. ki HiuHyeon menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Yeoja memang susah di mengerti” katanya.

***

Chaeyeon dan teman-temannya kini duduk di aula di hotel yang di tempati mereka. Chaeyeon sedari tadi menatap ponselnya yang mana layar ponselnya telah dihiasi foto dia dengan yoonan. Diusapnya ponselnya dengan lemah. “Baru sehari aku tapi sudah begitu merindukanmu” desis Chaeyeon lirih.

Lamunan Chaeyeon tentang yoonan terbuyar saat teman-teman yeojanya berisik satu sama lain membuat keributan kecil disekitarnya.

“Chaeyeon lihat tutornya tampan sekali” Ahn Eunjin teman sekamar Chaeyeon menyenggol lengan Chaeyeon. “Lihat tampan sekali dia” desis Eunjin senang.

Awalnya Chaeyeon biasa saja melihat tutor di depannya tapi kemudian matanya membesar kaget saat tutornya melihat kearahnya lalu tersenyum.

“Taejoon sunbae” desis Chaeyeon

“Huh..kau mengenalnya?” Eunjin menatap Chaeyeon heran.

“Hu,,” Chaeyeon menoleh ke Eunjin. “Dia seniorku saat SMA”

“Jinjja?” tanya Eunjin kaget.

Chaeyeon menganggukan kepalanya lalu menoleh kedepan menatap tutornya lagi.

“Hay chae..” sapa taejoon yang seketika itu juga jeritan-jeritan menggema di aula.

***

Chaeyeon memanyukan bibirnya sambil menatap teman-temannya yang bermain di pantai shirahama, yang terletak di  shirahama cho japan.

“Boo..”

“AAAHHHH” jerit Chaeyeon kaget, Chaeyeon menoleh kebelakang melihat siapa yang mengejutkannya. “Taejoon sunbae” sahut Chaeyeon masih kaget.

“Hahaha.. Kau begitu terkejut ya?”
Taei terkekeh melihat raut muka Chaeyeon.

“Jantungku hampir saja lepas” canda Chaeyeon.

“Hahaha..mian…mian” ucap taejoon meminta maaf.

Kemudian taejoon memberikan minuman kaleng ke Chaeyeon yang disambut cepat oleh Chaeyeon.

“Kenapa tidak ikut bermain bersama mereka?”

Chaeyeon yang meneguk minumannya menoleh ke taejoon.

“Ah..tidak..punggungku masih capek akibat duduk tadi”

“Kau tidak suka aku menjelaskan materi?” taejoon menatap Chaeyeon kesal.

“Hahaha” tiba-tiba saja Chaeyeon tertawa melihat muka sunbaenya. “Aniya aku hanya bercanda, lagi malas bermain air” jelas Chaeyeon tersenyum.

“Begitukah?” tanya taejoon.

“Sunbae tidak ingin menikmati pantai?”

PLETAK

Dengan cepat tangan taejoon menjitak kepala Chaeyeon.

“Ya..kenapa memukul ku?” pekik Chaeyeon kesal.

“Kau ini jangan panggil aku sunbae chae” taejoon sengaja menekan nama Chaeyeon.

“Tapi tidak perlu seperti ini” ringis Chaeyeon sembari mengelus-ngelus kepalanya.

“Aku akan seperti ini kalau kau memanggil ku sunbae” taejoon memicingkan matanya menatap Chaeyeon.

“Jadi aku harus panggil apa? Taejoon begitu?”

PLETAK

“Aaaaa sakit” Chaeyeon kembali meringis.

“Tidak sopan, panggil O P P A” taejoon sengaja mengeja oppa dihadapan Chaeyeon membuat Chaeyeon mencibir.

“Tidak mau..”

“Ia oppa ,ia ia ampun..” Chaeyeon melindungi kepalanya saat taejoon ingin menjitaknya lagi. Kemudian terdengar gelak tawa yang keras dari taejoon.

“Muka mu sangat lucu chae… Hahahaha”

“Ya..kenapa menertawakanku”

“Hahahaha”

“Berhenti mentertawakanku” pekik Chaeyeon gemas, melihat taejoon tak bisa diam Chaeyeon memberi cubitan panas di pinggangnya.

“Aw..sakit chae..” ringis taejoon.

“Makanya diam” Chaeyeon mendelik marah menatap taejoon.

“Baiklah aku tidak tertawa lagi” akhirnya taejoon menghentikan tawa dengan terpaksa walaupun sebenarnya dia masih ingin tertawa lagi.

Taejoon melihat sekeliling pantai.

“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan, cuaca hari ini sangat cerah”
Taejoon tersenyum ke Chaeyeon.

Yeoja ini tampak berfikir, selanjutnya menganggukan kepalanya. Sudah sekitar 30 menit
mereka berjalan disekitar pantai shirahama, banyak hal yang mereka lakuin dari melihat pernak-pernik di pinggir pantai. Sampai akhirnya mereka duduk di pelataran jalan yang menghadap ke pantai, sekedar menikmati udara pantai dan keindahan pantai shirahama.

“Chae..”

“Ya sunbae, eh oppa” Chaeyeon menyelah cepat kata-katanya.

“Hahaha, kau belum terbiasa ya memanggilku oppa?” tanya taejoon lembut, dan Chaeyeon hanya mengangguk.

Taejoon menggigit bibirnya, di liriknya Chaeyeon di sampingnya duduk sambil menikmati udara pantai yang menyapa lembut wajahnya. Sebuah senyuman terukir dibibirnya melihat Chaeyeon memejamkan matanya menikmati angin pantai. Taejoon kaget karena tiba-tiba saja Chaeyeon membuka matanya dan menatap taejoon.

“Kenapa oppa melihat ku terus?”

“Hahaha aniya…hanya saja aku masih tidak percaya kalau aku di sukai yeoja pendiam, angkuh, sombong, cuek sepertimu” taejoon pun tersenyum melihat yeoja ini.

“Cih…oppa percaya diri sekali” Chaeyeon menjawab angkuh.

“Buktinya saat kelulusan aku melihat mu menangis sambil memanggil namaku” kini taejoon tersenyum mengejek Chaeyeon.

Wajah Chaeyeon mendadak kaget
mendengarnya. “Oppa melihatnya? Oppa mendengarnya?” pekik Chaeyeon heboh.

“Hahaha” setelah tertawa kecil taejoon menganggukan kepalanya.

“Tapi aku senang, orang yang aku sukai menangisiku”

“Oppa..” Chaeyeon melongo menatap taejoon.

“Maaf, dulu aku tidak menyatakan cintaku padamu. Aku terlalu pengecut”

“Oppa” lirih Chaeyeon.

Kalau saja di status dia tidak memiliki siapa ataupun tidak ada ikatan dengan orang lain. Mungkin hati Chaeyeon membuncah bahagia. Tapi tidak kali ini…Chaeyeon sedikit miris mendengarnya, dia sebenarnya senang tapi di balik kesenangannya itu dia menolak, karena hatinya yang terdalam sudah dimasuki oleh satu nama yang membuatnya hampir gila. Namanya membuatnya sedikit banyak merubah dia, nama yang membuatnya ingin menyatakan ke dunia bahwa dia milikku dan aku miliknya. Nama yang membuatnya menangisi hidupnya.
Nama yang membuatnya menjungkir balikan dunia. im Yoonan, nama yang kini menempati posisi yang paling dalam dari seorang yeoja bernama jung Chaeyeon, yang angkuh, sombong, pendiam, cuek, dan tidak mau sekelilingnya.

“Chae..” panggilan taejoon menyadarkan lamunan Chaeyeon.
“Tck..melamun”

“Hm..” Chaeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Sudah lupakan saja, kan itu cinta waktu dulu. Lagi pula kau sudah punya kekasih kan?”

“Kekasih?” desis Chaeyeon. Baru saja dia memikirkan yoonan. Kini taejoon bertanya tentang kekasih.

“Coba ceritakan tentang kekasihmu?”

Chaeyeon diam, apa yang harus dia ceritakan tentang yoonan ke taejoon. Yoonan hanya namja biasa yang keterbelakangan mental yang sekarang menjalani terapi psikis. Yoonan adalah namja yang sangat baik hati, juga polos. Tapi polosnya itu terkikis saat dia betada di titik normalnya. Yoonan adalah namja yang membuat hidupnya berwarna. Yoonan adalah namja yang dia cintai.

“Chae..”

Chaeyeon tersenyum sekilas. “Aku tidak bisa banyak menceritakan tentang dirinya. Dia..”

Chaeyeon menerawan kedepan melihat deburan ombak yang menerpa karang.

“Dia baik, tidak dia sangat baik. Dia yang membuatku sedikit merasakan senyuman di dunia ini. Dia yang rela mengorbankan nyawa demi hal kesukaanku. Dia yang terlalu kekanak-kanakan tetapi bisa sedewasa tanpa yang di perkiran. Dia namja polos dengan tutur bahasa yang lembut..dia..” Chaeyeon mengeluarkan nafas kasarnya.

“Kau begitu mencintainya”

Chaeyeon tetap menatap ke depan
dan mengangguk sembari tersenyum. Taejoon yang berada disamping Chaeyeon ikutan tersenyum tetapi senyuman miris, dalam hatinya dia berniat menyatakan cintanya yang tertunda sejak lama.

“Oppa..” panggil Chaeyeon tiba-tiba.

“Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?” Chaeyeon menoleh ke taejoon dan menatap namja ini dengan tatapan memohon.

“Sesuatu? Hm…boleh”

“Menari di depanku. Mau ya..” rengek Chaeyeon.

“Kenapa harus itu?” taejoon menatap Chaeyeon heran.

Chaeyeon menghela napasnya lesuh. “Dulu saat  pertandingan di sekolah aku tidak dapat melihat mu bertanding” keluh Chaeyeon.

Mendengar keluhan Chaeyeon, taejoon kembali tersenyum, dia pun berdiri tepat di depan Chaeyeon. Di keluarkannya ponselnya dan menghidupkan sebuah lagu hiphop. Taejoon pun mulai menggerakan tubuhnya.

“WAH..OPPA HEBAT” teriak Chaeyeon takjub, Chaeyeon pun bertepuk tangan.

Taejoon yang nafasnya masih tersenggal-senggal menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Chaeyeon bertepuk tangan dengan semangat. Tiba-tiba tawa Chaeyeon memudar saat ponselnya bergetar, dilihatnya panggilan di ponselnya. Kini raut wajah Chaeyeon berubah.

“Oppa sebentar ya” pamit Chaeyeon dan berjalan menjauhi taejoon.

“Kan sudah kubilang 3 bulan. Ini belum bulan 3”

“Aku tidak bisa menunggu, kau harus meninggalkan yoonan sekarang juga”

“Tidak! Aku tidak mau” pekik Chaeyeon.

“Kau harus mau!”

“Ya appa..” suara tinggi Chaeyeon kini berubah bergetar. Air matanya
dengan cepat mengalir dipipinya.

“Kau memang anak pembantah”

“Kenapa kalau aku membantah! Aku tidak akan membantah kalau appa tidak membuatku seperti ini.
Aku punya pilihan. Tidak bisakah aku memilih pilihanku?” Chaeyeon menghapus air matanya.

“Pilihan apa? Pilihan memiliki namja itu hah”

“Tapi aku mencintainya appa…aku mohon beri waktu untuk nya” Chaeyeon memelas pilu.

“Tidak kau harus menurutiku”

“Appa..” nada suaranya semakin menyedihkan.

KLIK

Ayahnya memutuskan teleponnya
secara sepihak. Chaeyeon menjatuhkan dirinya ke jalanan, tubuhnya tak sanggup menahan bebannya sendiri. Yeoja ini menangkup wajahnya sendiri dengan tangannya. Menangisi kehidupan cinta yang baru saja dia capai. Taejoon melihat Chaeyeon jatuh dijalan segera berlari ke arah Chaeyeon. Taejoon tertegun melihat Chaeyeon menangis.

“Chae..” panggil taejoon sedikit ragu.

Chaeyeon mendongakan kepalanya, dengan cepat Chaeyeon memeluk taejoon. Kali ini dia butuh sandaran untuk menangis.

“Oppa..” isak Chaeyeon

“Kau kenapa?” tanya taejoon dengan nada khawatir.

Chaeyeon bukannya menjawab malah menggelengkan kepalanya lemah.

“ayo pulang?” ajak taejoon dan membantu mengangkat Chaeyeon untuk bangkit.

***

Chaeyeon duduk di balkon hotelnya, matanya masih sembab dan bengkak. Taejoon yang melihat Chaeyeon murung saat dia memberi materi, mempercepat waktu tutornya. Lamunan Chaeyeon terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Chaeyeon melihat pesan singkat tersebut dengan senyuman miring.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja oppa”

Chaeyeon pun membalas pesan singkat tersebut. Dia benar-benar merindukan sosok yang selama ini mengisi relung hatinya. Air matanya kembali mengalir, dadanya terasa sangat sesak. “Aku merindukanmu” desis Chaeyeon lirih.

***

Chaeyeon melepaskan napas leganya saat dia sudah berada di bandara incheon. Chaeyeon sedikit beralasan kalau keluarganya ada acara jadi 4 hari lebih cepat ketimbang teman-teman kampusnya. Sebuah senyuman terukir dibibir Chaeyeon
melihat kedua kakaknya berjalan mendekati dirinya.

“Cepat sekali pulangny?” tanya Sooyeon bingung.

“Hmmm..aku sengaja pulang lebih cepat, hehehe” tawa Chaeyeon.

“Kau tidak membawa oleh-oleh apa pun?” soojung celingak-celinguk melihat barang bawaan Chaeyeon, tidak ada bedanya dengan dia pergi 3 hari sebelumnya.

“Eonni tidak pernah pergi ke jepang saja. Buat apa membawa oleh-oleh. Eonni lebih sering pergi ke negeri sakura ketimbang aku” sungut Chaeyeon.

“Yasudah ayo pulang, aku sudah menyiapkan makanan” titah Chaeyeon.

Selama perjalan chaeyoung diam saja membuat kedua kakaknya bingung dan heran. Soojung yang sedang menyetir memberi kode ke saudaranya untuk menanyakan ada apa dengan adiknya. Kedua kakaknya semakin kaget saat Chaeyeon terisak. Soojung dan Sooyeon saling tatap satu sama lain. Sooyeon pun memberi kode membiarkan adiknya menangis. Soojung pun mengangguk dan kembali menyetir.

***

Sooyeon dan soojung menatap pintu kamar Chaeyeon dengan heran. Setelah pulang Chaeyeon masuk ke kamar dan tidak membuka pintunya sampai sekarang. Dan Chaeyeon pun belum makan malam.

“Kai masuk duluan” suruh Sooyeon.

“Kenapa harus aku? Kau duluan lahir daripada aku jadi kau duluan?” soojung pun protes.

“Omonah” keduanya kaget saat Chaeyeon membuka pintu kamarnya. Penampilannya sangat buruk.

“Masih ada makanan?” tanya Chaeyeon dingin.

Kedua kakaknya mengangguk dengan cepat ke Chaeyeon. Tanpa babibu Chaeyeon pun melangkahkan kakinya ke dapur.

“Ada apa dengan dia?” tanya soojung.

“Mana aku tau, seperti nya tentang yoonan” tebak Sooyeon.

“Kasihan Chaeyeon” soojung berkata lirih menatap punggung adiknya yang sudah di dapur.

Sooyeon menatap kasihan adiknya.

Sooyeon tersentak saat Soojung menyikutnya. “Cepat katakan” bisik soojung.

Chaeyeon menatap dingin kakaknya yang saling guit menguit.

“Ada apa?” Chaeyeon membuka suaranya.

“Eh…hehehe…begini chae…kau boleh tinggal di apartemen kami bersama yoonan”

Mata Chaeyeon membesar. “Tinggal berdua sama yoong?” tanya Chaeyeon tak percaya.

“Hmm..kami rasa kau lebih baik tinggal bersama yoonan”

“Tapi..”

“Sudah tenang saja, kami akan mengurus semuanya” senyum hangat terpancar di bibir Sooyeon membuat Chaeyeon juga ikut tersenyum.

“Gomawo eonni” Chaeyeon tersenyum.

“Sama-sama chae..” balas soojung.

***

Chaeyeon melangkahkan kakinya semangat ke ruangan yoonan. Wajah berseri saat melihat pintu kamar yoonan. Sesampainya di depan pintu kamar yoonan, Chaeyeon sedikit menghela napasnya. Di bukanya pintu kamar yoonan berniat ingin mengejutkan yoonan tapi niat tersebut pupus saat Chaeyeon melihat yoonan sedang tertidur pulas. Dengan langkah pelan Chaeyeon masuk ke ruangan yoonan. Menatap yoonan yang tertidur layaknya anak kecil, mukanya benar-benar lucu. Chaeyeon mendekatkan bibirnya ke bibir yoonan, awalnya hanya mengecup sekilas tapi sepertinya Chaeyeon tidak tahan hasratnya melihat bibir yoonan. Di kulumnya bibir yoonan. Chaeyeon menghentikan kulumannya saat yoonan menggeliat pelan. Mata yoonan perlahan terbuka.

“Chaeyeon..” panggil yoonan dengan nada suara serak.

“Hmm”

Antara sadar dan tidak yoonan tersenyum. Perlahan yoonan bangkit dari tidurnya, ditatapnya Chaeyeon dengan lamat.

“Chaeyeon kemana saja?” sungutnya mempoutkan bibirnya.

“Merindukanku”

Seperti anak kecil yoonan mengangguk tapi tetap mempoutkan bibirnya.

“Bersiaplah, mulai hari ini kita akan tinggal bersama”

“Tinggal bersama?” yoonan menatap Chaeyeon dengan bingung.

“Hmm bersama, kau dan aku satu rumah”

“Satu rumah?”

Chaeyeon mendecak kesal. “Sudah, cepatlah bersiap, aku tunggu diluar” diacak-acaknya rambut yoonan dengan gemas.

***

“Yoong makan malamnya sudah siap”

Chaeyeon berteriak dari arah dapur apartementnya. Yoonan yang mendengar itu bergerak cepat dari arah ruang tv menuju ruang makan. Chaeyeon tersenyum saat yoonan sudah duduk dengan senyuman terukir di bibirnya. Chaeyeon pun mempersiapkan makan malam buat yoonan.

“Makanlah”

Yoonan mengangguk semangat, diambilnya sumpit dan memakan makananya. Makan malam mereka lewati dengan canda tawa.

***

Setelah makan malam Chaeyeon dan yoonan duduk berdua di depan tv. Yoonan dan Chaeyeon tertawa terbahak-bahak menonton kartun larva.

“HAHAHAHA” Gelak tawa mereka menggelegar di apartmenet ini.

Chaeyeon yang masih tertawa menoleh ke kamarnya mendengar dering ponselnya berbunyi. Tawanya berhenti seketika. Yeoja ini melangkahkan kakinya ke kamar.

“Ada apa lagi?” nada duara Chaeyeon sangatlah dingin.

Sekuat tenaga Chaeyeon menahan air mata agar tidak jatuh dari matanya tangannya bergetar.

“Tidak akan. Aku tidak akan melepaskannya” Chaeyeon menggeram marah.

Di matikannya teleponnya secara sepihak. Chaeyeon mengusap wajahnya kasar.

“Tidak. Tidak mungkin. Minggu depan? Tida, tidak” desis Chaeyeon frustasi.

Dilangkahkan kakinya menuju ruang tv. Di tatapnya yoonan yang tertawa dengan senang dari belakang. Kakinya melangkah ke arah yoonan hingga tepat di hadapan yoonan.

“Chaeyeon menghalangi” protes yoonan yang masih tertawa saat Chaeyeon menutupi pandangannya ke arah tv.

Chaeyeon diam tak mengubris perkataan yoonan. Di tatapanya yoonan lamat.

“Yoong” desisnya tertahan.

Yoonan menghentikan tawanya melihat air mata Chaeyeon. Yoonan tertegun saat air mata Chaeyeon semakin deras. 5api yeoja ini masih kukuh menatap yoonan. Melihat Chaeyeon menangis seperti itu, membuat yoonan memberanikan dirinya menarik Chaeyeon ke depannya. Di dudukan tubuh Chaeyeon ke pangkuannya.

“Chaeyeon jangan menangis” tangan kanan yoonan mengusap air mata Chaeyeon. Sedangkan tangan kirinya menopang tubuh yeoja ini di pangkuannya.

“Yoong..” desis Chaeyeon bergetar.

“Ne..”

“A-aku mencintaimu” lirih yeoja ini.

Yoonan diam, namja ini hanya menatap Chaeyeon. Di usapnya ibu jarinya di bibir Chaeyeon.

“Ssstt…aku juga mencintaimu” balas yoonan.

Tangan Chaeyeon dengan cepat menggenggam tangan yoonan.

“Jadikan aku milikmu seutuhnya” mohon Chaeyeon. “Jadikan aku punyamu yoong” mohon Chaeyeon lagi.

Dia tidak peduli dia di pandang oleh apa namja ini. Yang dia inginkan yoonan menjadi miliknya.
Merasa tak ada jawaban Chaeyeon dengan cepat meraup bibir yoonan. Dikulumnya bibir namja ini dengan sedikit kasar. Chaeyeon terus mengulum, menghisap, dan menggigit gemas bibir bawah yoonan. Yoonan membiarkan Chaeyeon menciumnya dengan sepuasnya. Yoonan dapat merasakan rasa asin yang berasal dari air mata yeoja ini. Tapi yoonan tetap membiarkannya. Membiarkan yeoja ini menangis menciumnya. Chaeyeon melepaskan ciumannya. Napasnya tersenggal-senggal. Ibu jari yoonan terulur mengusap bibir Chaeyeon.

“Apa yang kau lakukan hum?” tanya yoonan ibu jarinya masih mengusap bibir Chaeyeon dengan lembut.

Chaeyeon diam dalam isakan tangisnya. Dengan gerakan lembut yoonan menarik Chaeyeon untuk memeluknya. Dan yeoja ini dengan cepat memeluk yoonan. Tangan yoonan dengan lembut membalai rambut Chaeyeon. Di kecupnya kening Chaeyeon dengan lembut.

“Aku lebih dari kata mencintaimu” lirih yoonan.

Perlahan yoong mendekatkan wajahnya ke Chaeyeon, di kecupnya bibirnya Chaeyeon, lalu dikulumnya dengan lembut dan perlahan membuat Chaeyeon menghentikan tangisannya dan membalas ciuman yoong. Yoong semakin merengkuh tubuh Chaeyeon dan menekan tengkuk Chaeyeon memperdalam ciumannya. Tubuh Chaeyeon tersentak saat tangan yoong membelai pinggang rampingnya.
Jemari yoong dengan nakal memasuki kaos longgar Chaeyeon membuat yeoja ini mengcengkeram lengan yoong.

Chaeyeon dan yoong saling melumat, menghisap, mengulum satu sama lain. Ciuman namja ini berpindah dari bibir yeoja ini menuju dagunya kemudian mengulum cuping yeoja ini dan turun ke leher putihnya. Membuat yeoja ini sontak menggerang saat yoong menggigit leher Chaeyeon.

“Ah..”

Yoong terus mengucupi leher Chaeyeon tak lupa menghisapnya.
Berbagai bercak kemerahan sudah ada di leher Chaeyeon.

“Yoong.. Ssshhh”

Chaeyeon mendesah tertahan saat bibir yoong sudah di atas dadanya. Yoong mengangkat wajahnya sedikit menarik kaos yang dipakai Chaeyeon kebawah dan mendaratkan kembali bibirnya ke dada Chaeyeon. Darah Chaeyeon berdesir cepat saat lidah basah yoong bergetak menjilati dada atas Chaeyeon membuat Chaeyeon mendelik kegelian.

“Aaaahhh…” Chaeyeon menghela napas beratnya dan memejamkan matanya.

Chaeyeon semakin meremas rambut yoong. Kecupan-kecupan singkat yang di berikan yoong seakan membuat yeoja ini melayang. Yoong menghentikan kegiatannya saat menggeram. Chaeyeon membuka matanya saat yoong menghentikan aktifitasnya. Chaeyeon menatap yoong dengan tatapan kecewanya.
Tapi tidak dengan yoong, namja ini
malah menatap yeoja ini dengan sangat dingin. Yeoja ini tau namja dihadapannya ini dalam titik apa. Titik yang diharapkannya.

Chaeyeon meneguk ludahnya kasar saat tatapan yoong semakin tajam. Perlahan Yoong mendekatkan wajahnya ketelinga Chaeyeon. “Bagaimana kalau aku juga menginginkanmu”

Chaeyeon kembali menelan ludahnya kasar, suara yoong benar-benar seksi bagi yeoja ini. Chaeyeon menoleh menatap yoong. Dilihatnya yoong sedang tersenyum miring padanya. Entah siapa yang memulai. Kini mereka sudah berciuman kembali, ciuman yang berbeda dari sebelumnya ciuman panas dan terkesan terburu-buru. Chaeyeon membenarkan posisinya yang hampir merosot. Saling memagut, menghisap, melumat. Decapan-decapan mereka pun menghiasi ruangan tv yang sepi.

Chaeyeon tersentak saat yoong bangun dari duduknya dan menarik Chaeyeon dari pangkuannya. Chaeyeon mendorong tubuh yoong berjalan mundur kearah kamar. Chaeyeon mendorong yoong ke tempat tidur.
Yeoja ini langsung mengangkangi yoong dan menekan bibirnya memperdalam ciuman. Chaeyeon dapat merasakan tangan yoong menggerayangi tubuhnya tapi Chaeyeon membiarkan tangan yoong bergerak bebas di punggungnya.

Yoong bangkit dari tidurnya sehingga posisi Chaeyeon menjadi duduk. Mereka sama-sama melepaskan tautan bibir mereka sebentar dan mereka satu sama lain saling membuka baju. Degub jantung Chaeyeon berdetak kencang saat Chaeyeon melihat dada bidang yoong. Begitu pula yoong, napasnya yang tersenggal-senggal kini semakin tersenggal-senggal melihat dada putih Chaeyeon walaupun dada tersebut masih ditutupi bra berwarna baby peach. Yoong tersenyum lembut kearah Chaeyeon yang menatapnya. Dengan gerakan pelan yoong menarik dagu Chaeyeon dan kembali melumat bibir Chaeyeon yang sudah membengkak. Chaeyeon juga membalas ciuman lembut yoong.

Setelah puas dengan bibir Chaeyeon, bibir yoong bergerak perlahan ke leher putih Chaeyeon padahal sudah banyak tanda disana.

“Bibir muhh…sssshhh”

Chaeyeon mendesah saat bibir tipis yoong mengecupi area lehernya. Jantung Chaeyeon kembali berdetak kencang saat lidah yoong sudah ada di belahan dadanya.

“Aaahhhh” Chaeyeon memejamkan matanya. Lidah basah yoong kini menjilati dadanya yang masih tertutupi bra.
“Cukup” kata Chaeyeon.

Chaeyeon dapat merasakan di bawah dia berpangku ada sesuatu yang menonjol dan semakin mengeras. Chaeyeon terkekeh kecil melihat yoong sudah terangsang. Ditatapnya yeoja ini dengan dingin. Tapi Chaeyeon bukannya takut malah tersenyum kemudian menjilati bibir yoong.

“Ya..” pekik yoong tak terima. Tangannya langsung meraba punggung Chaeyeon dan mencari mengait bra Chaeyeon.

CKLEK!

yoong tersenyum senang dan dengan cepat menggulingkan yeoja ini hingga dia di atas dan Chaeyeon dibawah. Bra yang menutupi dada yeoja ini dibuangnya kesembarang arah. Yoong meneguk ludahnya melihat dada putih sintal Chaeyeon. Kini wajah Chaeyeon bersemu merah. Yoong menatap dadanya dengan intens. Yeoja ini tersentak saat bibir tipis yoong mengecup nipple dadanya.

“Eungh” lenguh Chaeyeon. Tangan namja ini sudah berada di dadanya membelai lembut dadanya. Sedangkan mulutnya menghisap dada kanannya. Pijatan lembut dari namja ini dan hisapan di dadanya yang tidak menuntut dari mulutnya.

“Akkhhhkk…pelan” pinta Chaeyeon. Saat remasan tangan yoong yang tadi lembut kini menjadi kasar. “Aaahhhhhhh” Chaeyeon melenguh hebat saat gigi yoong menyentuh kulit dadanya.

Setelah puas menikmati kedua dada Chaeyeon. Yoong mengangkat wajahnya. Tagan yoong yang di dada Chaeyeon kini
bergerak menuju kebawah dengan gerakan pelan. Jemari panjang yoong membelai lembut setiap inci tubuh yeoja ini. Chaeyeon sontak mendesah kecil saat tangan yoong menyelip keselangkangannya. Meraba bagian privat yeoja ini yang masih tertutupi hotpantsnya. Tangan yoong semakin liar di selangkangan Chaeyeon. Sedetik kemudian yoong membuka hotpants Chaeyeon.

Chaeyeon langsung menyilangkan kakinya yang sudah telanjang bebas dari hotpantsnya.

“Jangan menggodaku” ucap Chaeyeon malu.

Ditariknya perlahan celana dalam Chaeyeon menurun kebawah. Tanganbya meraba kembali bagian privat yeoja ini. Yoong dapat merasakan miss v Chaeyeon sudah lembab dan basah. Jarinya menggelitik miss v Chaeyeon.

“Yoong.. Jangan seperti itu” Chaeyeon memanjangkan lehernya mengambil napas yang tersendat.

“Ssshhhhh”

“Yoong.. Sudah hentikan” pinta Chaeyeon benar-benar tak tahan.

Chaeyeon benar-benar tak tahan. Seperti ada sesuatu yang akan meledak di dirinya. Chaeyeon menahan napasnya.

“Yoong…aaahh…aku…tak…tahan”
Desah Chaeyeon tak tahan.

Napas Chaeyeon benar-benar tersenggal. Diliriknya ke bawah. Tubuhnya benar-benar sudah polos tanpa sehelai benang pun. Yoong sontak menarik lehernya dari jangkauan bibir Chaeyeon.

“Aku saja” yoong menatap Chaeyeon dengan tajam. Manik matanya menggelap. Sampai Chaeyeon meremang melihat tatapan tajam yoong.

Dirabanya paha Chaeyeon dengan lembut. Dibukanya paha Chaeyeon melebar. Chaeyeon dapat merasakan udara dingin menyapa miss v nya. Perlahan tapi pasti yoong memasukan juniornya ke miss v Chaeyeon. Chaeyeon memejamkan matanya erat menahan sakit.

“Tatap aku” nada suara yoong sangat dingin, Chaeyeon langsung membuka matanya. “Yakin?” tanya yoong dengan serius. Entah
apa yang dipikiran namja ini sampai dia menanyakan apakah yeoja ini yakin dengan kemauannya.

“Yakin” jawab Chaeyeon mantap.

“Baiklah” lalu dikecupnya sekilas bibir Chaeyeon.

Yoong kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Dengan pelan dan lembut yoong mendorong juniornya masuk ke miss v Chaeyeon. Chaeyeon menahan rasa sakitnya mati-matian saat yoong mendorong sedikit kuat juniornya masuk ke dalam. Chaeyeon melepaskan napasnya. Junior yoong kini sudah masuk sempurna di miss v nya. Chaeyeon maupun yoong dapat merasakan bau darah yang menyeruak. Air mata Chaeyeon pun mengalir. Bukan karena dia sedih. Yoong yang pertama kali menyentuhnya. Namja yang dicintainya bukan orang lain, Chaeyeon menangis senang ditatapnya yoong dengan lemah.

“Jangan menangis” jemari yoong menghapus air mata Chaeyeon.

“Aku menangis senang. Kau lah yang pertama” balas Chaeyeon tersenyum.

“Sakit?” kini jemari yoong mengusap dahi Chaeyeon yang berkeringat.

Chaeyeon mengangguk pasrah. Yoong tersenyum melihat yeoja nya mengangguk. Di kecupnya dahi Chaeyeon dengan lembut.

Yoong kembali menatap Chaeyeon
seakan berbicara. ‘Apakah kau siap’ Chaeyeon kembali mengangguk.

Chaeyeon meringis saat yoong menggerakan pinggulnya, rasa perihnya kembali datang.

“Aaakkkhhh” rintih Chaeyeon.

Yoong tetap menggerakan pinggulnya dengan tempo tetap seiring bergeraknya tubuhnya yoong rasa perih yang dirasakan Chaeyeon berangsur memudar. Ingin sekali Chaeyeon mendesah sesukanya, tapi dia masih malu mendesah kepada yoong. Chaeyeon meremas rambut yoong sebagai ganti rasa inginnya untuk mendesah. Tapi tetap saja, gerakan pinggul namja ini membuat desahannya benar-benar tercekat habis di tenggerokannya. Chaeyeon tetapenahan desahannya. Ini benar-benar nikmat batin Chaeyeon, digigitnya sendiri bibirnya menikmati sensasi dorongan dari yoong.

“Biar aku saja yang menggigit bibirmu” ujar yoong. Lalu diraupnya bibir Chaeyeon dengan kasar, Chaeyeon pun membalasnya. Lidah mereka saling membelit, mereka saling menghisap dan mengulum.

Yoong pun menambah tempo gerakan pinggulnya, membuat Chaeyeon semakin ingin mendesah.

“Aaahhhhhh” desis Chaeyeon disela ciuman panas mereka. Mendengar desahan Chaeyeon, yoong pun melepaskan ciuman panas mereka dan fokus ke gerakan pinggulnya.

“Ssssshhhh” tubuh Chaeyeon menggeliat. Diangkat pinggulnya sedikit ke atas agar memperdalam dorong junior yoong.

“Lebih dalam yoong”

Chaeyeon meraba wajah yoong sambil memohon. Sedikit tersenyum yoong menandakan ia mengerti. Di perdalam dorongan pinggulnya dan mempercepat tempo gerakannya. Chaeyeon merengkuh tubuh yoong, memeluk erat-erat. Yoong memejamkan matanya menikmati pijatan junior di miss v Chaeyeon. Nafas yoong juga tersenggal-senggal seperti Chaeyeon. Detik berikutnya Chaeyeon benar-benar mengeluarkan desahannya, yeoja ini tidak sanggup lagi menahan desahannya. Sensasi yang diberikan yoong terlalu memabukannya begitu juga dengan yoong, Awalnya desahan kecil keluar dari mulutnya. Tapi saat Chaeyeon membalas dorongan pinggulnya, yoong juga ikut mendesah. Pijatan serta gerakan balasan Chaeyeon membuat yoong tak kuat. Chaeyeon mau pun yoong saling menggerakan pinggulnya. Menicptakan decatan diantar alat kelamin mereka.

Melihat mulut Chaeyeon yang terbuka sambil mendesah membuat yoong tergoda. Dibkulumnya bibir yeoja ini yang benar-benar sudah merah dan bengkak. Sampai akhirnya Chaeyeon menggigit bibir yoong menghentikan apa yang dilakukan namja ini. Chaeyeon membusungkan dadanya dan kepalanya menengadah keatas saat dia merasakan sebuah gelombang mendesak tubuhnya. Kepalanya mendadak pusing.

“A-ahku…ti..dakk..kkuatt”

Gelombang tersebut semakin besar, ingin rasanya Chaeyeon mengeluarkan gelombang itu.

“Ssshhhh sebentarrhhh” balas yoong dan di kecupnya lagi bibir Chaeyeon singkat.

“Eeeeeuuunngghh” Chaeyeon meremas lengan yoong,melihat Chaeyeon yang tak kuat lagi, yoong semakin mempercepat tempo gerakannya, membuat Chaeyeon mendesah kencang.

Yoong semakin menambah tempo gerakannya. Dia hampir mencapai klimaks, dibukanya paha Chaeyeon sedikit lebih lebar lagi. Semakin didorongnya ke dalam juniornya ke miss v Chaeyeon.

“Chae…” desis yoong.

Chaeyeon yang mengerti maksud yoong. Dikeluarkannya apa yang ditahan sedari tadi begitu pula dengan yoong.

“Aaarrggghhh”

Mereka sama-sama mengeluarkan cairan mereka. Chaeyeon merasakan miss v nya hangat dengan cairan namja ini. Yoong pun ambruk ke atas tubuh Chaeyeon. Dada mereka naik turun, Chaeyeon mengelus dada yoong. Ditatapnya wajah yoong yang penuh peluh. Dihapusnya peluh yang mengitari wajah tampan yoong. Yoong menggulingkan tubuhnya kesamping tubuh Chaeyeon. Ditariknya Chaeyeon dan memeluknya. Diambilnya selimut yang berada di sekitar mereka. Ditutupnya tubuh polosnya dan tubuh polos Chaeyeon.

“Lelah?”

“Hmm. Ayo kita tidur” ajak Chaeyeon.

“Baiklah” dikecupnya dahi yeoja ini. Dan Chaeyeon menenggelamkan wajahnya di ceruk leher yoong.

Chaeyeon masih tersenyum tapi dibalik senyumnya dia masih merasakan kesedihan.

***

Chaeyeon pov

Aku menopang daguku sambil melamun menatap taman di kampusku. Rasanya sangat senang bisa satu rumah dengan yoong. Aku masih tersenyum mengingat kejadian 3 hari yang lalu. Ternyata dia benar-benar berbahaya di titik normalnya. Lamunanku terhenti saat teman ku ada yang menelpon. Aku ambil telponku, senyumanku memudar seketika kuhela napasku perlahan. Dan kumasukan telponku ke dalam tas dan bangkit menuju ruang kelas.

“Saya akhiri kuliah hari ini”

Kurenggangkan tubuhku yang sedikit kaku. Ku ambil ponselku, sedikit terkejut, aku melihat 8 panggilan tidak terjawab dari soojung eonni.

“Ada apa?” pikirku

Tiba-tiba persaanku tidak enak, ku telpon balik soojung eonni.

“Kenapa tidak diangkat” gerutuku. Apa sebaiknya aku ke ruamh saja pikirku.

Author Pov

Chaeyeon berlari memasuki rumahnya persaannya semakin tidak enak.

“Eonni”

Dilihatnya kedua kakaknya duduk di ruang tamu Chaeyeon pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Chaeyeon melihat kedua kakaknya dengan wajah gusar.

“Ada apa eonni?” kedua kakaknya diam. Chaeyeon pun duduk mendekati kakaknya.

“Ada apa eonni? Kenapa diam saja? Ada apa?” nada suara Chaeyeon semakin meninggi.

Sooyeon menghela napasnya. Di keluarkannya sebuah undangan. “Di antar tadi siang” takut-takut Sooyeon menjelaskan.

Chaeyeon menatap bingung undangan tersebut. “Undangan?”

Chaeyeon pun mengambil undangan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia. Di undangan tersebut, tertera namanya dan nama namja yang dia tidak tau.
Tangan Chaeyeon mendadak gemetar.

“Tidak mungkin, minggu depan? Tidak, TIDAK” pekik Chaeyeon.

Chaeyeon membuang undangannya. “Tidak…tidak” pekikan Chaeyeon kini berubah menjadi nada pilu.

“Aku tidak mau…tidak..”

“Chae..” panggil kedua kakaknya khawatir.

“Aku tidak mau” desis Chaeyeon menahan sakit di dadanya.

“Chae…chae..mau kemana…chae..” kakaknya memanggil. Chaeyeon tiba-tiba bangkit dan keluar dari rumahnya

Kedua kakaknya pun segera menyusul adiknya.

“Chae…mau kemana…chae..buka pintunya” soojung menggedor-gedor pintu mobil Chaeyeon.

“Chae..buka..chae..” Sooyeon juga ikutan menggedor pintu adiknya.
“Jangan pergi chae…chae..” pekik Sooyeon.

Chaeyeon tidak mau mengubris titah kakaknya.

“Chaeyeon… Chae..berhenti…chae..” kakaknya memanggil-manggil namanya yang sudah melaju cepat meninggalkan rumahnya.

Chaeyeon mengusap air matanya, dia tidak tau tujuannya mau kemana. Pikirannya benar-benar kacau. Sebuah nama terlintas dipikirannya. Di lajunya mobilnya semakin cepat. Ditatapnya pintu kamar apartmenetnya.tangannya bergetar membuka pintu apartmenetnya. Di carinya yoong saat dia masuk, kaki Chaeyeon bergerak menuju kamar.di dapatnya yoong sedang tertidur.
Chaeyeon duduk di sisi tempat tidur. air matanya kembali mengalir.

“Mianhae..aku benar-benar mencintaimu. Mianhae yoong! Aku sangat mencintaimu”

Di kecupnya bibir yoong dengan singkat ” mianhae”

***

Chaeyeon berdiri di pelataran sungai han. Di tatapnya sungai han di malam hari, dia tengah memikirkan sesuatu. Ditatapnya ponselnya berisikan pesan akan di kirim ke kakaknya.

“Mianhae” desis Chaeyeon tertahan.

“Chae ada apa?” taejoon datang dengan napas tersenggal-senggal di hadapan Chaeyeon.

“Oppa sudah datang?”

“Kau kenapa? Kenapa wajahmu murung begitu?” taejoon menatap wajah Chaeyeon. “Ya…apa yang kau lakukan chae?” tanya taejoon saat Chaeyeon melemparkan ponselnya ke sungai.

“Oppa…mau membantuku?” Chaeyeon menatap taejoon dengan memohon.

“Membantu apa” jawab taejoon.

Chaeyeon diam, dia berpikir apa yang dilakukannya sekarang. Tapi…ada alasannya membuat keputusan ini.

“Bantu aku pergi dari sini?”

***

“HWAAAAA”

teriak soojung melihat pesan yang baru saja dikirim.

“Ada apa?” tanya Sooyeon cemas.

“Ini eonni?”

“Wae..wae?”

“Ini baca?” soojung memberikan ponselnya.

‘Aku pamit pergi. Jaga yoong, aku sangat mencintainya’

“Dia pergi? Pergi kemana?” tanya Sooyeon semakin cemas, dan soojung menggeleng kepalanya.

Tobe Continue…

Aku butuh saran dan comment kalian please….

CHAPTER 1 YOU’RE THE BEST

image

Cast: Im Yoona (male) Snsd

Jung Chaeyeon (female) DIA

Main Cast: Choi Yebin (Male) DIA

Jeon Somi (Male) Eks. I.O.I

Jeon Jungyeong (Male) Twice

Kim Dahyun (male) Twice

Ki Heehyun (Male) DIA

Genre: Family, Marriage Life, Romance, Sad

Lenght: ThreeShoot

Rating: General

.
.
.

Author Pov

Sinar mentari yang menerobos lewat jendela membuat seorang yeoja yang sedang tertidur pulas itu terganggu. Ia menggeliat lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Bagi Chaeyeon hari minggu adalah hari untuk untuk bermalas-malasan seharian. Ia menghela napas kasar lalu menoleh ke samping. Chaeyeon tersenyum saat melihat
wajah damai seseorang yang sudah 5 bulan ini selalu menemani tidurnya. Ia amati wajah rupawan milik suaminya, benar-benar tampan dan menggemaskan.

Setelah puas mengamati wajah tampan suaminya, Chaeyeon turun dari tempat tidurnya, ia berjalan ke kamar mandi membasuh wajahnya. Seperti ibu rumah tangga lainnya. Chaeyeon harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Setelah 30 menit berkutat dengan urusan dapur, akhirnya Chaeyeon tersenyum cerah melihat hasil karyanya. Chaeyeon melihat jam dinding yang ada di dapur 07.30, suaminya belum bangun.

“Pagi baby” sapa yoona sambil mendekat lalu mengecup bibir Chaeyeon, membuat Chaeyeon terdiam dan pipinya bersemu merah.

“Pagi oppa” jawab Chaeyeon sambil berusaha mengontrol dirinya, jantungnya berdetak tak karuan.

Yoona tak bisa menahan senyumnya melihat wajah memerah Chaeyeon.

“Eh, oppa mau kemana?” tanya Chaeyeon sadar saat yoona memakai pakaian formal.

Yoona tersenyum menatap Chaeyeon yang mengernyitkan dahinya dan menunggu jawaban darinya. Lalu pandangannya jatuh
Ke atas meja makan, ia menatap sendu pada masakan yang sudah
susah payah istrinya buat.

“Ada beberapa hal yang harus aku urus mengenai lanjutan proyek dengan perusahaan jepang itu. Jadi aku akan keluar bersama Jungyeong hari ini untuk mengurus semuanya” ucapan yoona membuat Chaeyeon menghela napas kasar. “Mian chae, aku tak bisa memakan sarapan buatanmu. Aku sudah di tunggu. Jaga rumah baik-baik. Aku berangkat” yoona mengelus puncak kepala Chaeyeon lalu mencium keningnya.

Chaeyeon masih bergeming sambil menatap punggung yoona
yang menjauh.

“Oppa! tunggu!” Chaeyeon berlari kecil menuju perkarangan rumahnya.

Yoona yang hendak membuka pintu mobil menyerit melihat Chaeyeon berlari ke arahnya. “Ada apa?” tanyanya khawatir.

Chaeyeon dengan napas terengah-engah menyodorkan kotak bekal
pada yoona. “Aku tidak mau tau, oppa harus menghabiskan ini. Entah oppa akan memakannya di jalan atau sedang rapat dengan rekan kerja oppa” ujar Chaeyeon membuat yoona terkekeh.

“Tidak mungkin aku memakannya sambil menyetir atau saat rapat. Jangan khawatir aku akan menghabiskan ini. Gomawo” yoona menghapus keringat di dahi Chaeyeon dengan sapu tangannya. “Aku berangkat” yoona mengecup bibir Chaeyeon.

“Hati-hati oppa!” teriak Chaeyeon sambil melambaikan tangannya.

Chaeyeon menghembuskan napas kasar. Suaminya itu sangat sibuk,
Yoona bahkan tak sempat sarapan, itu sering kali terjadi. Chaeyeon melangkah dengan lemas ke dalam rumahnya. Mereka menikah karena perjodohan, tapi mereka menikah tidak dengan terpaksa. Hubungan mereka juga baik. Chaeyeon menatap nanar masakannya. Siapa yang akan menghabiskannya? Chaeyeon mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi line dan mengirim pesan pada 2 orang yang dipastikan akan menghabiskannya.

From Hyun & Bin

“Kalian berdua sudah sarapan? Aku memasak banyak. Datanglah jika ingin mencobanya.

Setelah pesannya terkirim dan melihat notifikasi pesan sudah dibaca, tanpa melihat balasannya, Chaeyeon segera berjalan ke kamar.

***

Ting Tong

Chaeyeon yang sudah bersiap. Segera membuka pintu rumahnya.

“Annyeong, kakak ipar” sapa mereka berdua kompak. Chaeyeon tersenyum.

“Masuklah, bersikaplah seperti biasanya” Chaeyeon membuka lebar pintu rumahnya.

“Kenapa sepi? Yoona hyung tidak ada di rumah? Aku tidak melihat mobilnya di depan” tanya Heehyun sambil mengedarkan pandangannya.

“Apa yoona hyung pergi bekerja?” tanya yebin.

Chaeyeon yang ada di belakang mereka mengangguk. “Itulah alasan mengapa aku menghubungi kalian. Ayo ke ruang makan” ajak Chaeyeon.

“Waw. Kau memasak sebanyak ini? Aku jadi lapar” ujar Heehyun saat melihat banyak makanan.

Yebin mencibir sambil menarik kursi. “Kau selalu lapar jika melihat makanan hyung” ujarnya lalu duduk.

“Selamat makan!” seru mereka.

Heehyun dan yebin tidak mau bertanya banyak hal. Mereka sudah paham akan setuasi yang terjadi.

“Setelah ini kau mau kemana chae?” tanya Heehyun sambil membantu Chaeyeon membawa peralatan kotor.

“Tidak kemana-mana, aku harus membersihkan rumah. Taruh disana saja oppa biar aku mencucinya”

“Tidak apakan jika kami yang mencucinya. Kau sudah berbaik hati sudah memberikan kami makanan gratis” ujar yebin yang mulai menggulung kemejanya.

Heehyun mengangguk dan ikut bergabung dengan yebin. “Kau bisa mengerjakan yang lainnya. Percayakan tugas ini pada kami” ujar Heehyun

Chaeyeon tersenyum, merasa terharu dengan sikap 2 namja itu. “Baiklah, aku akan membuat jus untuk kalian berdua. Jus buah sirsak. Call!”

“Call!” koor HyunBin membuat Chaeyeon terkekeh.

“Aku ke kamar dulu untuk mengambil pakaian kotor. Hati-hati jangan sampai sabunnya mengenai mata kalian”

“Ne chae-ya. Kau tenang saja” ujar yebin sambil mengedipkan matanya membuat Heehyun memukul kepalanya.

“Aissh, sakit hyung. Busanya mengotori rambutku tahu!” kesal yebin

Heehyun mencibir. “Dia kakak ipar
kita bodoh. Lupakan perasaanmu
itu” ujarnya.

“Kalau kau jadi aku, kau juga akan
melakukan hal yang sama hyung. Melupakan seseorang yang kita sukai itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh proses” ujar yebin.

Heehyun tertawa dengan keras membuat yebin mendengus kesal.

“Hahahaha…”

“Memangnya apa yang lucu huh!”
Kesal yebin.

“Aigoo. Aku tidak tahu kalau kau akan semelow itu bin. Kau sudah besar rupanya” cand Heehyun.

“Matamu buta ya hyung” kesal yebin sambil berkacak pinggang.

Heehyun benar-benar tidak bisa menahan tawanya melihat wajah merajuk yebin.

“Hahahaha…”

Chaeyeon yang kebetulan lewat sambil membawa pakaian kotor tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.

***

“Ya ampun chae. Apa kau sering mencuci sebanyak ini?” tanya Heehyun.

Yebin yang berada dibelakangnya sambil membawa gantungan pakaian menyahut. “Ini belum seberapa hyung. Kau tahu, dia suka mencuci pakaian malam-malam juga” ujarnya.

Chaeyeon hanya tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya
menjemur pakaian.

“Kenapa kau tidak laundry saja? Atau minta seseorang untuk mencucinya. Yoona hyung mampu
untuk membayar 100 pelayan untuk mu” cecar Heehyun.

“Aku sendiri yang menginginkannya tidak ada pelayan di rumah ini. Selama aku bisa mengurusnya sendiri tak apa” ujar Chaeyeon.

Yebin tersenyum tipis. “Khas seorang jung chae- ah maksud ku Im Chaeyeon” yebin menggaruk kepalanya.

Heehyun hanya menggeleng pelan. “Beruntungnya yoona hyung
memiliki istri sepertimu Chaeyeongie. Apa kau punya teman sepertimu juga kenalkan padaku, aku akan jadikan istri” ujarnya membuat yebin melemparnya batu kerikil ke hidungnya.

“Aw, yak. Choi Yebin!” kesal Heehyun. “Kau membuat hidung berhargaku
luka tahu!” sambungnya.

“Tak kusangka kau lebih narsis dari Jungyeong hyung” gumam yebin membuat Heehyun mendengus.

Chaeyeon dan yebin tertawa melihat orang yang lebih tua di antara mereka marah.

“Sepertinya aku tahu alasan kalian dulu pernah berkencan” gumam Heehyun.

***

“Taraa! Jus sirsak dan kue red velvet datang!” seru Chaeyeon.

Heehyun dan yebin langsung bersorak senang.

“Kapam kau membuatnya chae?”
Tanya Heehyun setelah menelan kuenya.

“Em, sedari tadi kau sibuk” sahut yebin.

“Tadi sore. Bagaimana enak?” tanya Chaeyeon.

“Em, selain pintar masak. Kau juga pintar membuat kue” ujar Heehyun membuat Chaeyeon terkekeh.

Yebin mencibir sambil mendorong dahi Heehyun. “Tsk. Kau pikun ya hyung. Chaeyeon itu chef patiser hyung. Pastilah dia pintar membuat kue”

“Ya! Bocah kurang ajar. Aku lebih tua darimu, huh!” kesal Heehyun.

“Chae-ya, sepertinya aku harus pamit. Ini sudah siang. Aku ada janji dengan dahyun” ujar yebin.

“Ah, kenapa kau tidak mengajak dahyun sekalian” Chaeyeon berdiri dari duduknya.

“Dia masih tidur chae-ya. Kau seperti tidak tahu saja kebiasaannya” ujar yebin.

“Aku juga harus pamit chae-ya. Ada lagu yang harus ku selesaikan” ujar Heehyun.

“Ne, gomawo untuk hari ini” Chaeyeon mengantar kedua tamunya. “Eh? Kau naik motor?” tanya Chaeyeon kepada yebin.

Yebin tertawa pelan. “Kenapa, kau
ingin memboncengku?”

Chaeyeon tersenyum. “Lain kali?”
Ujarnya.

“Aku duluan ya! Gomawo untuk makannya! Salam untuk yoona hyung!” Heehyun melambaikan tangannya.

“Hati-hati oppa!” serunya.

“Aku pamit chae-ya. Hati-hati di rumah. Salam untuk yoona hyung”
Yebin naik ke atas motornya.

“Kau juga hati-hati. Jangan mengebut” ujar Chaeyeon.

“Jika kau butuh teman untuk jalan-jalan. Jangan sungkan untuk menghubungiku” ujar yebin.

Chaeyeon tersenyum dan mengangguk. “Gomawo” ujarnya.
“Omo. Aku lupa persediaan bulanan sudah menipis” Chaeyeon menepuk dahinya.

Chaeyeon membereskan gelas dan piring bekas, ia akan mencucinya nanti sepulang dari supermarket. Chaeyeon menunggu di halte bersama beberapa orang yang kini sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak lama busnya datang, Chaeyeon dengan cepat naik ke bus, Chaeyeon duduk di kursi belakang dekat jendela, di sampingnya duduk seorang ibu hamil bersama putranya yang tidur di pangkuannya. Chaeyeon tersenyum dan menyapa ramah.

“Berapa bulan?” tanyanya ramah.

“Minggu depan akan memasuki 9 bulan”

“Im Chaeyeon” Chaeyeon mengulurkan tangannya.

“Song Mina, dan putraku Song Jun Pyo” jawabnya.

“Jun pyo kelas berapa?” Chaeyeon mengelus rambut bocah itu.

” 6 tahun. Dia baru masuk sekolah tahun ini” jawab mina membuat Chaeyeon mengangguk.

“Dia pasti senang akan punya adik. Semoga persalinan anda berjalan lancar” gumam Chaeyeon.

“Terima kasih. Semoga persalinan anda juga lancar”

Chaeyeon mendongak. “Ye!” serunya agak kaget.

Mina tersenyum lembut. “Suamiku, sudah menunggu di halte depan”

Chaeyeon mengerjapkan matanya. “Aku akan menggendong jun pyo” ujarnya agak gugup.

Mina tersenyum dan mengangguk. “Gomawo” ujarnya.

Mereka turun di halte. Chaeyeon tampak senang menggendong jun pyo yang tertidur.

“Apa jun pyo biasa tertidur seperti ini?” tanya Chaeyeon.

“Begitulah putraku” ujar mina sambil terkekeh pelan.

Suami mina menyambut mereka
dan Chaeyeon memberikan jun pyo pada ayahnya.

“Gomawo” ujar tuan Song.

“Sama-sama. Lain kali jika bertemu lagi kita harus mengobrol lebih banyak” ujar Chaeyeon.

“Tentu. Anda harus menjaga kesehatan, awal kehamilan memang masa yang sedikit sulit. Kami duluan” ujar mina.

Chaeyeon hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Masih jelas dalam ingatan Chaeyeon tentang ucapan mina.

“Hamil? Aku?” Chaeyeon terkekeh pelan lalu melangkah ke supermarket.

***

Yoona dan Jungyeong jalan bersama ke parkiran.

“Mau makan siang bersama?” tawar Jungyeong.

Yoona mengangguk pelan. “Di restoran biasa. Kau yang  menyetir” yoona melempar kunci mobilnya.

“Chaeyeon membawakanmu bekal hyung?” tanya Jungyeong saat duduk di kursi.

Yoona menoleh ke jok belakang. “Kau pasti tidak percaya, aku memakannya sambil menyetir”

Mata Jungyeong menyipit menatap yoona. “Aku percaya. Syukurlah kehidupan rumah tangga kalian baik-baik saja. Aku sempat khawatir hyung” Jungyeong mulai menjalankan mobilnya.

“Gomawo, untuk kekhawatiranmu yeon. Aku juga bersyukur kami baik-baik saja sampai sekarang. Semoga bisa selamanya hingga kami tua. Kami sama-sama membuka hati dan belajar saling mengenal satu sama lain. Kepribadian Chaeyeon yang ceria membuatku lebih mudah menyukainya” gumam yoona sambil tersenyum.

“Kau jatuh cinta padanya hyung?” tanya Jungyeong sambil fokus menyetir.

“Tidak ada yang salahkan jatuh cinta pada istri sendiri” yoona menaik turunkan alisnya.

Jungyeon hany bisa tersenyum sambil menggeleng kepalanya.

“Sebenarnya aku merasa bersalah pada Chaeyeon. Hari minggu seperti ini aku tetap bekerja. Selama ini aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya. Dia pasti merasa terabaikan. Kami juga tak sempat bulan madu. saat aku hendak mengajaknya ke jepang bulan lalu, Chaeyeon malah sakit” gumam yoona sambil melihat jalanan.

Coba sesekali ajak Chaeyeon keluar hyung, makan malam romantis misalnya” saran jungyeon.

“Kata yebin, hal romantis Chaeyeon tidak menyukainya. Coklat bahkan bunga Chaeyeon tidak suka”

“Ah, aku lupa bocah tengik itu mantan Chaeyeon. Hehehe”

“Kadang aku bersalah pada yebin”
Gumam yoona.

“Hubungan mereka sudah lama berakhir bahkan sebelum Chaeyeon di jodohkan dengan mu hyung. Jangan terlalu dipikirkan” ujar jungyeon.

“Mobilmu masih di bengkel, kau tadi naik taksi ke gedung word?” tanya yoona sambil memainkan ponselnya.

“Ne. Jadi antar aku pulang” gumam jungyeon. “Hyung?” panggil jungyeon sambil memelankan laju mobilnya.

“Wae?” yoona menoleh dan mengernyit melihat jungyeon menunjuk sesuatu.

“Itu Chaeyeon kan?” seru jungyeon.

“Kau tidak apa-apakan makan siang sendiri. Bawa saja mobilku” ucap yoona. “Hati-hati” ujar yoona sebelum keluar dari mobil.

Jungyeon hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah hyungnya. ” kau benar-benar sedang jatuh cinta hyung. Syukurlah” gumam jungyeon.

***

Chaeyeon kembali mendorong trolinya ke stan daging.

“Sapi atau ayam?” gumamnya. Ponselnya bergetar tapi Chaeyeon malas mengambilnya. “Harusnya sesekali yoong oppa menemaniku
belanja. Jadi aku bisa minta pendapatnya” gumam Chaeyeon.

“Keduanya tak masalah” sebuah suara mengejutkan Chaeyeon.

“Astaga oppa. Kau membuatku terkejut” Chaeyeon mengelus dadanya.

Yoona tertawa. “Mian” gumamnya.

“Kenapa oppa bisa disini?” tanya Chaeyeon.

Yoona tidak menjawab, dia mengambil alih troli ditangan Chaeyeon. “Aku ingin sup ayam” ujarnya.

Chaeyeon melangkah disamping yoona dan ikut membantu suaminya. “Oppa belum makan siang?” tanyanya. “Kalau begitu aku akan memasakannya untuk oppa. Ayo ke kasir” ajak Chaeyeon.

“Apa belanjaanmu selalu sebanyak ini? Bahkan kau membeli banyak buah jeruk” ujar yoona.

“Ini untuk persediaan oppa”

“Tapi kau akan kesulitan membawanya nanti” ujar yoona.

“Aku sudah terbiasa oppa” ujar Chaeyeon.

***

“Oppa tidak membawa mobil?” tanya Chaeyeon.

Yoona tersenyum. “Aku turun dari mobil saat melihat mu masuk ke supermarket.jadi mobilnya di bawa jungyeon” jelas yoona.

“Dasar kau ini” ujarnya meninju lengan yoona.

“Aish. Tenagamu boleh juga” ringis yoona.

“Kita naik bus ya oppa?”

“Taksi saja. Kau tahu aku seperti apa kan?”

Chaeyeon menghela napas pelan,
“Baiklah, ayo?” tangannya terulur hendak mengambil kantong plastik di tangan yoona.

“Sudah aku saja yang membawanya. Maaf ya” ujar yoona.

“Maaf untuk apa?” tanya Chaeyeon.

“Karena kita tidak naik bus” gumam yoona sambil menunduk.

Chaeyeon tersenyum tipis. “Kenapa harus minta maaf oppa. Tidak masalah” ujar Chaeyeon.

“Gomawo” gumam yoona.

***

“Oppa, taruh semuanya disana!” ujar Chaeyeon sambil menunjuk pantri dapur.

Chaeyeon mulai memisahkan barang-barang belanjaan mereka,
“Oppa ganti baju dulu sana, istirahat dulu, aku akan memanggil oppa jika supnya sudah matang”

“Aku tidak perlu bantuan!” seru Chaeyeon saat tahu apa yang akan diucapkan yoona.

“Kenapa aku akan membantumu?” ujar yoona.

Chaeyeon menggeleng sambil mengibas tangannya, “yang ada oppa malah mengacaukannya, tidak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, huh? Saat oppa mencoba membantuku. Aku senang oppa mau membantuku. Tapi akan jau lebih senang jika oppa ke kamar saja istirahat. Oppa baru pulang berkerjakan. Tak apa, aku bisa sendiri”

Yoona mendekat dan memeluk Chaeyeon dari belakang. “Gomawo” gumamnya.

“Jangan menciumku, aku mau memasak” Chaeyeon menahan kepala yoona yang akan menciumnya.

“Kenapa akhir-akhir ini kau pelit sekali” gerutu yoona.

“Hush, aku ingin memasak, jangan ganggu aku” Chaeyeon mengibaskan tangannya lagi.

“Aku bukan anak ayam chae-ya!” protes yoona.

“Eh, aku tidak bilang begitu” ujar Chaeyeon polos.

“Kau tambah gendut ya!”

” oppa!” protes Chaeyeon.

“Kenapa yeoja selalu marah jika dibilang gendut” batin yoona.

***

Yoona menatap langit-langit kamarnya. Masih jelas di ingatan yoona saat makan malam pertemuan keluarga mereka. Wajah terkejut Chaeyeon saat melihat nya sambil memekik kencang menunjuknya.

FLASHBACK

yoona baru saja kembali dari study nya di Amerika. Yoona mengendarai mobilnya sendiri ke sebuah coffeshop di daerah gangnam. Ia segera turun dari mobilnya dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam. Baru saja ia membuka pintu dan menginjakan kakinya di lantai cafe sesuatu membuat yoona terjatuh, Buk! Kejadian itu begitu cepat dan semua mata kini menatap yoona.

“Tuan, anda baik-baik saja?” ucap seseorang. “Tuan, anda baik-baik saja?” tanyanya lagi, sebuah tangan terulur di depannya. “Maaf, pegawai kami terlambat untuk membersihkan lantai hingga membuat anda terjatuh. Maaf atas
ketidak nyamanan anda” yeoja itu membungkuk beberapa kali pada yoona.

“Ada apa?” Somi datang dan berdiri diantara keduanya. “Hyung! Yoona hyung!” tanyanya. “Sebaiknya kita ke ruanganku hyung” ajak Somi. “Khem, hyung ayo!” Somi menarik yoona. “Chaeyeon, tolong bawakan dua coklat hangat dan kue buatanmu yang baru saja matang ke ruanganku” ujar Somi lagi.

Chaeyeon mengangguk. “Ne!”

“Hyung, jangan terus menatap nya seperti itu?” bisik Somi.

“Eh, apa?” gumam yoona dan berjalan beriringan dengan Somi.

“Pegawai ku memang cantik hyung. Tapi jangan sampai membuatnya risih karena pandangan matamu itu” ujar Somi.

“Apa maksudmu? Bicara yang jelas” kesal yoona.

“Tsk. Kapan kau kembali dari Amerika hyung?” tanyanya.

“Tadi pagi, dan aku bosan seharian
di rumah makanya aku kemari. Coffeshop mu bertambah ramai” yoona duduk di sofa.

“Itu berkat ide-ide kreatif Chaeyeon. Aku tidak salah memperkerjakannya. Dia cekatan dan bekerja dengan baik, dia juga mau belajar”

“Apa yang kau maksud yeoja yang tadi?” ucap yoona.

“Namanya jung Chaeyeon. Yebinlah yang mengenalkanku padanya”

“Yebin? Bagaimana kabar anak itu”

“Dia baik saja hyung. Aku akan mengabarinya untuk kemari”

Belum sempat menjawab ketukan pintu membuat yoona menoleh, Chaeyeon datang sambil membawa napan.

“Ini pesananya Somi!” gumamnya.

“Gomawo Chaeyeon noona, oh ya yebin dan teman-temanku akan kemari nanti” ujarnya sambil tersenyum.

Chaeyeon hanya mengangguk dan pamit undur diri. Chaeyeon juga tersenyum pada yoona sebelum pergi.

“Dia sudah pergi hyung!” ujar Somi sambil menatap yoona.

“Siapa tadi namanya!” tanyanya.

“Jung Chaeyeon, kau harus mengingatnya hyung. Seperti nya kau menyukainya”

“Tsk. Yang benar saja, aku masih punya seohyun”

Raut wajah Somi berubah. “Kau belum melupakannya hyung?”

Yoona menghembuskan napas kasar. “Itu alasanku pulang lebih cepat ke korea. Aku ingin mencari keberadaanya” ucap yoona membuat Somi terdiam.

Pertemua pertama yang tidak berkesan memang dan biasa saja.
Tapi hari-hari berikutnya mereka kembali bertemu di tempat yang sama.

“Sudah ku bilang ajak Chaeyeon bicara hyung. Aku tahu kau menyukainya” ujar Somi gemas.

“Siapa yang menyukainya jangan sok tahu” bantah yoona.

“Tsk. Aku tahu alasanmu datang kemari hyung” gumam Somi pelan.

***

Chaeyeon tampak gelisah duduk di jok belakang mobil mewah yang akan membawanya ke keluarga Im.

“Nenek dan kakek melakukan ini untuk mu” ujarnya.

“Gomawo sudah menuruti kemauan kami” ujar kakeknya.

“Tapi mereka akan menerimaku nek? Aku tidak cantik dan berpendidikan tinggi. Nenek bilang putra keluarga Im sangat tampan dan baru pulang dari studynya di luar negeri. Nenek ak-”

“Semua akan baik-baik saja. Siapa bilang kau tidak cantik. Kau cantik dan manis Chaeyeongie” potong nenek Jung.

Chaeyeon menghela napas pelan,
dan terkagum saat mobil yang membawanya masuk ke sebuah rumah bergerbang tinggi. Kedatangan mereka membuat Chaeyeon merasa ia benar-benar berbeda dengan putra keluarga Im.
Keluarga Im menyambutnya dengan suka cita, bahkan nyonya Im tak henti-hentinya memujinya.

“Kau tumbuh dengan baik Chaeyeongie. Masih ingat paman?” tanya tuan Im.

Chaeyeon tersenyum kikuk dan membungkuk.

“Kau benar-benar cantik yoona pasti akan menyukaimu”

“Kita akan punya anggota baru yang manis” ujar nyonya Im.

“Apa aku tidak manis omonim” canda kyulkyung istri nayoung, putra pertama keluarga Im.

image

“Semua menantu keluarga Im sangat cantik dan manis” ujar nyonya Im.

“Oh ya, dimana yoona?” ujar tuan Im.

“Sebentar lagi dia turun. Dia baru pulang dari china tadi” jawab nayoung.

Nyonya im mencibir pelan. “Putra kita baru seminggu lalu kembali, tapi kau sudah memberinya pekerjaan banyak. Dia juga akan menikah, jadi jangan memberi putraku pekerjaan banyak tuan im.
Nayoung juga butuh istirahat, mereka putramu bukan robot peusruhmu” kesal nyonya im.

“Itu sudah tugas mereka untuk membantuku” ujar tuan im.

Nayoung dan kyulkyung hanya menggeleng pelan melihat pertengkarang kecil ayah dan ibu mereka.

“Maaf membuat kalian semua menunggu” ujarnya.

“Aigoo, kau bertambah tampan dari terakhir kali kita bertemu” kata kakek jung.

Yoona tersenyum lembut. “Gomawo kek. Anda juga semakin gagah. Bagaimana kabar anda?”

Kakek jung menepuk pundak yoona. “Kau masih mengingatku dengan baik rupanya”

Yoona mengangguk. “Aku juga merindukan ramen buatan nenek jung” kata yoona.

“Kau bertambah tampan” nenek jung mendekat lalu mengelus pipi yoona.

“Gomawo” ujar yoona dengan senyum manisnya.

“Kau tidak ingin menyapa teman kecilmu sekaligus calon istrimu” ujar nyonya im.

“Im yoona” yoona mendekat dan mengulurkan tangannya.

Chaeyeon sedari tadi hanya diam,
ia terlalu gugup sampai tak memperdulikan sekitarnya. Nyonya im menyentuh bahu Chaeyeon membuat yeoja itu menoleh. Chaeyeon tersadar ia segera menerima uluran tangan yang terulur di depannya.

“Jung Chaeyeon”

“Chaeyeon?” ujar yoona mencoba memastikan.

Chaeyeon mendongak karena merasa mengenali suara itu. “Kau!” tunjuknya. “Kau putra keluarga Im?” pekiknya

Yoona tersenyum. “Ne. Aku Im Yoona”

“Mwo?” pekik Chaeyeon.

“Kalian saling kenal?” tanya tuan Im.

“Ani” kompak keduanya.

Yang lain terkekeh dengan jawaban mereka.

“Wah, sepertinya rencana kita akan berjalan lebih cepat” ujar nyonya im.

“Bagaimana jika pernikahan mereka dipercepat” usul tuan Im.

“Sepertinya itu lebih baik” ujar nayoung.

“Kami terserah Chaeyeongie saja bagaimana baiknya” ujar kakek jung.

Chaeyeon terdiam, ia merasa malu dengan tindakannya barusan.

“Aku tak masalah” jawab yoona.

“Nah, yoona sudah setuju bagaimana denganmu Chaeyeongie?” tanya nyonya Im.

Chaeyeon menggigit bibir bawahnya, ia melirik neneknya. “Ne” jawabnya singkat.

Tatapan mereka bertemu, yoona tersenyum.

“Semoga kau orang yang tuhan kirimkan untuk ku” batin yoona.

FLASHBACK END

Drrt~Drrt

Yoona tersentak saat ponselnya bergetar membuat lamunanya terhenti. Ia segera mengambil ponselnya.

“Yeobseo?” ujarnya.

“Akhirnya kau mengangkat panggilanku. Apa kau sesibuk itu direktur im?” ujar seseorang di seberang.

“Mianhae. Akhir-akhir aku memang banyak pekerjaan” ujar yoona.

“Ya, sekertarismu mengatakannya
padaku saat aku mencoba menghubungimu melalui dirinya.
Kau sudah menerima undangannya”

“Undangan apa?” yoona heran.

“Astaga. Jangan bilang kau belum melihat nya. Aku sudah menitipkannya beberapa hari yang lalu pada sekertarismu”

“Ah maaf” sesal yoona. “Mungkin undangannya tertumpuk dengan berkas-berkasku” gumam yoona.

“Ne, tak masalah, aku tahu kau sangat sibuk. Aku saja sulit menghubungimu. Undangam reuni SMA kita. Seminggu lagi yoong”

“Reuni?” gumam yoona.

“Ne, kau tidak baca grup line kelas
kita dulu, ah direktur im mana sempat membacanya”

“Apa seohyun datang?” gumam yoona.

Hening.

Yoona menghela napas kasar. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.

“Bukankah diantara teman kelas,
kau yang paling dekat denganya. Aku pikir kau lebih tahu” ujar seseorang di seberang.

“Aku tidak tahu yuri hyung” ujar yoona dengan serak. “Dia menghilang begitu saja setelah kita lulus” ujar yoona.

“Aku coba tanyakan pada beberapa teman yeoja sekelas kita” ujar yuri.

“Gomawo” ujar yoona dan menutup panggilan.

Yoona menatap ponselnya, menekan nomor yang sudah di hafalnya. “Yeon bantu aku mencari keberadaan seohyun” ujarnya.

“Hyung!” protes jungyeon.

“Aku mohon, sekali ini saja. Setelahnya aku benar-benar akan melupakannya” ujar yoona.

Jungyeon menghela napas pasrah. “Akan aku usahakan. Lagipula selama ini kau sudah berusaha mencarinya namun nihil
kan hasilnya” ujar jungyeon.

“Gomawo yeon” ujar yoona.

***

Chaeyeon merasa ada yang aneh dengan yoona. “Oppa!”

“…”

“Oppa baik-baik saja!”

Hening, yoona tak menjawab. Membuat Chaeyeon menghela napas pelan. “Oppa baik-baik saja?”

Yoona tersentak dan mencoba tersenyum. “Ah maaf, aku hanya memikirkan beberapa pekerjaan yang belum selesai” ujarnya sambil menunduk.

“Oppa bilang lapar dan ingin sup ayam. Tapi kenapa sekarang makanannya oppa tatap saja. Makanlah oppa, badanmu juga hangat, kau pasti kelelahan, aku akan buatkan tonik nanti” ujar Chaeyeon.

“Maaf?” ujar yoona.

“Untuk!”

“Semuanya, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mu” gumam yoona.

“Oppa kau menangis?” Chaeyeon berdiri dari duduknya dan memeluk yoona.

“Ada apa? Apa seseorang menyakiti oppa?” Chaeyeon juga tak menahan air matanya.

Yoona membalas pelukan Chaeyeon ia menyembunyikan wajahnya di perut Chaeyeon. “Maafkan aku. Mohon maafkan aku” gumam yoona.

“Ne, aku maafkan oppa. Aku mohon jangan seperti ini oppa. Ada apa sebenarnya? Oppa bisa membaginya denganku?” Chaeyeon mengelus rambut suaminya.

Yoona menggeleng. “Aku baik-baik saja” gumamnya dan semakin memeluk erat Chaeyeon.

Chaeyeon mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa jika oppa tidak ingin menceritakannya sekarang. Lebih baik sekarang oppa makan lalu istirahat” ujar Chaeyeon.

***

Chaeyeon merasa aneh dengan suaminya. Sejak kejadian makan siang 3 hari yang lalu, sikap yoona berubah. Yoona bahkan tak pulang ke rumah membuat Chaeyeon khawatir. Chaeyeon juga datang ke kantor, tapi sekretarisnya bilang yoona mengambil cuti selama seminggu. Tentu saja Chaeyeon bingung. Chaeyeon merasa takut menghubungi keluarga Im.

“Sudahlah chae noona. Lebih baik kau istirahat. Kau tida tidur dengan baik 3 hari ini. Lihatlah kantung matamu” ujar dahyun.

“Aku tidak bisa tenang sebelum ada kabar dari yoona oppa” gumam Chaeyeon.

Heehyun dan yebin menghela napas kasar. “Tidurlah chae-ya. Kami yang akan mencari yoona hyung, jika ada kabar kau orang yang pertama yang kami beritahu” ujar Heehyun.

“Ne, ayolah chae-ya. Pikirkan dirimu juga. Wajahmu pucat” ujar yebin.

“Apa sebaiknya kita minta bantuan nayoung hyung. Keluarga Im harus tahu masalah ini” saran dahyun.

“Aku rasa dahyun benar” ujar Heehyun.

Yebin menatap Chaeyeon yang menunduk, hatinya sakit melihat Chaeyeon seperti itu. “Bagaimana
Chaeyeongie?” gumam yebin.

Chaeyeon mendongak matanya berair. ” ne. Apapun yang terbaik”

“Sekarang kau harus istirahat” yebin menuntut Chaeyeon ke kamarnya.

Heehyun dan dahyun saling pandang. “Dia belum bisa melupakan Chaeyeon. Perasaan itu masih ada” gumam Heehyun.

“Aku harap yoona hyung tak mengetahuinya” ujar dahyun.

***

Somi menatap jungyeon. Somi datang pagi-pagi ke apartement sahabatnya itu.

“Katakan padaku?” ujarnya tajam.

Jungyeon menguap lebar. “Hoam, kau bahkan tak membiarkan ku membersihkan diri”

“Kau tahu situasi sekarang kan? Katakan padaku!” kesal Somi.

“Aish. Kau ini, kau tidak tahu apapun. Yoona hyung memintaku hanya membantunya mencari seohyun nuna”

“Sudah ku duga” Somi menghela napas pelan.

“Sabtu ini yoona hyung ada reuni di SMAnya. Sayangnya kita tidak satu sekolah dengannya. Aku juga sudah meminta temanku untuk mencari informasi”

“Busan. Aku rasa yoona hyung kesana” gumam Somi.

Jungyeon mengangguk. “Ya. Mengingat itu kota pebting untuk nya dan seohyun nuna”

“Kita tidak bisa diam saja. Yoona hyung itu bodoh. Jelas-jelas dia sudah punya Chaeyeon untuk apa mencari seseorang yang pergi meninggalkannya tanpa kabar”

“Seohyun nuna cinta pertama yoona hyung”

“Persetan dengan cinta pertama. Tak semua cinta pertama menjadi
cinta sejati kita” ujar Somi. “Jika ada kabar tentang yoona hyung. Hubungi aku. Kau satu-satunya yang tau tentang dirinya. Aku tahu itu, aku menghargai kesetiaan pada yoona hyung. Tapi hyung, apa kau tak kasihan pada Chaeyeon nuna. Bahkan dia sedang hamil sekarang” ujarujar Somi.

“Kau bilang apa?” pekik jungyeon.

“Aku pamit. Jangan lupa kabari aku” ujar Somi sebelum pergi.

“Ya, jeon Somi kau tidak bercandakan?” teriak jungyeon.

***

Yoona kembali ke rumah dengan keadaan tidak cukup baik. Chaeyeon yang melihat yoona kembali langsung berlari memeluknya.

“Oppa” gumamnya dan tangisnya pecah.

Yoona mengelus bahu istrinya. “Aku lelah” ujarnya dan melepaskan pelukan Chaeyeon.

Chaeyeon hanya menatap nanar punggung yoona. Hyundabin yang melihat hanya terdiam dan menata sendu Chaeyeon.

Yebin maju dan memeluk Chaeyeon. “Hyung hanya lelah. Biarkan dia istirahat ya” ujarnya.

Chaeyeon berusaha menahan tangisannya, ia sudah sangat lelah.

“Kau ingin kami menamanimu disini?” tanya dahyun.

“Yoona hyung sudah kembali lebih kita pulang” ujar Heehyun.

“Ne aku baik-baik saja. Yoona oppa sudah pulang. Gomawo. Maaf merepotkan” Chaeyeon membungkuk.

“Astaga!” gumam Heehyun tidak percaya dengan tindakan Chaeyeon.

“Nuna, kau jangan begitu?” ujar dahyun.

“Chaeyeongie tegakkan tubuhmu!” ujar yebin.

Yoona yang mendengar semuanya dari balik pintu kamarnya melengos. Hatinya terasa sakit, yoona merasa bersalah pada Chaeyeon. Chaeyeon mengantar ke 3 namja itu sampai depan rumahnya. Setelah mereka pergi Chaeyeon hanya menatap kosong pintu kamarnya. Chaeyeon tidak mau mengganggu yoona, itu sebabnya ia masuk ke kamar tamu.

***

Hari berlalu begitu cepat, yoona sudah merasa lebih baik sekarang walaupun tidak sepenuhnya. Ia bangun pagi-pagi dan membawa Chaeyeon untuk pergi dengannya.
Sebenarnya Chaeyeon masih mengantuk, tapi ia tidak menolak atau protes saat yoona membawanya pagi-pagi buta.

“Kita jalan-jalan hari ini, aku ingin menebus kesalahanku beberapa hari yang lalu” gumam yoona sambil menyetir.

Setelah hampir 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Pantai incheon.

“Chae-ya bangun! Kita sudah sampai” gumam yoona sambil menepuk pelan pipi Chaeyeon.

Chaeyeon menggeliat dan membuka matanya perlahan. “Emmm, sudah sampai”

Yoona mengangguk lalu keluar dari mobil, ia mengulurkan tangannya pada Chaeyeon.

“Ayo kita melihat matahari terbit”
Gumamnya membuat Chaeyeon tersenyum.

“Ayo!” Chaeyeon memegang tangan yoona.

Sang surya dengan sinar kemerahannya perlahan naik ke atas permukaan bumi.Chaeyeon duduk di samping yoona. Chaeyeon menyandarkan kepalanya di bahu yoona.

“Indah bukan!” gumam yoona.

“Benar-benar indah. Gomawo, audah mengajak ku kesini” gumam Chaeyeon.

“Apa kau lapar?” aku akan membeli roti dan minuman. Maaf aku lupa membawanya” gumam yoona.

Chaeyeon tersenyum. “Tak apa, aku akan menunggu disini”

Yoona mencium kening Chaeyeon. “Aku akan segera kembali” ujarnya.

Chaeyeon kembali menatap sang surya. Chaeyeon meraba perut datarnya, Chaeyeon tersenyum, ucapan mina tempo hari di bus itu.
Ia belum mengatakannya pada yoona, Chaeyeon tidak sabar melihat reaksi yoona. Yoona baru saja keluar dari supermarket saat ponselnya bergetar. Melihat nama yuri di ponselnya.

“Yeobseyo?” yoona menelan ludahnya susah payah.

“Kau dimana. Bisa kita bertemu? Aku sudah menemukannya?” ujar yuri.

“Dimana?” kata yoona.

“Aku dalam perjalanan ke busan sekarang” gumam yuri.

“Tunggu aku!” yoona melempar kantong plastiknya dan berlari ke arah mobilnya.

“Yoong tapi bagaimana dengan istrimu? Kau juga harus memikirkan tentang rumah tangga
mu. Istrimu bisa marah dan salah paham jika kau tidak menjelaskannya” ujar yuri.

Mobil yoona pergi dengan kecepatan cepat. Namja itu lupa ia tidak datang sendirian. Chaeyeon merasa resah yoona tak kunjung kembali. Dengan pelan Chaeyeon mencoba berjalan dan bertanya pada orang-orang apa mereka melihat yoona, tapi hasilnya nihil.
Hati Chaeyeon perih saat ia berdiri di tempat yoona memarkirkan mobilnya. Yoona pergi meninggalkannya sendiri di tempat yang asing untuk nya.

***

Yoona belum sadar ia meninggalkan Chaeyeon sendiri di kota yang asing untuk yeoja itu. Di pikiran yoona hanya ada satu nama, seo joohyun. Yeoja yang yoona rindukan sampai sekarang.
Yeoja itu menghilang tanpa memberi kabar.

FLASHBACK

“Oppa, kita akhiri semuanya sampai disini” ujar yeoja itu.

Yoona mendongak menatap yeojanya. “Wae? Hubungan kita baik-baik saja. Kenapa kau tiba-tiba minta putus. Apa aku punya salah?”

Seohyun menggeleng pelan. “Aku lelah oppa. Lelah dengan hubungan kita”

image

“Apa karena jarak jauh? Kau yang akan kembali ke kampung halamanmu busan dan aku yang akan melanjutkan kuliah ke Amerika. Kita bisa melewatinya seohyun. Kita sudah berjanji” yoona menatap dalam yeojanya.

Seohyun menggeleng, tangisnya pecah. “Aku tak bisa oppa. Mianhae” ujarnya lalu pergi meninggalkan yoona.

Yoona segera mengejar seohyun  sebelum yeoja cantik itu jauh.

“Seohyun”

“Seohyun tunggu”

“Seohyun bisa kita jelaskan. Kita tidak bisa seperti ini!” yoona menarik pergelangan tangan seohyun.

“Lepas oppa, biarkan aku pergi!”

“Seohyun!”

“Lepas! Apa kau tidak dengar huh!” teriak seohyun. “Jangan ganggu aku lagi, kita sudah berakhir dan aku muak denganmu aku tidak mencintaimu. Dengar itu Im yoona aku tidak mencintaimu”
Ujar seohyun.

Flashback End

Sudah 2 jam berlalu menempuh perjalanan. Akhirnya yoona sampai di busan. Yuri sudah menunggunya di tempat biasa. Dari jaih yuri sudah melihat nya.

“Kenapa hyung mengajakku kemari?” tanya yoona saat yuri mengajaknya ke pemakaman kota.

“Karena seohyun disini” gumam yuri.

“Jangan bercanda!” teriak yoona.

“Ikutlah kalau kau tak percaya. Awalnya juga aku tak percaya” ujar yuri.

Kaki yoona bergetar, napasnya tercekat. “Seohyun!” gumamnya.

Yuri yang tadinya berjalan di depan berhenti dan menghampiri yoona. Mata yoona terpejam, ia tidak mau melihat nama di batu nisan di depannya.

“Hiks hiks seohyun!”

Yuri menepuk bahu yoona. “Sudah lama Seohyun menderita kanker hati. Ia tidak memberi tahu bahkan kedua orang tuanya. Hingga ia ditemukan tak sadarkan diri di kamarnya. Setelah beberapa hari dirawat akhirnya seohyun tak
tertolong lagi. Mungkin itu alasan ia mengakhiri hubungan kalian. Tuan seo tugas nya yang berpindah-pindah membuat kita kesulitan mencari seohyun. Dia tidak tinggal di busan. Tapi ia meminta di makamkan di busan”

“Hiks hiks aku belum meminta maaf dengan nya” gumam yoona.

“Menangislah sepuasmu. Aku akan menunggu di mobil” yuri meninggalkan yoona sendiri. Tapi baru beberapa langkah, yoona berlari melewatinya.

“Im yoona? Kau mau kemana!” teriak yuri.

Yoona tidak peduli, ia lari secepat mungkin tanpa buang waktu ia menjalankan mobilnya.

“Bodoh!” umpat yoona sambil memukul kepalanya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan Chaeyeon?

“Bodoh! Bodoh!”

Tadi saat ia menangis di depan makam seohyun, tiba-tiba saja ia mendengar suara Chaeyeon yang merintih memanggilnya.

“Aarrgghhh. Mobil sialan! Cepat sedikit”  maki yoona karena merasa mobilnya berjalan lambat.

“Im Chaeyeon maaf. Kau boleh marah padaku, tapi aku mohon jangan membenciku apalagi meninggalkanku” gumam yoona.
“Semoga kau baik-baik saja” gumamnya lagi.

***

Chaeyeon berjalan sambil menangis, setelah berjalan kesana kemari mencari yoona akhirnya Chaeyeon menyerah. Ia abaikan orang-orang yang menatapnya prihatin juga sinis.

“Eomma, appa, aku takut!” gumam Chaeyeon sambil menatap sekitarnya.

Tidak ada satupun orang yang dikenalnya.

“Nenek! Kakek! Chaeyeon takut!” teriaknya.

“Yoona oppa, aku takut! Hiks hiks”
Chaeyeon menangis sepanjang jalan.

“Aarrgghhh!” teriak Chaeyeon sambil berjongkok.

“Kasihan sekali yeoja itu. Masih muda tapi sudah tidak waras”

“Kasihan ya, cantik-cantik tapi gila”

Bisikan beberapa orang yang lewat, dan melihat keadaan Chaeyeon, mereka merasa prihatin.

“Hiks hiks darah. Chaeyeon takut darah” histeris Chaeyeon saat melihat darah dikakinya.

“Agasshi! Anda baik-baik saja!” seseorang berjongkok di depan Chaeyeon. “Astaga darah!” pekiknya saat melihat darah.

“Hiks hiks..” Chaeyeon hanya bisa menangis.

“Tolong siapapun bantu aku membawa nona ini ke rumah sakit!” seru orang yang menolong Chaeyeon. “Agasshi, kita harus ke rumah sakit!” orang itu menggendong Chaeyeon. Sedangkan Chaeyeon tak sadarkan diri.

TOBE CONTINUE…..

PLEASE KOMEN KALIAN GUYS ITU PENTING SEKALI BUATKU. APAKAH AKU BISA LANJUTKAN FF INI ATAU TIDAK!!!

IT’S LOVE TO YOU

image

Cast :

Jung Chaeyeon DIA

Im Yoona Girls’Generation

Ki HuiHyeon DIA

Kwon Eunchae DIA

Jeon Jungyeong Twice

Genre: NC

Rated: 18+
.
.
.

Chaeyeon Pov

SOPA high School

Pelajaran olahraga

“Hana..dul..set…hana…dul…set…hana..” berkali-kali kata-kata itu terkomat-kamit dimulutku ketika aku tengah melakukan pemasanan di pinggir lapangan ketika pelajaran basket.

“Siap-siap, sebentar lagi tim putri yang bermain” Ahn saengnim melongok ke belakang tempatku dan para murid yeoja lainnya berdiri.

“Nee saengnim~” ujar para yeoja malas.

Aku melanjutkan pemanasan ku lagi.

“Aiisssh HuiHyeon hari ini seksi sekali ~” ujar eunchae temanku yang tengah duduk di sampingku.

Aku melirik eunchae lalu HuiHyeon yang tengah bermain basket dan berlari mengejar bola.

“Kenapa kau memanggil namanya HuiHyeon, bukankah dia lebih tua darimu?” ujarku malas dan tetap melakukan pemanasan.

Eunchae menatapku. ” itu panggilannya jung Chaeyeon, aku lebih suka memanggil namanya dari pada oppa!” eunchae terkagum sendiri. Aku menggeleng-geleng.

“HuiHyeon dan genk nya sama-sama aneh?” ujarku lagi dan eunchae kembali menatapku.

“Aku tahu kenapa kau terlalu mengkritik mereka” eunchae menebak. Aku mengerutkan kening. “Karena YOONG mu itu kan?” nada eunchae sedikit menggoda.

“MWO? YOONG? IM YOONA! Kenapa harus dia!” dengan cepat aku menyemprot eunchae. Aku dan yoong itu musuh bebuyutan. Kebetulan Yoong, HuiHyeon, dan Jungyeong, sekelas dengan aku dan eunchae.

Itulah awal aku dan yoong tak bisa
jadi layaknya teman. Teringat kembali, saat piket kelas aku menyuruh yoong dan dia menolak.
Giliran dia mau malah membuat kelas jadi semakin kotor.

Namja gila’ itulah julukan yang aku berikan untuk nya. Dan dia malah menjuluki ku ‘yeoja iblis’.

“AISH! KAU GILA! JANGAN BAWA-BAWA NAMA DIA DI PEMBICARAAN KITA!” aku menggeleng kencang membuat eunchae tertawa.

“Tak usah mengelak juga, kau akui kan yoong itu tampan dan sexy dengan perut sixpicknya itu” eunchae menunjuk ke arah yoong yang tengah mengelap keringat dengan baju olahraganya dan itu membuat perut abs nya terlihat.

Aku akui yoong itu memang sexy,
dan yoong juga tampan, tapi aku benci dia!

“Ya Chaeyeon, aku akan memberi tahumu” eunchae menggandengkan tangannya dileherku.

Aku menatapnya. “Aku dan HuiHyeon itu berpacaran” bisiknya.

“MWO?” kini reaksiku yang berlebihan.

Eunchae memberi isyarat padaku agar aku tak berisik. Aku duduk dan menghentikan kegiatan pemanasanku.

Menatap eunchae. “Jinjja?” kenapa tak terlihat seperti berpacaran?” aku menatapnya penasaran. Eunchae tersenyum.

“Aku hanya ingin memberi tahumu saja” eunchae nyengir. Aku menjitaknya.

“Dan, kau tahu apa yang kami lakukan semalam?” eunchae menatapku lagi lamat. Aku juga menatapnya penasaran.

“HuiHyeon semalam menginap di rumahku. Dan lalu kami~”

“OK TIM PUTRI MASUK LAPANGAN!” kata-kata Ahn saengnim menghentikan kata-kata eunchae.

Eunchae beranjak begitupun aku.

“Eunchae maksudnya?” aku menatapnya sambil berjalan.

Eunchae tersenyum. “Melakukan seperti” kata-kata eunchae terhenti lagi. Di tiba-tiba mendorong tubuhku kedepan menabrak seorang namja. Yoong!

Yoong menopangku agar langkahku yang kikuk tak membuatku jadi terjatuh. Tangan kekarnya menyentuh pinggangku.

Aku mengelak. “Aih, tak sengaja! Eunchae yang mendorongku!” sergahku cepat dan cepat berlari ke lapangan membiarkan dia yang tampaknya ingin bicara.

Yoong Pov

Dari tempat duduk di pinggir lapangan aku menatap Chaeyeon yang tengah bermain basket. Entah kenapa mataku sedari tadi hanya ingin menatap dia. Tiba-tiba HuiHyeon mengulurkan minuman mineral ke arahku. Aku menolak.

“Apa serunya basket yeoja?” Jungyeong berujar seakan menyindirku, yang benar-benar serius melihat permainan basket yeoja, aku melirik ke arah Jungyeong.

“Mereka kelihatan sexy saja! Tidak
dilarangkan untuk mencuci mata!” balasku. Jungyeong tertawa mendengar jawabanku begitupun HuiHyeon.

“Jangan melihat eunchae” HuiHyeon mengantisipasiku, kini gantian aku yang tertawa.

“Itu tak mungkin HuiHyeon, yoong hanya melirik Chaeyeon” ucap Jungyeong yang sukses membuatku tersentak dan menoleh.

“Ani!” sontakku cepat. Jungyeong berpura-pura terpukau melihat ekspresiku dan diikuti tawa HuiHyeon.

Aku mati-matian menetralkan diriku lagi. Apa ini? Kenapa jantungku dari tadi berdetak terus.

Selesai pelajaran olahraga.

Chaeyeon Pov

Aku berjalan ke arah wastafel di taman belakang yang tersedia. Omelan keluar dari mulutku, dari tadi aku tak melihat eunchae, padahal aku sangat ingin bertanya
padanya lagi dan perihal dia mendorongku ke arah yoong. Tiba-tiba langkahku terhenti tepat di depan gudang depan wastafel yang sedikit tertutup. Saat aku mendengat suara desahan yeoja. Aku menatap ke arah gudang. Memberanikan diri untuk mengintip.

Mataku membulat saat aku lihat eunchae dan HuiHyeon yang saling menautkan bibir mereka dengan posisi yang intim. Aku menutup mulutku sendiri dengan tanganku terlalu takut menciptakan suara yang dapat membuat mereka tahu keberadaanku. Tiba-tiba sebuah tangan menarik sambil menutup mulutku juga. Siapa? Dia menyeretku jauh hingga di tempat sepi. Hingga akhirnya dia melepasnya. Aku menoleh dan terbelalak saat tahu itu yoong!

“Yoong! Apa maksudmu menariku?” hardik ku kesal.

“Dilarang mengintip orang yang tengah bercinta!” balasnya yang sukses membuatku tak bisa menjawab.

Aku membuang mukaku, malu karena kepergok mengintip hal tak yang pantas dilihat.

“A-aku tak sengaja melihat nya. Akupun malu sendiri melihat nya” belaku. Yoong tak mengeluarkan ekspresi apa-apa, mata rusanya tetap melihat ku.

Aku tak berani menatap matanya yang indah itu. Hal bodoh, tiba-tiba aku melihat bibirnya yang tampak seksi dan tubuh profesionalnya. Baru aku sadar kesempurnaan seorang yoong yang dulu tak aku ketahui. Tapi apa yang aku pikirkan? Tetap saja aku membencinya! Aku beranjak pergi meninggalkannya. Tapi tiba-tiba tangannya menahanku dan mendorongku ke tembok, menghimpitku dengan tangan kekarnya.

“Y-yoonie apa yang akan kau lakukan? Aku bisa berteriak jika kau mencoba macam-macam?” ujarku takut seraya menaruh kedua tanganku didada untuk menutupinya.

“Disini tak ada polisi, bahkan orang-orang. Yang ada hanya aku dan kau” ucapnya pelan dengan suara yang seksi.

“L-lalu?” tenggerokanku tercekat atas perbuatan bodohnya ini.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat yoong menyambar bibirku dengan bibirnya. Dia memainkan bibirnya dengan bergairah. Membuatku yang tadinya mengelak malah ikut terbuai. Perlahan ku pejamkan mataku menikmati ciuman yoong yang bergairah. Dalam hatiku bertanya, mengapa yoong menciumku? Bibir yoong berhenti melumat bibirku, sekarang dia mencium kupingku membuatku merinding.

“Aku sebenarnya mencintaimu” bisiknya dengan desahan, aku terdiam. Mataku terbuka.

Yoong hendak mencium bibirku lagi, namun aku mendorongnya pelan. Dia menatapku.

“Mianhae, ini terlalu terburu-buru” ucapku tertunduk.

Tak berani menatap yoong, tiba-tiba yoong memeluk ku membuatku kembali terkejut, dia mengelus rambutku.

“Bisa kau pikirkan lagi?” ujar yoong. Aku diam, lalu mengangguk mantap.

Yoong memelukku sangat erat, tangannya melingkar dipinggangku. Aku bisa merasakan wangi badannya yang jantan. Jantungku berdebar hebat.
Kemaluanku mengernyit. Badanku bergetar seperti menahan rasa nafsu yang terus membahan dalam diriku. Yoong membuatku begini. Seperti tahu perasaanku, tiba-tiba yoong melumat bibirku lagi seperti tak takut aku mendorongnya. Namun kali ini aku tak mengelak. Aku malah membalas lumatan bibirnya dan melingkarkan tanganku dilehernya. Kami saling membalas lumatan dengan panas. Dan membuat yoong membaringkanku. Dia mencium leherku, membuat kissmark.

Membuat desahan kecil keluar dari mulutku. Tangan yoong juga memainkan pinggangku dan mulai nakal menyingkap rokku, aku menatap sekeliling. Apa aku dan yoong akan melakukan di tempat seperti ini? Di gudang belakang yang sepi? Yoong terus menciumi ku dengan bergairah. Dia seperti harimau yang bengis yang tengah memangsa santapannya. Dia kini berusaha membuka seragamku, membuka setiap kancing aku menutup mataku takut, dan mencapai klimaks saat yoong mencium buah dadaku dengan leboh bergairah, napasku tersenggal.

Dia kini melepas seragamnya, dengan buas yoong mencium buah dadaku lagi, melumat bibirku dan meremas dadaku dengan tangannya.

“Yoong… Sakit..” rintihku menutup mata.

Seperti tak peduli yoong mulai  menyingkap rokku dan melepaskan CD yang kupakai dengan paksa. Aku beranjak dan mendorongnya.

“Ani yoong, sepertinya aku tak bisa lebih lanjut lagi” ucapku bergetar.

Yoong menatap ku, dan tiba-tiba dia memeluku lagi. Membuat aku bisa merasakan sentuhan kulitnya yang lembut. Yoong melumat bibirku lagi, dia melepasnya lagi dan menatapku.

“Kau akan suka saat-saat seperti ini, percayalah” ucapnya mengelus kepalaku.

Aku menelan ludah, yoong dengan cepat menidurkanku lagi di aspal gudang belakang yang keras. Menyingkap rokku lagi dan memperlihatkan miss v ku yang tak terbalut CD. Yoong menjilat miss v ku dengan erotis, membuatku semakin mendesah hebat.

“Yoong.. Aaahh…aahhhghh” aku memejamkan mataku menahan kenikmatan saat lidahnya dapay kurasakan miss v ku.

Yoong menghentikan aksi jilatannya dan kembali melumat bibirku. Aku mengira hubungan intim hanya sampai disini saja. Namun aku tersentak saat sesuatu masuk dengan cepat ke miss v ku. “Sakiit!” jeritku kecil mencakar punggung yoong. Yoong
tertawa kecil dan mencium leherku.

“Ini juniorku chagi~” ucapnya. Aku menatapnya dengan air mata. Sedikit menahan sakit.

“Sakiit. Apakah memang sakit jika melakukan hal ini?” tanyaku dengan polos.

“Anii~” jawab yoong cepat. Aku mencerna kata-katanya, apa baginya ini nikmat?

Tiba-tiba yoong memaju mundurkan bokongnya. Hingga kurasakan sensasi kenikmatan. Yoong pun juga menikmatinya. Hingga bibir kami bertaut lagi dengan tetap diikuti desahan.

Author Pov

Eunchae terdiam saat sedari tadi HuiHyeon yang bergoyang di miss v nya. Tak ada desahan sama sekali dimulutnya seperti yang tadi.

“Chagi, waeyo? Sudah tak nikmat lagi?” HuiHyeon berbisik. Eunchae sadar dan tertawa.

“Ani, aku suka. Tapi aku seperti mendengar suara desahan lain selain kita”

END

Coment kalian guys

Sangat penting buatku…

ONESHOOT HOT TEST POOL

image

Cast: Im Yoona a.k.a Yoona Snsd

Jung Chaeyeon DIA

Zhou Tzuyu Twice

Minatozaki Sana Twice

Genre: NC 17+
.
.
.

Chaeyeon Pov

“HUAAAAAAAAAAAAAAAA! kolam berenang!!” teriak ku histeris menuju ke arah kolam berenang yang menantiku.

Hari ini aku dan temanku tzuyu tengah pergi berenang untuk mengambil nilai. Awalnya aku tak mau pergi berenang, tapi tzuyu memaksaku karena masalah nilai.
Aku yang tak bisa berenang dan guru yang masih belum jelas siapa yang akan mengetes kami membuatku semakin malas. Tapi karena aku masih memikirkan nilai akupun mau menerima ajakan tzuyu. Sekarang malah aku yang excited ingin menyebur ke kolam.

Tzuyu menatapku yang tengah menyebur saja tanpa berenang di tepi kolam, dia menggelengka kepalanya.

“Jangan membuat aku malu! Kau mau menyebur begitu saja? Coba lihat anak SD itu! Berenangnya sangat lancar!” tunjuk tzuyu yang langsung membuatku berdecak kesal.

“Aku kan gak bisa berenang! Kalau kau mau membuatku tak memalukanmu kau ajari aku berenang! Palli!” sahutku sok, tzuyu berdecak dan melipat tangannya.

“Tunggu saja sampai gurunya datang, biar dia yang mengajarimu! Mana aku bisa mengajarimu! Wueek!” ledek tzuyu.

Aku menatapnya kesal dan menyipratkan air kolam ke arahnya membuat dia tersentak.

“Ya! Apa yang kau lakukan!” tzuyu balik menyipratku tapi aku malah tertawa, bagaimana tidak? Jika dia menyipratku dengan air yang sedang di kolam itukan malah semakin membuatku senang, sudah basaha malah basah.

“Hentikan main-mainnya! Ya!” tiba-tiba suara menyahut dari belakang. Aku dan tzuyu menoleh ke arah suara itu dan tampak Im saengnim menatap kami dengan tatapan seramnya. Kami menghentikan kegiatan main-main kami dan aku cepat naik ke tepi kolam dengan sigap. Im seangnim berdecak dan menaruh kertas datanya di depan meja kolam.

“Dasar anak yeoja pemalas, ujian sudah dari kapan tahu kalian baru ikut sekarang” ucap im seangnim berdecak. Kami hanya menunduk takut. Im seangnim memang seram dan galak.

“Tapi hari ini aku tidak mendata kalian, yang mendata kalian adalah anakku dan temannya” ucap im seangnim membuat aku dan tzuyu terkejut.

Dan saat aku mendongakan kepalaku lagi aku melihat dua sosok namja bertelanjang dada hanya memakai boxer hitam besar. Satu namja bermuka tampan dan bermata rusa dan satunya lagi namja berwajah cantik. Mereka tersenyum kearahku dan tzuyu. Aku dan tzuyu membalas senyum mereka.

“Berterima kasihlah padaku karena kalian terbebas ujian kejam dariku” Im saengnim menatap kami dengan tatapan seramnya.

“Ujian berenang saja disebut seram, kalau matematika baru seram…” bisik tzuyu kepadaku. Im seangnim berdehem membuat tzuyu langsung diam.

“Ok, yoona, Sana, kalian urus dua
Balakaciput ini! Beri mereka ujian yang kejam! Jangan kecewakan aku!” im seangnim menepuk pundak namja rusa itu. Namja rusa itu mengangguk tersenyum.

Im seangnim pun berlalu meninggalkan aku dan tzuyu bersama 2 namja itu.

“Ok! Kenalkan! Namaku yoona! Im yoona! Aku anak dari Im seangnim” namja rusa itu tersenyum. Aku dan tzuyu saling pandang.

“Tidak mirip, masa appanya seram anaknya tampan?” bisik tzuyu lagi, aku menyikut tzuyu untuk diam.

“Aku Minatozaki Sana, panggil saja Sana!” ucap namja cantik itu, dia tersenyum.

“Kalian siapa!” Sana menatap kami satu persatu.

“Zhou tzuyu!” tzuyu menjawab duluan. ” kalau ini temanku chae-chae” tzuyu menepuk pundaku. Aku melotot.

“MWO! CHAE-CHAE DARI MANA! AKU CHAEYEON! JUNG CHAEYEON” sewotku seraya menoyol kepala tzuyu. Tzuyu hanya menyengir. Aku mendengus kesal.

Yoona dan Sana tersenyum menatap kami.

“Ne, sudah-sudah. Jadi begini sesi tes berenangnya. Aku yang akan mengetes Chaeyeon dan Sana yang akan mengetes tzuyu. Kalian akan dites dari berenang, pernapasan sampai gerak tubuh” ucap yoona menatap Sana dan disambut anggukan Sana. Aku terdiam.

“Tunggu, tapi aku tidak bisa berenang” ucapku malu. Yoona menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki membuatku malu.

“Jinjja?” dia menatapku lekat, aku mengangguk malu. Sangat malu. Anehkan dia jika tahu seorang siswi kelas 2 SMA tidak bisa berenang. “Arraseo! Aku akan mengajarimu berenang juga. Ayo cepat pemanasan!” ucapnya dan menepuk tangannya tanda dimulai.

Aku dan tzuyu cepat-cepat melakukan pemanasan dengan malas-malasan. Aku melirik ke arah Sana, aku mengernyit saat melihat Sana terus tersenyum ke arah tzuyu. Aku menatap tzuyu, dia tampak tidak sadar dan terus melakukan pemanasan dengan gaya malas.

“Ani tzuyu-ssi.. Bukan begitu cara pemanasannya” Sana berjalan ke arah tzuyu dan mengajari dia dari belakang tubuhnya. Dia mengajari tzuyu cara memainkan tangannya dan akhirnya mereka malah seperti pasangan yang saling berpelukan mesra dari belakang. Bodohnya tzuyu mau saja dilakukan hal itu, dia malah tersenyum ke arah Sana. Aku bergidik melihat pemandangan itu dan melanjutkan pemanasanku.

Aku melirik ke arah yoona, jantungku berdebar saat melihat yoona yang tengah menatapku sambil memainkan bibir tipisnya dengan jemarinya. Tatapannya sangat menggodaku, aku membuang mukaku. Melihat sekeliling tempat, aku mulai sadar di area kolam berenang ini tak ada siapa-siapa lagi selain kami berempat.

“Ok! Pemanasan selesai! Chaeyeon-ssi, tzuyu-ssi cepat kalian menyebur! Kita mulai ujiannya!” perintah yoona menyalakan peluitnya.

Aku cepat-cepat menyebur ke kolam dan menenggelamkan diriku. Menghilangkan perasaan berdebarku pada yoona. Aku kembali menaikan mukaku ke dasar kolam. Aku sadar tzuyu belum menyebur.

“Tzuyu?” panggilku bingung. Saat aku mengedarkan pandanganku. Mataku terbelalak melihat Sana yang masih memeluk tzuyu dari belakang. Dia tampak membisikan sesuatu kepada tzuyu dengan mesra, tzuyu hanya tersenyum seperti menjawab bisikan Sana, aku melongo melihat aksi mereka.
Maksudnya mereka sekarang berpacaran karena saling suka? Lucu sekali, itukan terlalu cepat. Kutatap yoona, dia juga menatap tzuyu dan Sana. Tak lama dia juga tertawa pelan sambil membuang tatapannya dan mulai menatapku. Aku menunduk.

“Kita serius saja ya Chaeyeon, biarkan tzuyu dan Sana mulai bermain-main dulu?” ucap yoona mulai melirik kertas data. Aku menghela napas lega. Untunglah yoona tidak berperilaku seperti Sana juga.

Tiba-tiba yoona ikut menyebur ke kolam dan berenang ke arahku, aku mengerutkan kening. Bukannya hanya pekerjaan mengetes berenangku? Diakan bisa tetap mengetesnya di atas tepi kolam seperti im seangnim.

GREP!

Tiba-tiba yoona memeluk tubuhku dan menarikku menyelam ke dalam air. Aku terkejut melihat aksinya. Akupun merasakan bibirku dilumat oleh bibirnya di dalam air. Dia memain mainkan bibirku dengan ganas. Membuatku sedikit ingin mengikuti permainanya. Namun tiba-tiba aku tersadar dan mencoba mengelak dari kuluman bibirnya. Dia menyerah dan melepas pelukan dan kulumannya. Membiarkanku menaikan wajah ke atas dasar kolam, aku mengatur napasku yang tadi sempat tertahan.

Apa yang dia lakukan? Apa yang dia lakukan? Pikirku bingung. Aku menatap yoona dan tampak dia menatapku dengan tersenyum menggoda. Dia menjilat bibirnya yang terbalur air kolam.

“Apa yang kau lakukan huh?” ucapku bergetar. Setengah takut atas tingkahnya.

“Ini yang kubilang serius” ucapnya sambil perlahan mendekat ke arahku. Aku mundur takut, menggelengkan kepalaku. “Aku tertarik padamu jung Chaeyeon. Kau membuat hatiku terjatuh. Serius” ucapnya pelan dengan nada yang sengaja ia seksikan.

Aku menelan ludahku. Hingga tiba-tiba langkahku terhenti. Aku menoleh kebelakang. Aku telah sampai ke tepi kolam. Yoona tersenyum, dia menghimpitku dengan tangannya. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Tangannya perlahan mengelus wajahku pelan.

“Kau cantik” ucapnya sedikit mendesah.

Perlahan jemari yoona mengelus leherku, hingga sampai ke dadaku. Dia memainkan nippleku, aku mendesah pelan. Tiba-tiba dia mencium bibirku lagi dan melumatnya dengan ganas. Sangat dalam dan membuatku terlena. Entah kenapa aku mulai melingkarkan tanganku kelehernya dan ikut memainkan bibirnya. Yoona yang sadar tingkahku yang mengijinkan dia mencumbu ku mulai memainkan jarinya menyentuh bokongku yang terbalut baju renang.

Dia semakin ganas memainkan bibirku akupun juga semakin ganas membalas lumatan bibirnya meski akhirnya aku selalu kalah panas dari lumatannya. Tiba-tiba aku tersadar sesuatu saat aku mulai mengeluarkan cairan dari miss v ku. Aku melepas ciuman yoona dan cepat beranjak ke atas tepi kolam. Yoona mengerutkan kening melihat tingkahku.

“Waeyo? Bukannya tadi kau menerimanya?” tanya yoona sedikit kesal.

Aku menggeleng. “Ani, kata eommaku jika kita melakukan hal yang romantis dikolam dan mengeluarkan cairan. Cairan itu akan tersebar ke kolam dan mengenai langsung tepat ke miss v ku. Aku takut..” ucapku polos.

Yoona mendengar ucapanku dengan malas. Dia tersenyum simpul dan naik ke atas tepi kolam
sepertiku. Dia menindih tubuhku hingga abs nya menyentuh perutku.

“Ucapan bodoh. Sekarang pun aku akan memasukan miss v mu” ucapnya membuatku langsung terbelalak.

“Apa maks..” kata-kataku terhenti saat yoona melumat bibirku lagi. Dia memainkan bibirku lagi membuatku kesulitan bernapas. Ciumannya kini benar-benar sangat dahsyat dari yang tadi, akupun benar-benar kembali terlarut dalam permainan bibirnya dan membalas lumatan ganasnya. Tiba-tiba yoona menggendong tubuhku dan membantuku menyebur ke kolam lagi membuatku sedikit bingung. Yoona mulai melumatku lagi di dalam air. Dia memainkan lidahnya, tangannya dengan nakal
mengelus bokongku dan meremas
Dadaku.

Aku mendesah di dalam air. Dia mengajaku keluar dari dalam air dan mulai menciumku di dasar air.
Lumatannya begitu panjang tanpa berhenti, yoona sedikit bergerak dan tak memelukku, namun bibirnya tetap aktif melumatku dan mulai berpindah ke leherku untuk membuat sebuah kissmark. Aku mendesah menahan geli bibirnya yang menghisap leherku.

“Yoona aaahhh ahng..” desahku meremas rambut cokelatnya.

Dia semakin ganas menghisap leherku dan berpindah ke dadaku, dengan paksa dia melepas baju renangku. Aku sadar kelakuannya sudah mulai bahaya. Aku menahan lajunya yang mulai melepas baju renangku.

“Oppa, aniii aaahh~” tahanku lemah. Dia sadar kelemahanku dan mulai menghisap bibirku lagi. Seraya perlahan dia mulai membuka bajuku hingga benar-benar terlepas dari tubuhku. Aku melihat sekitar dengan desahan, takut ada seseorang yang melihat,
aku mendesah lega saat tak ada orang, sedangkan tzuyu dan Sana juga tak ada, aku tak tahu dimana mereka sekarang. Apa mereka juga melakukan hal yang sama dengan ku?

Yoona mengajakku ke kolam yang lebih cetek membuatku dapat sekedar duduk sambil tetap menikmati aksinya. Dia menciumi dadaku, menghisap nippleku sambil meremas dengan kencang.
Aku mendesah kencang semakin membuatnya bernafsu. Dia menenggelamkan kepalanya ke kolam yang tak lain juga ke arah miss v ku. Dia mulai menciumi miss v ku dengan irotis. Desahan nikmat keluar dari mulutku saat kurasakan bibir dinginnya menyentuh miss v ku. aku meremas rambutnya dengan kencang.

“Ooohhh..ahhhha….oppa…ahhhnngg” desahku menyalurkan kenikmatan. Yoona mengangkat wajahnya dari dalam kolam dan mulai menciumi dadaku lagi, tangannya kembali aktif meremas dadaku.

“Aku masukan yah” ucapnya mendesah. Aku ikut mendesah, aku sebenarnya takut, tapi aku tak bisa menahan rasa inginku, akupun mengangguk pelan, yoona tersenyum, dia mencium bibirku lembut.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang memasuki miss v ku.

“Aaargghh” aku berteriak kecil menahan ngilu. Yoona pun menggigit bibirnya menahan ngilu juga. Hingga akhirnya juniornya masuk ke miss v ku. Aku dan dia menghela napas bersamaan.

Yoona menatapku dan melumat bibirku lagi, bibirnya berpindah ketelingaku. “Sarangheyo~” ucapnya pelan. Aku tersenyum dan memeluk tubuhnya agar kembali merapat pada tubuhku.
Dia pun mulai menggoyang-goyangkan bokongnya. Membuat sensasi kenikmatan. Aku mendesah kencang begitupun dengan dia.

Dia semakin kencang memaju mundurkan bokongnya di dalam air. Bibirnya pun mulai aktif melumat bibirku. Tangannya meremas dadaku kencang.

****

Aku beranjak keluar dari kolam setelah selesai, kembali memakai baju renang bersama dengan yoona yang memeluku dari belakang dan mencium leherku. Tiba-tiba tampak tzuyu dan Sana dengan pakaian lengkap menuju kearah kami. Yoona cepat-cepat melepaskan pelukannya dan berusaha bersikap biasa. Aku mengerutkan kening melihat mereka berdua yang tidak basah.

“Mian yah kalian tadi ujian dulu. Aku sama Sana tadi habis dari Mcd” ucap tzuyu seraya nyengir. Aku mengerutkan kening.

“Apa kalian tidak bercinta?” tanyaku pelan.

Tzuyu mengerutkan keningnya. “Bercinta? Bercinta apa? Aku dan Sana memang baru berpacaran tadi, bukan berarti aku dan dia langsung bercintakan?” ucap tzuyu merangkul Sana dan disambut senyuman oleh Sana.

Aku terdiam terpaku…

END…

KUMOHON COMENT KALIAN RIDERS….

ONESHOOT GHOST OF CAMERA

image

Cast: Zhou Tzuyu Twice

Minatozaki Sana Twice

Im Yoona Girls’Generation

Ahn Eunjin DIA (II)

Heo Eunice DIA (II)

Ki Hui hyeon DIA (II)

Genre: Horror, Romance, NC +17

@Februari2013

” YYA TZUYU PPALLI…!!” teriak seorang murid pada murid yeoja bernama tzuyu itu yang dari tadi tengah mengatur timer otomatis camera dengan malas, dari wajahnya ia terlihat tidak suka dengan apapun yang dinamai dengan camera, tapi apa boleh buat ini adalah tahun terakhir ia berada di kelas satu dan tentu ia harus membuat kenang-kenangan dengan teman-temannya itu sebelum ia benar-benar menginjakkan kakinya di kelas 2 nanti.

“5 detik saja..” ujar tzuyu dengan teriakan malas kemudian langsung berlari ketempat teman-temannya itu.

Kilatan kamera menandakan jika foto itu sudah diambil, teman tzuyu langsung berlari menuju kamera itu untuk melihat hasil jepretan tadi. Terlihat dari raut wajahnya murid itu tanpa tidak suka dengan hasil jepretan yang diatur oleh tzuyu.

“YYA! GADIS SIALAN? Kenapa kau hanya mengambil bagian kaki eoh?” teriak murid yeoja itu tidak terima.

“Mianh..kubilang aku tidak suka kamera” ucap tzuyu datar sambil mengangkat tangannya.

“Kali ini 10 detik..” ucap murid itu kemudian mengatur posisi berfotonya.

Setelah foto itu diambil tzuyu benar-benar kesal dan segera pergi dari tempat itu, berbeda dengan teman-temannya, mereka ingin melihat foto yang tadi.

“YYA EUNICE!! KAU SAMA SAJA DENGAN TZUYU, BAHKAN TIDAK ADA SATUPUN DARI KITA DI FOTO INI…!!” teriak salah satu murid yang lainnya. Eunice hanya mendesah kesal dengan wajah bingunnya.

Mereka kembali berfoto bersama.

“Biar aku yang foto kalian..” ucap tzuyu dengan teriakan malas sambil berjalan ke arah eunice dan mengambil kameranya itu. “Hingga hitungan ketiga dan satu jepretan, jika tidak aku akan melempar kamera ini..” ucap tzuyu sambil mengangkat kamera itu.

“Yya tzuyu, kamera itu lebih mahal dari yang kau kira..”

“Aku bisa menggantinya dengan uang ku..” balas tzuyu dengan tatapan yang menusuk pada eunice.

“Hana…dul…yya dimana tombolnya?” tanya tzuyu polos. Semua murid benar-benar kesal dengan tzuyu sekarang, eunice pun dengan sabar berjalan kearah tzuyu lalu menunjukan bagian-bagian kamera itu.

“Hana…dul…set..sudah kan..” ucap tzuyu sambil tersenyum paksa.

“Satu lagi..jebbal” rengek eunice pada tzuyu. Tzuyu hanya menatap temannya itu dengan kesal.

“Baiklah…” jawab tzuyu malas.

“Hana..” semua murid langsung mengatur posenya. “Dul..” semua murid menampilkan senyumnya membuat tzuyu menghela nafas pendek. “Se…” sosok yang menyeramkan dengan rambut hitam kusam serta mata kemerahan itu terlihat dari lensa kamera membuat tzuyu dengan sigap membanting kamera itu. Wajahnya memucat seketika.

“Seharusnya dari tadi aku sadar bahwa kau tidak pernah bermain dengan kata-katamu..” ucap eunice dengan kesal sambil memunguti kamera nya.

Sementara itu tzuyu masih terduduk shock dengan apa yang ia lihat barusan. Hal itu membuatnya semakin benci dengan apapun yang disebut dengan ‘kamera’

@May2014

Ini adalah bulan ke-3 tzuyu dan teman-temannya di kelas 12. Tzuyu adalah seorang murid yang berprestasi dalam renang, prestasi tertingginya adalah peraih mendalik perak tingkat nasional. Tzuyu pernah mendapatkan peluang untuk meraih mendali emas, namun suatu hal yang paling tak terduga olehnya terjadi membuatnya gugur di tengah jalan dalam pertandingan.

Hari itu tepat disaat Eunjin temannya menghilang bagaikan ditelan bumi. Semua murid SOPA sudah mengkonfirmasi jika  Eunjin sudah meninggal dan disaat itu jugalah yoona mulai berubah padanya.

Ya, karena perasaan yoona pada Eunjin bukan lagi sebagai teman ataupun sahabat tetapi sudah berubah menjadi rasa suka yang mendalam, hingga ia benar-benar tidak sadar dengan apapun yang ia perbuat. Ia tidal pernah menganggap tzuyu itu ada, tidak ada nama tzuyu lagi dalam hidupnya, yang ia pikirkan hanyalah, dimana Eunjin?

Semenjak saat itu pula ia memutuskan untuk berhenti menjadi seorang atlit walaupun disetiap jam ekskul ia selalu menghabiskan waktunya di kolam renang, ketika jam ekskul renang sudah berakhir.

“Baiklah…disini adalah seorang mantan camera girl yang sekarang membenci camera..” ucap eunice yang sedang merekam suasana kelas dengan cameranya, ia bahkan menzoom kamera itu tepat dimata tzuyu. Tzuyu sangat kesal sehingga ia keluar dari kelas. Yoona yang melihat kekesalan tzuyu pada kamera hanya tersenyum sinis, berbeda dengan Sana yang menghela nafas berat terhadap perubahan tzuyu pada sebuah kamera.

“Kurasa dia tidak suka kamera karena hal itu mengingatkannya pada Eunjin pacarnya..”  ucap salah satu murid namja pada Eunice yang berada di belakangnya.

“Bisa kau ulangi lagi? Apa pendapatmu tentang tzuyu yang sekarang menjadi hater kamera Ki HiuHyeon-ssi?” tanya eunice dengan suara sok jurnalisnya itu pada murid bernama HiuHyeon.

“KARENAA..Eunjin adalah seorang camera girl..” ucap HiuHyeon dengan pose anehnya.

“Bisa kalian hentikan?” ucap Yoona yang segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar kelas setelah menendang mejanya.

Eunice menatap kepergian Yoona dengan kesal, ia menyumpahi yoona dengan sumpah serapahnya.

“Bagaimana perasaan kalian jika seseorang mengungkit tentang kematian temannya, dan hal itu kalian jadikan bahan candaan..” ucap Sana pada eunice dan HiuHyeon. “Juga berhenti mengganggu tzuyu dengan kamera mu, kamera mu itu mengingatkan ia dengan Eunjin. Apa kalian bisa menghentikan itu..”ucap Sana pada eunice dengan tatapan sinisnya.

“Apa Sana berbicara padaku? Yya..ini pertama kalinya..” ujar eunice tidak percaya.

***

Di sebuah halte tempat pemberhentian bus, terlihatlah tzuyu yang sedang duduk sambil menyenderkan kepalanya di tepi halte.

Tidak jauh dari sana terlihat seorang murid namja di seberang jalan sedang memfoto tzuyu yang tengah tertidur, ia tersenyum geli melihat hasil jepretannya. Namja itu segera menyeberangi jalan dan duduk di samping tzuyu. Namja itu mengangkat kamera untuk mengambil foto tzuyu yang terlihat sangat lucu dan dia tertawa. Tzuyu terlihat sangat terkejut dengan namja yang berada di sampingnya.

“Sana..apa yang kau lakukan?” tanya tzuyu heran.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan?” tanya Sana dengan wajah sok dinginnya.

“Mwo?” tanya tzuyu dengan heran.

“Kau tertidur dari tadi, bus ku sudah berlalu hanya karena mu..”

“Bukankah kau punya motor?”

“Kau tau aku punya motor?”

“Lupakan..” jawab tzuyu dengan malas kemudian beranjak dari tempat duduknya, karena bus yang ia tunggu sudah berhenti, Sana hanya tersenyum geli dengan tzuyu.

Sana sampai di rumahnya, ia hanya menyapa eommanya yang berada di dapur tengah membereskan sisa makan malam.

Dinding itu terlihat banyak sekali foto yang tertempel dan tergantung dengan berbagai ukuran, dikamar itu hanya dipenuhi wajah yeoja yang ia cintai, tzuyu.

***

Di kamar mandi, terlihat tzuyu tengah berendam di bath-up sambil mendengarkan music dengan cukup kencang berputar di ponselnya yang  terletak di atas wastafel.

Ia mengikat rambut hitam panjangnya dengan tinggi tidak mau membasahi rambutnya.

Di balik kesempurnaanya itu, ia tidak pernah sekalipun merasakan apa itu cinta. Karena menurutnya orang yang mencintainya tengah berada disekitarnya untuk mengawasinya.

Tzuyu benar-benar berubah menjadi yeoja nakal semenjak Eunjin sudah tidak ada lagi dikehidupannya.

“Tzuyu-ah kau tidak makan?” tanya ibunya yang berteriak dari luar kamar mandi.

“Aku tidak makan dimalam hari eomma..” jawab tzuyu malas.

“Kalau begitu segera selesaikan kegiatan berendammu dan TIDUR..!!”

“Neee..!!” jawab tzuyu lagi dengan malas sambil menyingkirkan busa-busa yang berada disekitar kakinya.

3 helai rambut hitam yang cukup panjang tertempel di kakinya, tzuyu merasa heran dengan rambut itu karena ia tidak membasahi rambutnya.

“Apa ini rambut terpanjang yang ku punya?” gumam tzuyu heran hingga ia melepaskan ikatan rambutnya dan menyelamkan kepalanya ke dalam bath-up.

Ketika ia membuka matanya di dalam bath-up, ia melihat sesuatu yang berwarna hitam kelam di sekitar kakinya.

Sosok itu tiba-tiba membuka matanya. Matanya terlihat memerah kelam seperti darah dan air di bath up itu juga berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Tzuyu terlihat panic dan hendak keluar dari bath up, tapi tubuhnya seakan ditahan hingga nafasnya benar-benar habis dan tidak bisa keluar, ia merasakan sosok itu juga menahan kakinya dengan kuat.

“Tzuyu gwaenchana?” tepat teriakan ibunya saat itu juga tzuyu terlempar dari bath up. Ia segera mengambil handuk dan menutupi tubuhnya. Ia terlihat mengambil nafas dengan tersengal-sengal, ia sangat takut.

“Tzuyu..?” teriakan ibu tzuyu kembali menyadarkan tzuyu dari lamunanya.

“Ne..gwaenchana” jawab tzuyu.

Di tempat tidurnya ia terlihat ragu untuk mematikan lampu kamarnya, ia mulai merasa takut dengan apapun disekitarnya.

***

“ANDWAE!!” Teriak tzuyu yang mengigau dari tidurnya. Hal itu membuat semua murid tertuju pada tzuyu, Sooyoung seonssaengnim yang mengajar MTK tentu merasa kesal karena salah satu muridnya tidak mempedulikan apapun yang sedang diajarkan olehnya. Saat itu juga tzuyu diusir keluar dari kelasnya, eunice yang duduk bersama tzuyu menatap tzuyu dengan prihatin.

“Minatozaki Sana, siapa yang mengijikanmu memegang kamera disaat jam pelajaran..kau keluar”
Titah sooyoung ssaem pada Sana yang terlihat memainkan kamera nya tanpa rasa bersalah, dan dia juga keluar dari kelas dengan wajah yang terlihat bahagia.

***

Di rooftop terlihat tzuyu yang berdiri sambil memegang pembatas rooftop, wajahnya terlihat datar namun jika dilihat lagi matanya menampakkan kesedihan dan sebuah penyesalan yang luar biasa.

“M-mianhae…mianhae Eunjin-ah..” gumam tzuyu pelan, air mata itu mengalir semakin deras hingga ia terduduk lemas, rambutnya yang ditiup angin membuat wajahnya ditutupi oleh rambutnya.

“Kau..menangis?” tanya seorang namja yang berdiri di samping tzuyu. “Kau menangis karena diusir atau sesuatu yang lain?” tanya Sana heran.

“Apa urusanmu?” balas tzuyu ketus.

“Yeoja seperti apa yang lebih mementingkan penampilannya daripada kesedihannya?” ujar Sana.

“Mwo?”

“Jam MTK akan segera berakhir, kita diusir 15 menit terakhir..sebaiknya kau segera ke kelas sebelum kau juga diusir di jam pelajaran selanjutnya” ucap Sana sambil menepuk-nepukkan tangannya di bahu tzuyu.

“Sana-Chan..” ucap tzuyu dengan suara paraunya ketika Sana sudah meninggalkannya sekitar beberapa meter darinya. “Sana-Chan..kapanpun jangan biarkan aku sendiri, kurasa kau orang yang tidak akan membiarkan ku sendiri” ucap tzuyu sambil menatap Sana dengan penuh harap, entah apa yang terpikirkan olehnya.

Sana melangkahkan kakinya kearah tzuyu dan mengulurkan tangannya pada tzuyu serta senyuman simpul itu tak hentinya ia tampilkan pada tzuyu.

***

Ketika di koridor semua murid menatap kearah Sana dan tzuyu yang berjalan dengan percaya dirinya sambil berpegangan tangan.

Semenjak kejadian itu semua murid mulai menyimpulkan  kamera couple mengadakan reunian kembali.

“Kurasa..ketika diusir mereka CUP..” ucap HiuHyeon dengan ekspresi kosong sambil menyatukan jari-jari tangannya itu keduanya memberi tanda aneh sebuah ciuman.

“Kau gila? Tzuyu bukanlah orang yang seperti itu, ia tegas dengan ucapannya. Apapun yang keluar dari mulutnya maka hal itulah yang terjadi, ia tidak menyukai Sana dan sampai kapanpun hal itu tidak akan terjadi…ARRA!!” ucap eunice kemudian menghabiskan minuman sodanya. “Manusia sampah” ujar eunice sebelum pergi meninggalkan HiuHyeon.

“Mwo?” bantah HiuHyeon tidak terima kemudian mengiringi eunice yang pergi dari kantin setelah menghabisi sisa rotinya.

***

“Yoongie…” panggil tzuyu dengan ragu pada yoona yang sibuk memilih beberapa buku diperpustakaan.

“Menyingkir dari hadapanku sebelum kau menyesal..” ujar namja itu ketika sudah merasa jengah terhadap tzuyu yang masih membuntutinya hingga ke dalam lift.

“Yoongie, akhir-akhir ini dia datang menghantuiku..apa yang harus kulakukan?” ujar tzuyu dengan suaranya yang sedikit bergetar.

“Kenapa kau harus takut? Sekarang kau mengakuinya?” ujar yoona datar. “Kau sudah menyesalinya sekarang dan sekarang kau mengakuinya padaku? Kau pikir aku akan memaafkanmu?” ujar yoona lagi dingin.

Tubuh tzuyu menegang ketika ia mendengar sesuatu melalui telinganya, suara itu sangat mengganggunya. Ia menutupi telinganya dengan teriakan histeris membuat yoona memperhatikan tzuyu dengan bingun.

‘Apa ia benar-benar ketakutan?’ batin yoona

***

Di klup terlihatlah tzuyu yang memakai gaun hitam pendeknya terus meminum sebotol vodka tanpa henti melalui sebuah gelas kecil.

“Kau sudah mengantuk?” goda seorang namja  yang juga setengah mabuk menghampirinya sambil memeluk pinggang kecil tzuyu dengan erat dari arah belakang lalu mencium aroma leher tzuyu dengan liar, menghirup aroma parfum tzuyu yang membuatnya semakin tidak tahan hingga menggigit dan membuat kissmark di sekitar sana.

“Dahyun-ah..geumanhae..” ucap tzuyu hingga melepaskan lingkarang tangan dahyun dipinggangnya.

“Arra…kau ingin melakukannya di kamar saja bukan?” ujar namja bernama dahyun itu kemudian membantu tzuyu untuk bangkit dari duduknya sambil merangkul pinggang tzuyu dengan sesekali tangan itu bermain di bokong tzuyu.

Di parkiran dahyun sedang menyalahkan mobil hitamnya untuk segera ke hotel setelah menidurkan tzuyu dikursi sampingnya.

Ditengah jalan dahyun yang setengah mabuk itu hampir saja menabrak seorang namja berseragam sekolah didepannya. Namja itu tidak sengaja menangkap seorang yeoja tengah tertidur lelap di dalam mobil yang sudah menabraknya.

Dahyun yang khawatir dengan tzuyu karena kepalanya sedikit membentur kaca disampingnya ia pun menarik kepala tzuyu agar ketengah.

Namja itu terlihat tidak terima hingga mendatangi mobil dahyun dan mengetuk-ngetuknya tanpa henti.

Kini namja itu beralih pada yeoja yang berada di dalam mobil, ia menggendong tzuyu.

Namja itu adalah Minatozaki Sana. Rumah Sana tidak jauh dari sini iapun membawa tzuyu kerumahnya.

Sana menidurkan tzuyu ditempat tidurnya, dikamar yang di penuhi foto-foto tzuyu.

“Tzuyu-ah..ireona, kau ganti baku dulu” ucap Sana sambil melemparkan celana panjang dan kaos pendek miliknya tepat dimuka tzuyu setelah sedikit menepuk-nepuk pipi tzuyu.

Tzuyu yang mabuk berat benar-benar tidak sadar dimana dan dengan siapa ia sekarang, ia masih mengira jika namja adalah dahyun.

“Kamar ini lebih besar dari biasanya, kita pindah kamar?” tanya tzuyu yang setengah sadar itu berbaring di tempat tidur.

Dengan ragu Sana menarik selimutnya untuk menutupi tubuh tzuyu.

“Kau punya masalah?” tanya Sana pelan.

Sekarang suara Sana yang pelan itu bagaikan bisikan malaikat untuk nya, sat itu juga tzuyu membuka matanya.

“Kkajima..kkajimaa” ujar tzuyu dengan suara paraunya dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, sesekali suaranya bergetar seperti orang ketakutan melihat hantu.

***

“Menurutmu tzuyu akan masuk hari ini?” tanya eunice pada HiuHyeon yang masih asik memainkan ponselnya.

“Apa urusanku” balas HiuHyeon ketus.

“Sana juga tidak masuk” ujar eunice lagi sambil menyenggol lengan HiuHyeon.

Nayeon seonssaengnim wali kelas para murid dikelas itu terlihat baru saja memasuki kelas.

“Heo eunice, Ki HiuHyeon, Minatozaki Sana, dan Zhou tzuyu..kalian harus mengikuti remedial sore ini, kalian tidak diizinkan pulang lebih awal dihari bebas ini..” ujar walikelas mereka itu sambil menatap tajam pada HiuHyeon yang terlihat tidak peduli dengan namanya yang disebut, berbeda sekali dengan eunice yang menundukkan wajahnya karena malu.

Yoona terlihat tidak suka mendengar berita itu, ia terlihat memutarkan bola matanya memikirkan sesuatu yang sangat serius sambil sesekali menggigit bibirnya.

“Tzuyu…kau harus mengikuti remedial sore ini…nayeon seonssaengnim menanyaimu”

Drt Drt

Getaran ponsel itu membangunkan tzuyu dari tidurnya, dengan mata tertutupnya ia mencari letak ponselnya yang berada di atas meja lalu membuka pesan teks itu.

“Kalau begitu aku akan datang sore ini…yoongie, aku ingin mengatakan sesuatu padamu hari ini. Aku akan menunggumu di rooftop nanti sore”

Di kelas itu yoona yang membaca pesan  balasan dari tzuyu menampilkan senyuman sinisnya.

Tzuyu yang terlalu asik membaca chatting itu tidak menyadari dimana ia sekarang, ketika ia membuka selimutnya dan mendapati tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

“Bajingan itu melakukannya lagi ketika aku tidak sadar?” gumam tzuyu pelan.

Tzuyu tiba-tiba terperangah ketika pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang mengherankan baginya.

“Uhm” terengar suara eluhan seorang namja disamping tzuyu.

“Minatozaki Sana..n-neo..bagaimana bisa?” gumam tzuyu ketika mendapati Sana yang berada disampingnya. “Sana, siapa kau sebenarnya? Ada apa denganmu? Kau berada disekitarku selama ini?” tanya tzuyu dengan menyipitkan matanya, ia terlihat tidak ingin Sana menjawab iya.

“Na-naneun…seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan semalam di luar batas kewajaran. Bagaimana bisa kau membiarkan seorang namja membawaku ke hotel? Sudah berapa kali kau melakukan hal itu? Kau benar-benar melakukan hal itu” tanya Sana ikut menyipitkan matanya pada tzuyu.

“Apa urusanmu? Aku tidur dengan namja dan melakukan hal itu apa urusanmu? Aku yang menginginkan hal itu apa urusanmu? Bukankah hal itu juga kau inginkan seperti namja brengsek lainnya? Kau merebutku dari namja itu dan membuatku tidur di ranjangmu? Apa kau juga mengambil foto setengah telanjangku dan menyebarkannya ke semua murid?” teriak tzuyu dengan tatapan sinisnya yang penuh benci itu.

Teriakan tzuyu pada namja itu membuat Sana terdiam membisu.

“Menurutmu kenapa kau berada disini?” tanya Sana dengan wajah datarnya.

Tzuyu terdiam dengan pertanyaan Sana, ia juga tidak ingat bagaimana ia bisa berada di tempat ini.

“Se-sebenarnya apa yang terjadi?” tanya tzuyu ragu-ragu sambil. menundukkan kepalanya bingun.

“Menurutmu kenapa aku memukul namja itu, kenapa aku membawamu kesini dan kenapa dengan kamar ini hanya dipenuhi fotomu?” tanya Sana lagi dengan nada suara dinginnya.

“Mwo?” balas tzuyu yang juga bingun dengan pertanyaan Sana.

“Saranghae..” ucap Sana biasa.

Tzuyu terdiam bingun ketika Saat  mengatakan hal itu, hatinya tidak bergetar sama sekali dengan pengakuan Sana.

Sejujurnya ia tidak pernah menatap dan menyadari namja yang bisa saja menyukainya semenjak ia mendapati sebuah madalah besar dalam hidupnya, yaitu 2 tahun yang lalu di masa hilangnya Eunjin seperti ditelan bumi.

Sejujurnya saat di rooftop tzuyu mulai merasa tenang dan sedikit bergetar hatinya  ketika Sana menghapus air matanya dengan lembut.

Melihat Sana adalah namja yang tidur dengannya saat ini, pandangan tzuyu pada Sana sedikit berubah.

“Apa aku terlihat sedang bergurau?” tanya Sana sambil menunjuk wajahnya heran.

“Kau tidal sekolah?” tanya tzuyu canggung untuk mengalihkan pembicaraan.

“Menurutmu aku akan meninggalkanmu sendirian di rumahku? Bisa-bisa kau akan kembali ke klup itu, mulai sekarang kau tidak boleh pergi ketempat seperti itu lagi ARRA?” ujar Sana sambil menjitak kepala tzuyu.

“Wae?” tanya tzuyu sambil mengelus bekas jitakan Sana yang membuat mimic wajahnya terlihat lucu karena tidak terima, ia sangat tidak terima dengan perlakuan itu tapi ia tidak berani melawan Sana saat ini.

“Karena kau milikku mulai sekarang, jika kau tidak terima aku benar-benar menyebarkan foto itu di sekolah” jawab Sana sambil melemparkan celana panjang da kaos yang ia siapakan untuk tzuyu tadi malam. “Kau sengaja melakukannya agar aku tergoda? Aku sudah puas memandangi tubuhmu itu semalaman..” ujar Sana menampilkan smirknya lalu bangkit dari ranjang.

Ketika Sana akan membuka pintu kamarnya untuk keluar, sebuah bantal tepat mendarat di kepalanya.

***

“Aku ingin pulaaaaaang..” rintih eunice sambil memeluk tasnya yang berada di atas meja.

Drt…Drt…

Getaran ponsel eunice membuat eunice segera mengadakan kepalanya, itu adalah telpon dari ibunya.

“Itu..itu tzuyu bersama Sana” gumam HiuHyeon ketika matanya tidak sengaja mendapati sepasang murid tengah berjalan memasuki sekolah.

“Jinjja?” tanya eunice tidak percaya. “Bukankah itu nayeon seonssengnim? Kenapa jalang itu meninggalkan sekolah sementara ia menyuruh kita menunggunya di kelas?” ujar eunice lagi tidak terima sambil membulatkan matanya melihat wali kelasnya yang sudah berada di luar gerbang bersama seorang murid yang tidak cukup jelas wajahnya karena ia menggunakan masker hitam.

“Kau yeoja, sebaiknya ucapanmu lebih sopan” ujar HiuHyeon sambil menarik sebelah pipi eunice. “Yya kenapa murid itu mengunci gerbangnya?” ujar HiuHyeon ketika melihat murid bermasker itu kembali memasuki sekolah dan mengunci gerbang itu.

“Perasaanku tidak enak” gumam eunice ketika memperhatikan jalan murid itu yang sangat pelan dan santai.

“Ia mengunci gerbang tapi ia berjalan menuju sekolah” gumam HiuHyeon pelan.

“Kita di jebak? Apa nayeon seonsseangnim menitipkan pesan pada seseorang jika ujian kita dibatalkan?” gumam eunice menatap HiuHyeon dengan wajah bingungnya.

“Mungkin” balas HiuHyeon datar.

“Bagaimana dengan Sana dan tzuyu? Ia akan segera menuju kesini? Sementara namja itu berada dibelakang mereka?” ucap eunice dengan wajahnya yang mulai menegang karena takut.

“Kau hubungi mereka” sergah HiuHyeon.

Eunice segera berlari menuju mejanya untuk mengambil ponselnya.

Deg

Saat itu juga lampu sekolah itu padam, membuat eunice terdiam membeku di tempat ia berdiri.

“HiuHyeon-ah…eotteokkhae, kurasa akan terjadi hal buruk pada kita” gumam eunice.

“Gwaenchana..kita harus cepat keluar dari sekolah ini setelah bertemu dengan Sana dan tzuyu” ujar HiuHyeon kemudian meraih tangan eunice dengan erat agar eunice tidak merasa takut.

“Kau yakin jika nayeon seonsseangnim mengadakan perbaikan nilai? Ini sangat gelap, tidak ada suara apapun, dan tidak ada seorangpun selain kita” ujar Sana yang kini tengah membantu tzuyu untuk memanjati pintu lift yang berhenti di lantai 3.

“Sana.. Kurasa ini akan lama, sebaiknya kau mencari senter aku akan ke rooftop sebentar. Jika kau tidak menemukanku kau bisa menghubungiku kan?” ujar tzuyu sambil menatap Sana dengan penuh harap.

Dengan napas tersengal-sengal tzuyu akhirnya sampai di rooftop.
Tzuyu terlihat cemas dan takut ketika ia merasakan sesuatu yang aneh berada dibelakangnya.

“Tzuyu” panggilan itu membuat tzuyu membuka matanya dengan lebar, suara itu sangat familiar baginya.

“Yoongie” gumam tzuyu sambil membalikkan tubuhnya dengan sigap, sedikit terkejut karena yoona tepat berdiri dibelakangnya.

“Wae? Kau ingin bertemu denganku!”

“Sudah lama berdiri disini?” tanya tzuyu sedikit ragu.

“Aku lebih dulu datang darimu” jawab yoona kemudian berjalan menuju pembatas rooftop. “Hal apa yang ingin kau katakan?” tanya yoona dingin.

Tzuyu dengan ragu berjalan mendekati yoona.

“Ini tentang Eunjin” gumam tzuyu dengan tenang, dari wajahnya terlihat ia tidak suka nama itu keluar dari mulutnya.

“Kau tahu jika Eunjin mempunyai seseorang yang ia cintai?”

“Ani..” balas yoona cepat.

“Kau mencintai Eunjin? Sebelumnya apa kau tau jika Eunjin tidak menyukaimu sama sekali?” tanya tzuyu sambil berusaha menatap mata yoona.

“Kau membenci Eunjin, sebab itu kau tidak ingin meneruskan pencarian Eunjin” ucap yoona dengan nada suara sinisnya, tzuyu langsung mengernyitkan keningnya mendengar ucapan yoona.

“Ne..aku membencinya..sangat membencinya” balas tzuyu dengan nada dingin.

“Kau tau jika saat itu Eunjin hamil?” tanya tzuyu dengan wajah seriusnya menatap mata yoona.

“Ani..” balas yoona dengan cepat.

“2 tahun yang lalu ketika akan mengikuti olympiade renang ku..”

Flashback

“Eunjin-ya..! Aku akan mengikuti lomba renang lagi!” teriak tzuyu sambil berlari-lari lalu memeluk seorang yeoja berambut hitam panjang yang bernama Eunjin. Yeoja itu terlihat mempunyai mata sembab dan bengkak seperti sudah menangis semalam.

“Jinjja? Chukka!! Kali ini harus medali emas, arra!!” balas Eunjin sambil membalas pelukan dengan erat, Eunjin menenggelamkan kepalanya dibahu tzuyu, menghirup aroma tubuh tzuyu yang begitu khas bagi-bagi orang.

Di kolam renang itu terlihat tzuyu yang masih terus berputar-putar berenang kesana kemari dengan iseng.

“Sesekali kau harus mau belajar renang denganku” gerutu tzuyu lalu keluar dari kolam dan berjalan menuju tempat duduk Eunjin untuk mengambil handuk yang terletak diatas tasnya.

Kilatan kamera membuat tzuyu terkejut hingga ia dengan kesal mencubit pinggang Eunjin gemas, ia selalu terkejut dengan kilatan kamera yang diberikan oleh Eunjin padanya.

“Gwaenchana?” tanya tzuyu bingung, Eunjin hanya mengangguk pelan.

Tzuyu berjalan meninggalkan Eunjin begitu saja untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh air kaporit. Tiba-tiba seorang namja menatapnya dengan tajam, Eunjin membalas tatapan itu lebih dingin lagi, lebih tepatnya tatapan itu adalah tatapan bencinya pada yoona.

~ satu hari sebelum perlombaan~

“Eunjin gwaenchana? Kau terus memegangi perutmu, wajahmu juga sangat pucat..kau PMS?” tanya tzuyu pada Eunjin yang hanya duduk ditepi lapangan basket sementara murid lainnya terus berlari mengitari lapangan.

“Tzuyu cepat berlari sebelum aku menambah jumlah putaranmu..” teriak guru olehraga pada tzuyu yang masih terus merukuk menanyai keadaan Eunjin.

Ketika tzuyu kembali masuk kedalam barisannya untuk melanjutkan larinya seorang namja terus menatap Eunjin dengan tajam. Eunjin benar-benar tidak suka dengan yoona, ia pun meninggalkan ruangan basket itu dengan langkaj berat. Baru beberapa langkah tiba-tiba Eunjin pinsang.

Semua murid langsung mengerubunginya, tak terkecuali tzuyu yang langsung memangku kepala Eunjin dengan tangannya.

“Apa dia sedang menkomsumsi pil aborsi?” tanya dokter UKS itu pada tzuyu yang ia sendiri juga terkejut dengan pertanyaan itu. “Eunjin hamil 3 bulan” ucap dokter yeoja itu pada tzuyu. “Ia tidak tau sebanyak apa harus meminumnya..yang jelas janin itu belum mati, namun kondisinya sangat mencemaskan, sebaiknya kau segera membawanya ke rumah sakit, aku tidak akan beritahukan hal ini pada guru-gurumu jika kau segera  membawanya ke rumah sakit” ucap dokter.

“Besok aku akan membawanya ke rumah sakit” balas tzuyu dengan wajah ragunya.

“Jika tidak janin itu benar-benar mati” balas dokter itu lagi dengan tatapan tajamnya pada tzuyu, ia melihat keraguan pada wajah tzuyu.

Dikamar tzuyu terlihat Eunjin yang tengah asik mengotak-atik kamera nya.

“Eunjin-ya..besok lombanya, kau ikut?” tanya tzuyu pelan.

“Uhm..itu..uhm..aku tidak bisa” balas Eunjin sambil menundukkan wajahnya takut jika tzuyu marah dan kecewa padanya.

“Wae? Kau masih sakit? Perutmu sakit?” tanya tzuyu cemas sambil memperhatikan perut Eunjin yang memang sedikit lebih besar dari biasanya. “Kau gendutan..itu sebabnya kau harus ikut berolahraga seperti yoona dan aku, kau hanya berjalan dipagi dan sore hanya untuk menemaniku dan setiap detik mengambil fotoku itulah yang membuat mu semakin gendut, bahkan perutmu sudah terlihat seperti orang hamil sekarang” ucap tzuyu dengan biasa kemudian kembali membolak-balikan majalah yang ia baca. Ia terlihat tidak peduli dengan raut wajah Eunjin yang berubah cemas. “Bajingan siapa yang melakukan hal itu padamu?” tanya tzuyu tiba-tiba dengan nada suaranya yang dingin.

“Ne?” tanya Eunjin pelan setelah sedikit mengatur napasnya karena takut.

Tzuyu yang sudah sangat penasaran dengan Eunjin pun kini menaruh majalahnya dan berjalan mendekati Eunjin lalu berjongkok dihadapannya.

“Siapa yang melakukan ini? Kenapa kau menyembunyikan masalah besar dariku? Dan kenapa kau melakukan hal itu sekarang? Kau ingin menyingkirkan janinmu itu?” tanya tzuyu dengan wajahnya yang terlihat marah. “Siapa yang melakukan hal itu padamu? Kenapa kau tidak menjawab? Kenapa kau hanya menangis? Eoh?” tanya tzuyu lagi.

“Tzuyu-ah…mianhae..” ujar Eunjin dengan suara paraunya, dan saat itu juga tangisannya berubah menjadi isakan.

“Kenapa kau harus meminta maaf..bukan kau yang salah kenapa kau harus meminta maaf padaku?”

“Mianhae..aku tidak akan menyebutkan nama orang itu padamu, hanya kau yang terus berada disisiku itu sudah lebih dari cukup untuk ku” ucap Eunjin menunduk tidak berani menatap tzuyu.

“Kalau begitu, jangan makan pil itu lagi.jangan lakukan hal itu pada janinmu, arra? Jika kau melakukannya lagi aku benar-benar marah padamu Eunjin-ya” ujar tzuyu lalu memeluk Eunjin dengan erat.

Tanpa sadar tzuyu juga meneteskan air matanya dipuncak kepala Eunjin.

Eunjin menangis haru dengan sikap tzuyu padanya, tzuyu tidak kecewa padanya ia hanya meminta agar menjaga janin itu tetap sehat.

~ hari perlombaan renang~

Ini final..aku yakin kau akan mendapat mendali emas itu tzuyu, sekolah kita akan bangga pada kalian tzuyu-ah, yuri-ah” ucap pelatih mereka pada 2 orang muridnya yang sudah di utus oleh sekolah.

Terlihat di wajah yuri ia tidak senang dengan kata-kata penyemangat dari pelatihnya itu.

Saat lomba final benar-benar akan dimulai di tepi kolam yuri mulai mengatakan sesuatu pada tzuyu.

“Tzuyu-ah, beberapa bulan yang lalu tidak sengaja aku melihat Eunjin yang menangis pagi-pagi sekali di toilet, saat itu ia terlihat frustasi dan melempar sebuah benda di tong sampah. Ketika ia sudah keluar dari toilet, aku langsung memunguti benda itu karena penasaran dan ternyata itu adalah sebuah test pack yang menunjukkan dua garis..apa kau sudah mengetahui hal itu?” ujar yuri biasa sambil melakukan pemanasan pada tubuhnya.

Namun bukan hal ini yang harus ia pikirkan sekarang, ia harus menang dalam perlombaan ini.

Walaupun ayahnya seorang atlit, ibunya tidak menginginkan anak semata wayangnya ikut menjadi atlit walaupun tzuyu sangat menginginkan dan menyukai hal itu.

Perguruan tinggi bukan hal yang disukai oleh tzuyu, melakukan persiapan ujian perguruan tinggi itu sangat melelahkan baginya.

Apa hanya ingin menjadi atlit dapat membahagiakan keluargamu nanti?’ maka tzuyu akan menjawab dengan enteng.

‘Dengan wajahku dan popularitas ayah itu akan muda bagiku eomma!’

Tapi sikap ibunya yang keras pada tzuyu tentu tidak akan menerima jawaban konyol itu.

Jika ia bisa mendapatkan mendali emas maka ia boleh menjadi atlit renang seperti yang ia inginkan.

“Untuk saat ini mendali itu bukan apa-apa bagimu bukan? Tapi bagiku mendali ini penentu apakah aku masih bisa untuk melanjutkan sekolahku disini atau tidak. Aku tau kau sangat kaya maka kau tidak berfikir hingga kesitu, untuk kali ini bisakah kau mengalah hanya untuk ku?” pinta yuri dengan tatapan penuh harapnya namun terlihat penuh kebencian dan keirian pada tzuyu.

“Anni..mendali emas itu penentu bagiku apakah aku harus melanjutkan karirku atau tidak, aku harus mendapatkan mendali itu” balas tzuyu datar pada yuri, sat itu juga ia menampilkan tatapan dinginnya pada yuri.

“Jika aku menang nama sekolah kita tetaplah juara satu, dan klup kita tetaplah juara satu”

“Jika eonni ingin menang maka berusahalah, kenapa eonni memohon seperti itu padeonni balas tzuyu yang tepat membuat yuri terdiam.

“SIAP?” teriak wasit renang sebelum membunyikan peluitnya.

“1 jam lagi Eunjin akan menuju rumah sakit setelah menerima sebuah pesan, didepan rumah sakit nanti sebuah mobil truk akan datang untuk menabraknya. Membunuh dua nyawa sekaligus, aku akan membuat itu menjadi murni kecelakaan, selain mati seprti itu fakta menyedihkan dan memalukan jika Eunjin tengah hamil akan berkembang menjadi topik hangat disekolah” ujar yuri sambil menyunggingkan senyuman sok manisnya pada tzuyu.

Lomba pun berakhir dan saat itu yuri lah yang mendapatkan mendali emas, sedangkan tzuyu hanya menddapatkan mendali perak, tzuyu terlihat tidak suka dan marah di dalam hatinya.

“Kau melakukan hanya karena Eunjin? Babo..kau berpacaran dengan jalang itu?” tanya yuri sambil melipat kedua tangannya.

“Menurutmu aku akan menyia-nyiakan hal itu? Aku sudah membayar mahal untuk rencana ini, jika ia tidak melakukannya uangku akan terbuang sia-sia” ucap yuri sambil berjalan menuju wastafel tempat tzuyu juga berdiri.

“Maksudmu? Kau tetap melakukannya?”

“Kurasa 30 menit lagi kau sampai disana maka tidak akan terlambat..” ucap yuri santai.

Saat itu juga tzuyu langsung mengemasi barang-barangnya dengan kencang menuju rumah sakit tempat Eunjin akan diperiksa kandungannya.

Tzuyu sampai di depan RS yang dikatakan oleh yuri, namun ia tidak melihat Eunjin bahkan truk atau apapun yang dikatakan oleh yuri.

Drt..drrt

Telfon tzuyu bergetar dan itu adalah telpon dari Eunjin.

“Eunjin-ya? Neo eodisseo?” teriak tzuyu kesal.

“Aku di kolam renang sekolah menunggumu, aku sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Apa kau masih lama? Sekarang sudah tidak ada orang lagi disekolah, aku sedikit takut, bagaimana dengan lombamu, kau pasti mendapat mendali emas itu kan?”

“Tuut..tuut..” saat itu juga wajah Eunjin berubah heran karena tzuyu yang memutuskan panggilan secara tiba-tiba tidak seperti biasanya.

“AAAARRRGGGHHHH!!” Tzuyu berteriak frustasi dijalanan yang cukup besar dan ramai, ia bahkan terduduk dan menangis.

Sekarang sudah pukul 12 malam. Tengah malam itu tzuyu yang datang ke sekolahnya seorang diri hendak menenangkan pikirannya di kolam renang sekolah, ia seakan lupa dengan Eunjin yang sudah menunggu tzuyu dari tadi siang.

Pagar sekolah itu sudah terkunci dengan rapat., namun, dengan tubuhnya yang lincah ia mampu memanjati pagar dengan mudah.

“Eunjin-ya..” panggil tzuyu pada Eunjin yang setengah tertidur dengan posisi duduk disebuah kursi ditepi kolam renang.

“Tzuyu-ah” ujar Eunjin langsung ketika mendengar suara tzuyu.

“Wae? Kau mendapat mendali emas kan?” tanya Eunjin lagi sambil melepaskan kamera yang menggantung dilehernya, lalu mengambil foto tzuyu. “Aku baru saja mencuri foto peraih mendali emas renang termuda” hal itu tentu membuat tzuyu semakin sakit hati dan kesal, ia pun merebut itu dari tangan Eunjin dengan kasar lalu membantingnya.

“Tzuyu-ah…wae geurae?” tanya Eunjin dengan ragu.

“Ada apa denganku? Tsk! NE!! ADA APA DENGANKU!!!” teriak tzuyu menggema.

Setelah dipikir-pikir lagi, jika mengatakan hal itu setidaknya tzuyu bisa menghentikan kemarahanya.

“Tzuyu sebelumnya aku sudah bertekad mengatakan hal ini padamu..”

“Katakan ucapan terakhirmu..” balas tzuyu dingin, hal itu membuat Eunjin menatap tzuyu dengan bingung.

“PPALLI!!” teriak tzuyu pada Eunjin, teriakan tzuyu kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Aku…aku menyukaimu…aku menyukaimu lebih dari seorang teman, saranghae. Ini memang gila tapi inilah yang kurasakan padamu tzuyu-ah” ujar Eunjin sambil menatap tzuyu dengan mata berkaca-kaca.

“Kupikir kau benar-benar gila” balas tzuyu tidak percaya semakin memajukan langkahnya membuat Eunjin juga memundurkan langkahnya ke belakang.

“Tzuyu apa yang kau lakukan? Kau tau kan aku tidak bisa berenang?”

“Siapa peduli..” balas tzuyu dingin hingga Eunjin benar-benar tercebur ke dalam kolam.

Eunjin tercekat tidak percaya dengan ucapan tzuyu padanya. Eunjin yang menyadari air itu berbau darah semakin panik hingga ia terus memanggil nama tzuyu namun tzuyu hanya berlalu meninggalkan Eunjin tanpa rasa bersalah.
Tzuyu tidak menyadari warna perubahan air, pandangannya hanya kosong pada jalan yang ia lewati ditepi kolam renang itu. Ia benar-benar benci pada Eunjin sekarang.

Setelah cukup lama Eunjin meneriaki dan memanggil nama tzuyu, hingga diteriakan akhirnya ia memanggil nama yang sebenarnya ia juga tidak tau kenapa menyebutkan nama itu di napas terakhirnya.

“Yoona.. Tolong aku..” ucap Eunjin dengan suaranya yang sudah lemah.

Teriakan Eunjin yang terakhir itu membuat tzuyu berhenti melanjutkan langkah kakinya dan membuat tzuyu sadar jika tindakannya memang sudah kelewatan.

Seakan bumi tidak terima dengan apa yang telah terjadi, tepat di saat itu cahaya bulan purnama memantul di kolam renang.

Cahaya bulan tepat masuk di tengah kolam renang. Saat itu juga tampak air disekitar Eunjin tiba-tiba berwarna kelam, tzuyu terduduk di tepi kolam itu pandangannya hanya kosong, ia menutupi mulutnya dan menepuk-nepuk dadanya dengan kencang.
Penyesalan memang selalu datang dikemudian, ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan, melihat tubuh Eunjin kolam renang itu, tubuh yang dikelilingi oleh warna darah membuat tzuyu benar-benar tidak menyangka.

***

“Sudah kuduga..kaulah yang membunuhnya” ucap yoona sambil menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya dengan kuat.

“Aku benar-benar tidak menyesal..aku tidak sadar apa yang kulakukan saat itu, aku benar-benar menyesal, ia sangat marah padaku. Semenjak saat ia tidak pernah membuatku hidup tenang, aku terus dihantui olehnya dalam mimpiku setiap aku sendiri kapanpun dimana pun terus ia menggangguku, hanya di kolam renang sekolah itu aku merasa ia tidak ada disampingku. Aku juga bingung padahal kolam renang itulah yang paling mengingatkanku dengan Eunjin..”

“Lalu dimana kau menyembunyikannya? EODDI!!!” teriak yoona yang kini melepaskan pegangannya pada pegangan rooftop dan beranjak memegangi kedua bahu tzuyu dengan kuat membuat tzuyu meringis sakit.

“Yoona.. Apa yang kau lakukan..hentikan!!” ujar tzuyu untuk menyadarkan yoona.

“Kau sadar? Saat itu kau membunuh dua nyawa sekaligus? Dua nyawa yang kucintai..” ucap yoona sambil menatap mata tzuyu dengan penuh kebencian.

“Saat itu kau tau jika Eunjin hamil?” tanya tzuyu heran, bahkan pegangannya pada lengan yoona sekarang melemah.

“Akulah bajingan itu..” balas yoona yang kini meneteskan air matanya.

~FLASHBACK~

“aku tidak menyukaimu…ini memang gila, sebenarnya aku menyukai tzuyu. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, tapi aku benar-benar menyukainya..” ucap Eunjin tetap menatap pada buku tulisnya tanpa menatap yoona yang ada disampingnya.

Terlihat di tempat itu mereka tengah berada di kamar tzuyu untuk mengerjakan tugas bersama.

“Eunjin-ya? Kau benar-benar tidak menganggapku ada? Apa menurutmu menyukai tzuyu bisa membuatmu bahagia?” tanya yoona dengan tatapan datarnya.

“Anni..jika aku mengatakan hal ini pada tzuyu aku yakin tzuyu akan menjauhiku, namun aku akan tetap mengatakan hal ini padanya suatu saat nant…” Ucapan Eunjin terhenti begitu saj ketika tiba-tiba
Yoona membekap bibir Eunjin dengan bibirnya, melakukan sebuah ciuman kasar pada Eunjin.

Eunjin terus memberontak namun yoona tidak mau peduli dengan hal itu Ia bahkan menahan kedua tangan Eunjin.

Eunjin terus merapatkan bibirnya tidak mau yoona melakukannya dengan lebih, namun hal ini membuatnya semakin tidak bisa bernafas karena yoona terlalu lama melakukan hal itu. Lidah yoona bermain dengan liar ia bahkan sedikit menggigit bibir Eunjin membuat Eunjin mendesah kesakitan sambil menghentakkan kakinya yang duduk di lantai.

Eunjin kembali berusaha mendorong tubuh yoona ketika tangan kanannya berhasil lepas dari genggaman yoona. Ia menahan tangan yoona yang kini meremas dadanya dengan gerakan kasar.

Ketika yoona melepaskan ciumannya saat itu juga yoona mendapatkan tamparan keras dari Eunjin, Eunjin segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar itu untuk menghindari yoona namun yoona langsung menarik tangan Eunjin dan membanting tubuh Eunjin di ranjang tzuyu.

YOONA!! KAU GILA? JANGAN LAKUKAN INI!!” teriak Eunjin yang sudah menangis ketika yoona menghimpit tubuhnya sambil menciumi leher Eunjin tanpa henti.

Yoona bahkan sudah meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana hingga kembali mengecupi bibir Eunjin, menjilati dan menggigitnya. Bukan desahan yang keluarkan oleh Eunjin namun hanya tangisan kencang.

Yoona sekarang ingin melakukan hal ini dengan lebih. Kini tangan yoona mulai menjalar dipaha Eunjin dan menyikapi rok sekolahnya, melepaskan dalaman Eunjin begitu saja dan memainkan tangannya di bagian sensitif Eunjin dengan gerakan pelan kemudian berubah menjadi cepat.

Yoona berhenti memainkan jarinya dibagian itu dan kini beralih untuk membuka kemeja dan celana sekolahnya dengan cepat agar Eunjin tidak bisa melarikan diri.

“Kita bisa menyelesaikan hal ini dengan cepat jika kau bisa sedikit lebih tenang..” ucap yoona tepat ditelinga Eunjin membuat Eunjin langsung terdiam tidak menyangka yoona yang dulu sangat berbeda dengan sekarang.

Yoona membuka kemeja Eunjin dengan kasar, bahkan bagian lengan dari kemejaitu robek saking kencangnya paksaan dari yoona. Sekarang terlihatlah tubuh Eunjin yang mengenakan tank top, yoona yang tidak sabar langsung membuka bra Eunjin, tak lupa tangan kirinya menekan payudara Eunjin.

Kali ini Eunjin mulai berani mengeluarkan desahannya, hal itu membuat yoona semakin bersemangat melakukan hal itu. Tanpa aba-aba ia langsung menggesekkan miliknya yang sudah menegang di dinding vagina Eunjin membuat tubuh Eunjin menegang hingga mengeluarkan sedikit cairan.

“Kau cepat sekali..” goda yoona dengan senyuman nakalnya. Yoona langsung memasukkan juniornya ke dalam miss V Eunjin dan yoona langsung mencium bibir Eunjin dengan kasar.

Eunjin kembali mendesah kesakitan ketika yoona melakukan gerakan pelan pada pinggulnya.

“Yoong.. Yoona.. Yoona-ah geumanhae..jebal..jebal” rintih Eunjin putus-putus sambil menahan lengan yoona. Kini yoona mempercepat gerakannya membuat Eunjin tak untuk berteriak dan memukul punggung yoona.

“Sudah terlambat kau jangan pernah meninggalkan ku, ARRA!! Mulai sekarang kau harus bisa membedakan mana orang yang lebih pantas untuk mu, jika kau memilih tzuyu maka kau tidak akan pernah merasakan hal ini” ucap yoona setelah mengeluarkan cairannya dirahim Eunjin.

Tubuhnya benar-benar setengah telanjang sekarang, hanya rok dan tank top yang tidak terpakai sempurna berada ditubuhnya.

Yoona memunguti celana dan kemeja yang ia lepaskan tadi dan memakainya dengan cepat. Ia menatap Eunjin dengan setengah iba. Ia tidak peduli Eunjin yang terbaring lemas.

***

“KAU BRENGSEK!!” teriak Eunjin tidak terima.

“Brengsek? Setidaknya aku tidak membunuhnya waktu itu..dimana kau menyembunyikannya?” tanya yoona lagi sambil mendorong tubuh tzuyu.

Tzuyu menendang bagian sensitif yoona dengan lututnya membuat yoona melonggarkan genggaman tangannya pada bahu tzuyu dan saat itu juga tzuyu mengambil kayu dan memukul yoona.

Paku itu tertanam cukup dalam membuat punggungnya berdarah.
Dan tzuyu melarikan diri.

Tzuyu tidak sengaja menginjak tali sepatunya ketika hampir dekat dengan lantai membuatnya tersandung dan terkilir.

“HiuHyeon-ah..kau tetap disini, walaupun kau berada di toilet yeoja kau tidak boleh mengintip ARRA!!” Teriak eunice pada HiuHyeon sebelum ia memasuki toilet untuk buang air kecil.

Di toilet itu dengan kaki yang tidak bisa tenang Eunice berusaha mempercepat buang air kecilnya sambil memicingkan matanya erat-erat karena sedikit takut. Tidak sengaja ia mendengar suara langkah kaki di sekitar toilet tapi suara langkah kaki itu seperti langkah perempuan karena begitu pelan, kemudian diakhiri dengan suara jepretan kamera.

“HiuHyeon-ha, kau sedang mencuri fotoku diam-diam?” teriak eunice dari dalam toilet namun tidak ada balasan dari HiuHyeon.

Eunice dengan heran membuka lebar matanya untuk mencari sosok yang memainkan kamera nya, namun ia merasakan sesuatu yang terinjak oleh sepatunya. Ia pun memunguti benda itu dengan heran, betapa herannya eunice menyadari jika itu adalah sebuah foto.

Sebuah foto yang hanya menampakkan bagian kakinya saja dari semua murid yeoja. Ini adalah foto yang diambil oleh tzuyu di kelas 1 dulu.

“40 pasang kaki? Bukankah semua murid 39?” gumam eunice heran. Tiba-tiba sesuatu menetes tepat mengenai foto itu, eunice mengira itu adalah tetesan air dari atap yang bocor. Namun ketika ia membersihkan tetesan itu dengan jarinya, ia terlihat terkejut karena itu adalah tetesan darah.

Eunice segera mengadahkan kepalanya mencari-cari asal tetesan itu. Tapi ia tidak melihat apapun di atas sana dan ketika ia kembali merunduk untuk menatap foto itu.

“EOMMA!!” teriak eunice cukup kencang melihat sosok menyeramkan dengan seragam sekolah namun dengan wajah yang sangat mengerikan dihadapannya.

Sosok itu berdiri dengan menunduk, eunice di dudukkan di toilet tentu dengan jelas dapat melihat wajah yang sangat mengerikan itu.

“AAAAAAA!!!!” teriak eunice ketakutan lalu segera bangkit dari duduknya untuk keluar dari toilet.

“Yya..!! Kau sedang bermain-main?” tanya HiuHyeon heran sambil menyenteri wajah eunice yang kini memucat.

“Kau darimana?” tanya eunice sedikit menaikkan kepalanya agar bisa menatap HiuHyeon.

“Dari gudang kolam renang, aku menemukan senter disana..setidaknya kita bisa keluar dengan senter ini” ucap HiuHyeon mendorong tubuh eunice dan menyenteri tubuh eunice dari atas sampai bawah.

“Tadi aku mendengar suara langkah kaki dan jepretan kamera di depan toilet ini” ucap eunice dengan penuh kepastian.

“Kau tidak memasang celana dalammu?” tanya HiuHyeon polos karena melihat celana dalam eunice yang menggantung dipahanya.

Hal itu membuat eunice segera bangkit dan mengangkat celana dalamnya itu spontan membuat HiuHyeon menatap eunice setengah tidak percaya.

“Aku takut..aku ingin keluar..apa tidak bisa memecahkan kaca kolam renang ini? Kita sudah berada di lantai dasar?”

“Jika hal itu bisa terjadi maka sudah dari dulu ruangan kolam renang sunhwa di masuki para perampok?”

“Seharusnya aku menjawab telfon eommaku tadi, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Bateri ponselku tertinggal di kelas”

“Kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya HiuHyeon heran karena eunice tiba-tiba memeluknya.

“Di dalam sana..ada hantu” balas eunice menunjuk toilet yang ia masuki tadi.

“Hantu? Ini baru jam 7, hantu datag tengah malam” balas HiuHyeon sambil mendorong bahu eunice agar ia melepaskan pelukannya. “Tidak ada apapun” balas HiuHyeon ketika ia membuka pintu toilet dengan hentakan kasar kakinya.

“Itu..” tunjuk eunice pada sebuah foto yang ia temukan tergeletak di lantai.

Dengan helaan nafas kesal HiuHyeon memunguti foto itu setelah melepaskan eunice dengan malas.

“Ada apa dengan foto ini?”

“Ini foto kami ketika akan meninggalkan kelas 1, saat itu kami menggunakan timer otomatis. Tzuyu bilang ia sudah mengatur foto itu dengan benar namun yang terambil tetap bagian kaki. Aku menghitung jumlah pasang kaki itu, itu semua 40 sedang dari kami hanya 39..” jelas eunice sambil menunjukkan foto itu.

Dengan bingung HiuHyeon ikut menghitung jumlah pasang kaki di foto itu.

“40…kau yakin tidak ada orang di kelas itu?”

“Anni..di kelas itu hanya ada 39 murid, murid lainnya sudah pulang dan sebagian lagi di audatorium untuk meramaikan graduation sunbae kelas 3 dulu..”

“Lalu?”

“Eunjin?” tanya eunice menatap kedua bola mata HiuHyeon dengan heran.

“Eunjin? Kau gila? Bukankah dia sudah meninggal”

“Arwahnya menghantui kita..bukankah mayatnya sampai sekarang belum di temukan? Dan tidak ada yang mengetahui dimana Eunjin sampai sekarang”

“Kita harus pergi” balas HiuHyeon sambil menarik tangan eunice hingga foto itu terjatuh di lantai.

Foto itu tiba-tiba berubah kelam, sepasang kaki dari foto itu menghilang tiba-tiba.

Di sebuah koridor hanya di penuhi oleh ruangan kelas 1 terlihat tzuyu yang berjalan sambil menyeret kakinya yang terkilir. Ia sudah berjalan dan berlari begitu jauh menuruni tangga dari rooftop untuk menghindari yoona, tidak mungkin baginya menuruni tangga hingga lantai dasar. Tzuyu tiba-tiba mendengar decikan sepatu.

“Yoona berhasil mengikutiku? Babo..dia sudah mengenalku 5 tahun, dia pasti tahu apa yang kupikirkan” batin tzuyu sambil berusaha berjalan dengan cepat menghindari decikan sepatu yang pelan itu seperti hampir mendekatinya.

1-2 class

Tzuyu memasuki ruangan kelas 1 itu dan terduduk di depan pintunya. Tiba-tiba tzuyu mendengar suara jepretan kamera dari ruangan 1-2 itu. Dengan heran tzuyu berdiri dari duduknya, ia melihat seseorang tengaj duduk di tepi jendela sambil memainkan kamera nya. Murid duduk dengan tenang hanya memperlihatkan rambutnya yang panjang, dia hanya duduk dengan tegap. Ia hanya menatap keluar jendela tanpa menatap tzuyu.

Tzuyu menolehkan pandangannya kearah memastika suara decikan sepatu sudah tidak ada.

“Yya..apa kau juga terkurung disekolah?” tanya tzuyu sambil mendekati murid yeoja itu.

Tzuyu yang sudah berada di samping meja murid itu menatap meja yang ada di sampingnya dengan heran.

Tzuyu kembali menolehkan kepalanya keluar kelas ‘1-2 class’

Ini adalah kelas tzuyu dulu ketika masih kelas 1. Juga meja ini adalah meja Eunjin.

“Kenapa kau tidak menelfon seseorang untuk membantumu keluar dari sekolah? Sebenarnya ada bahaya di sekolah ini..sebaiknya kau ikut denganku? Ayo..kita keluar bersama” ajak tzuyu lembut sambil mengulurkan tangannya pada murid itu.

Tzuyu sedikit kesal karena di diami oleh juniornya, melihat kamera itu yang tergeletak di meja membuat tzuyu sedikit tertarik. Tzuyu merasa familiar dengan kamera itu.

“Yya..gwaenchana?” tanya tzuyu sedikit cemas.

Murid itu segera berdiri dari duduknya namun tetap membelakangi tzuyu.

“Kau? Itu…kau tidak memakai pembalut? Darahmu menetes” ucap tzuyu ragu ketika ia melihat darah menetes dari dalam rok murid itu.

Murid itu dengan pelan menolehkan kepalanya kepada tzuyu.

“Jinjja?” tanya murid itu dengan nada suaranya yang dingin.

Murid itu kembali memutarkan kepalanya untuk menatap tzuyu yang masih penasaran dengan wajahnya. Sosok itu tepat menatap tzuyu dengan tatapan kebencian.

“Eunjin” gumam tzuyu.

Sosok itu terus menatap tzuyu dengan tatapan tajamnya. Tzuyu benar-benar takut sekarang ia tidak tahu harus berkata apa.

“Mi-mianhae…mianhae Eunjin-ya” ucap tzuyu takut hingga meneteskan air matanya. “SANA-CHAN!!!” teriak tzuyu ketika Eunjin berhasil meraih leher tzuyu dengan tangannya.

“TZUYU-AH!!!” panggil seseorang yang memasuki kelas itu dan berlari mendekati tzuyu. “Yya! Kau mencekik dirimu sendiri! Ada apa dengan mu!! TZUYU-AH!!!” teriak Sana menarik tangan tzuyu yang semakin erat mencekik lehernya sendiri.

Ketika namja itu berhasil melepaskan tangan tzuyu dari lehernya.

“Tzuyu-ah…gwaenchana?” tanya namja itu sambil sedikit menggosok-gosok pundak tzuyu.

“Sana-chan…kkajima..muesowo.neoumu museuwo..” gumam tzuyu bergetar sambil memeluk tubuh Sana.

“Ada apa denganmu?” tanya Sana heran.

“Ayo…keluar dari sini sebelum bertemu dengan yoona” ucap tzuyu ketakutan membuat Sana semakin heran.

“Yoona??” tanya Sana memastikan.

***

“HiuHyeon-ah…aku lapar” gumam eunice.

“Kau tunggu di UKS, disana sedikit terang” ucap HiuHyeon malas.

“Shireo…aku ingin bersamamu..bagaimana jika aku melihat hantu lagi” tolak Eunice.

“Yya…sudah kubilang disana terang..jika kau melihat seseorang berjalan di halaman depan, kau goyangkan senter ini untuk meminta pertolongan..aku akan ke kanting untuk mengambil beberapa makanan” ucap HiuHyeon.

“Lalu bagaimana denganku?” tanya eunice.

“Mataku mata singa…gelap adalah lingkunganku” balas HiuHyeon sambil tersenyum tulus pada eunice.

***

Di kantin terlihat HiuHyeon yang sedang menendang mesin minuman. Ketika beberapa minuman keluar, HiuHyeon langsung memunguti minuman itu. HiuHyeon meletakkan semua makanan itu di meja dan kemudian merunduk untuk mengambil minuman. Ketika ia berhasil mengambilnya, tiba-tiba ia melihat sepasang kaki. HiuHyeon segera bangkit untuk melihat orang itu. Ketika akan berdiri HiuHyeon langsung terjatuh.

Kepalanya banyak mengeluarkan darah, matanya bahkan setengah terbuka, HiuHyeon terlihat tidak bernyawa lagi.

***

Di UKS eunice masih terus berusaha menyenteri jendela berharap seseorang menyadari sinar senternya.

“Ahh…BERIKAN AKU MAKANAN!!!” teriak eunice histeris.

“Apa yang kau lakukan?” suara itu mengejutkan eunice.

“Yoona!! Kau juga terkurung? Kenapa bisa!!” tanya eunice heran.
“Gwaenchana?” tanya eunice canggung.

Ketika yoona menurunkan lengannya terlihat pundak yoona yang di penuhi oleh darah.

“Yoona-ah..” gumam eunice cemas bahkan eunice segera berjalan mendekati yoona untuk membantunya.

“Serahkan padaku..” sergah eunice yang merebut kotak obat yang ada di tangan yoona.

Eunice sedikit ngeri melihat luka yoona karena lukanya yang begitu dalam. “Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau melihat HiuHyeon? Sebenarnya ada tzuyu dan Sana juga yang terkurung di gedung ini” ucap eunice.

“Mwo? Sana?” tanya yoona memastikan.

“Aku sangat lapar…ayo ke kantin, disana HiuHyeon sedang mengumpulkan makanan” ucap eunice meraih tangan yoona untuk segera pergi dari UKS. “Yoona-ah… Wae irae?” tanya eunice sedikit gugup karena wajah yoona berubah dingin. “Yoona-ah” gumam eunice lagi.

“Bukankah dulu aku pernah bilang… Tidak ada yang boleh menduduki kursi Eunjin?” gumam yoona dengan suara dinginnya.

“Yoona-ah…. Lepaskan..ada apa denganmu”

“Kau ingin menemui HiuHyeon? Dia sudah mati” ucap yoona lagi dengan dingin. “Kau ingin menyusulnya?” tanya yoona kepada eunice yang semakin takut.

Eunice segera melangkahkan kakinya untuk kabur namun tubuhnya tumbang begitu saja. Ia pun terjatuh ketika yoona melepaskan benda yang tertancap di kepala eunice.

“Yoong.. Yoona” gumam eunice cegukan ketika darah itu semakin deras mengalir di kepalanya.

***

“Sana-chan… Sebaiknya kita ke kolam renang, aku tau jalan rahasia untuk keluar dari sana” ucap tzuyu dengan tatapan penuh kepastian dari Sana. “Kau mendengar itu?” tanya tzuyu pelan pada Sana.

Tzuyu langsung menarik Sana untuk memasuki sebuah ruangan yang lumayan terang. “Sana-chan..” panggil tzuyu sambil menunjuk senter.

“Ada orang lain selain kita yang berada di gedung ini..” ujar Sana santai dan berjalan untuk mengambil senter itu.

“AAAAA!!!!” teriak tzuyu sambil menutupi mulutnya karena ia tidak sengaja menyenteri lantai bawah memperlihatkan eunice yang telungkup.

“Ayo kita keruangan kolam renang sekarang juga..” ucap Sana sambil mengelus kepala tzuyu.

“Yoona… Yoona yang melakukan iyu, eotteokhae… Dia melakukan itu, dia hanya ingin membunuhku.. Tapi kenapa dia membunuh semua orang” ucap tzuyu terisak.

Di ruangan kolam renang itu Sana
terus memeluk tzuyu agar tzuyu tidak marah lagi.

“Dimana pintu keluarnya?” tanya Sana pada tzuyu yang masih ketakutan.

“Disitu” ucap tzuyu pelan menunjuk sebuah tumpukan kardus.

“Tzuyu..” suara itu membuat tzuyu dan Sana menoleh kebelakang.

“Yoona-ah..” gumam tzuyu pelan.

“Kenapa kau lari dariku? Semakin kau berlari maka semakin membuatku ingin segera membunuhmu..” ucap yoona.

“Yoona.. Kau yang membunuh eunice?” tanya Sana sambil bersiap-siap dengan serangan yoona yang mungki saja menyerangnya.

“Eunice? Kurasa kau melupakan HiuHyeon… Kau ingin menjadi seperti mereka? Jika tidak tinggalkan aku dan tzuyu di ruangan ini..” ucap yoona menampilkan senyum sinisnya.

Tzuyu benar-benar tidak menyangka yoona bisa melakukan semua ini. Yoona adalah seorang monster, ia berubah. Dari wajahnya yang polos kini menjadi seorang pembunuh hanya karena Eunjin.

Yoona mengangkat linggisnya hendak memukul kepala Sana namun Sana dengan sigap langsung menahan linggis itu dengan tangannya.

“GEUMANHAE!!!!” teriak tzuyu sambil menutupi telinganya karena takut. “Apa yang ingin kau tanyakan? Kau ingin tau dimana Eunjin? Kau ingin tau dimana aku menyembunyikannya? Kau ingin tau dimana aku menguburnya?” ucap tzuyu membuat Sana terperangah tidak percaya.

‘Tzuyu? Tzuyu temannya sendiri yang suda membunuh Eunjin?” pikir Sana.

Tzuyu melangkahkan kakinya mendekati yoona. Yoona membanting linggisnya dan menarik kerah baju tzuyu.

“Eoddi!!!” tanya yoona.

Tzuyu menatap kolam renang disampingnya itu dengan lamat.

~FLASHBACK~

Sambil menahan tangisannya tzuyu menyelam di kolam renang itu yang kini airnya berwarna merah. Ia menarik tubuh Eunjin dan membaringkannya di tepi kolam renang. Tzuyu tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat kolam renang itu yang setengah jadi. Entah pikiran darimana ia menggali tanah di kolam itu cukup dalam seorang diri. Ia menarik kaki Eunjin untuk turun ke dasar kolam renang yang masih belum jadi itu, lalumendorong tubuh Eunjin jatuh ke dalam lubang yang sudah digali cukup dalam.

Sat itu juga tzuyu langsung naik dan menguburkan Eunjin dengan terus menghapus air matanya dan keringatnya tanpa henti tidak lupa melemparkan kamera Eunjin.

~keesokan harinya~

Ke esokan harinya terlihat tzuyu yang terbaring lemas diranjangnya.

“Tzuyu..kau gila? Siapa yang menyuruhmu untuk membersihkan kolam renang yang besar itu seorang diri? Untung aku yang menemukanmu terlebih dulu..jika ibumu yang menemukanmu kau benar-benar akan mati” ucap yoona kesal.

Saat itu juga ibu tzuyu datang dengan wajah cemasnya. “Kau..lihatlah kulitmu..sudah kubilang sesuatu yang kau sukai bisa saja membunuhmu!” ucap ibu tzuyu kesal.

“Eomma..aku akan berhenti dari kegiatan renangku, aku tidak suka renang lagi..aku trauma” ucap tzuyu dengan wajah datarnya.

“Bagaimana dengan Eunjin? Dia selalu mendukungmu..” tanya yoona heran.

“Anni..aku berhenti renang karena keinginanku sendiri yoona.. Dan jangan sebut nama itu dihadapanku..namanya membuatku tertekan..” ucap tzuyu yang membuat yoona heran.

Beberapa hari kemudian

“Kapan terakhir kali kau bertemu dengan Eunjin?” tanya yoona dengan wajah gusarnya.

“Pagi sebelum aku akan pergi ke lombaku..dia bilang dia tidak bisa pergi ke lomba ku..dan kupikir dia ada di kolam renang namun tidak. Malam itu aku sangat frustasi jadi aku ingin membersihkankolam renang itu. Setidaknya itu adalah salam perpisahanku untuk kolam renang.. Aku benar-benar tidak memikirkan Eunjin waktu itu, kupikir Eunjin akan kecewa padaku karena tidak mendapatkan mendali emas” ucap tzuyu panjang lebar.

“Eunjin menghilang.. Ia tidak ada dimanapun..” ucap yoona sambil mengatur nafasnya.

“Mungkin.. Dia ke suatu tempat?” tanya tzuyu heran

Pertanyaan tzuyu membuat yoona teringat pada hal yang sudah ia lakukan pada Eunjin.

~beberapa hari kemudian

“Sebenarnya..Eunjin tengah hamil.. Kurasa dia melarikan diri dan bunuh diri.. Ahjussi. Tolong kau hentikan pencarian Eunjin, aku tidak ingin sekolah tau jika Eunjin hamil. Terakhir kali di malam itu dia mengatakan padaku, aku harus menang dalam pertandingan itu. Ia mengungkapkannya seperti ia akan pergi jauh. Bahkan ia menolak untuk datang ke pertandinganku, tidak seperti biasanya. Ahjussi.. Eunjin sudah seperti saudaraku sendiri, ia tumbuh tanpa kedua orang tuanya. Ibuku juga sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Atas nama saudara dan sahabatnya, kuharap ahjussi mengerti” ucap tzuyu panjang lebar.

“Kalian dengar sendiri? Sebentar lagi..sekolah kami akan mengadakan ujian..kami tidak ingin kegiatan belajar-mengajar kami terganggu begitu saja. Bukankah keluarga mereka sudah merelakan kepergian Eunjin?” ucap kepsek pada kedua polisi itu.

“Yya!! Secara sepihak kau melakukan hal ini? Kau yang menghentikan pencarian Eunjin? Kau pikir Eunjin benar-benar mati? Dan menurutmu aku ini siapa?” ucap yoona setengah berteriak.

“Yoona-ah.. Eunjin adalah temanku, aku lebih dulu mengenalnya dari pada dirimu..aku sudah mengenalnya dari kecil.. Sementara kau? Kenapa kau tidak rela terhadap Eunjin? Kau mencintainya?” tanya tzuyu heran.

“Ne… Aku mencintainya..” balas yoona dengan nada dinginnya.

***

“Jalang… MATI KAU!!!” teriak yoona sambil mencekik leher tzuyu.

Tzuyu menangis dengan apa yang terjadi. Mata tzuyu memerah ia bahkan berusaha bernafas namun
tidak bisa, Sana benar-benar tidak tahan hingga ia mengambil linggis yoona dan membanting linggis itu dipunggung yoona. Sana terus mengulang pukulan itu hingga beralih dikepala yoona, tzuyu sudah sangat kritis sekarang.

“ARRRGGGHHH!!!!” teriak yoona semakin mencekik tzuyu dan melempar tubuh tzuyu ke kolam renang. Yoona langsung menarik tubuh Sana. Dengan luka parahnya yoona benar-benar tidak peduli pada Sana yang kini memukul kepala yoona.

Di kolam itu terlihat punggung tzuyu yang mengapung tanpa pergerakan. Sana terdiam tidak percaya. Ia sangat marah kepada yoona hingga ia memukul yoona tanpa henti.

“Eunjin-ah” gumam tzuyu yang matanya terbuka di kolam renang.

“Tzuyu-ah” terlihat seseorang muncul dari kolam renang, ia adalah Eunjin.

“Mianhae”

~ 5 tahun kemudian ~

“Sekolah ini ditutup karena tidak ada lagi yang berani bersekolah disini..sekolah ini sangat angker semenjak ditemukan beberapa mayat mengenaskan di dalam sekolah dalam satu malam. 1 mayat yeoja di UKS dengan luka sutusk di puncak kepalanya, 1 lagi murid namja dengan luka pukulan linggis di kantin” ucap seorang penjaga sekolah.

“Kudengar 2 mayat yeoja juga ditemukan dikolam renang ini?” tanya yeoja itu.

“Sekitar 7 tahun yang lalu, seorang murid membunuh temannya yang hamil dan menguburnya di dalam kolam ini. Mayat itu ditemukan sekitar 2 tahun kemudian setelah seseorang menemukan surat yang dipenuhi darah tergeletak di ruangan basket. Disurat itu dikatakan semua hal yang terjadi terhadap mayat itu. 5 tahun yang lalu murid yang membunuh temannya itu di temukan mengapung di dalam kolam, ia dibunuh setelah dicekik oleh seorang namja. Murid namja itu juga adalah temannya, ialah yang menghamili yeoja yang terkubur di dalam kolam. Murid namja itu juga mati dengan banyak luka, temannya dari klup basket sekolah ini yang memukulnya” jelas penjaga sekolah itu.

“Lalu berapa total murid yang meninggal itu?” tanya yeoja itu pensaran.

“Ada 6 mayat yang di temukan, 3 mayat yeoja dan 3 mayat namja..” ucap penjaga sekolah itu

“Lalu siapa murid namja lainnya?”
Tanya yeoja itu penasaran.

“Minatozaki Sana… Ia adalah murid terakhir yang tewas..ia tewas karena gantung diri, di kamar mandi ruangan basket ini. Karena ia sendiri yang menulis  surat itu, menjelaskan secara rinci..terhadap apa saja masalah yang terjadi” ucap penjaga sekolah itu.

“Lalu apakah surat itu masih ada?” tanya yeoja itu.

“Ada..surat itu di simpan di ruangan kepala sekolah” jawab penjaga sekolah itu.

“Apa aku boleh menunjukkan surat itu di terbitkan dimajalahku? Setidaknya itu bisa menjawab semua rsa penasaran orang-orang terhadap sekolah ini” ucap yeoja itu dengan penuh harap.

“Baiklah..ayo” ajak penjaga sekolah itu.

“Kurasa aku akan menunggu disini, ruangan basket ini cukup luas aku akan mengambil gambar di kamar mandinya” ucap yeoja itu yakin.

“Kau yakin? Dari semua tempat.. Ruangan basket inilah yang paling angker..” ucap penjaga itu.

“Gwaenchana.. Aku sudah terbiasa berada di tempat angker” balas yeoja itu biasa.

Yeoja itu mengambil gambar disetiap Sudut ruangan basket hingga kamar mandinya. Yeoja itu menyerah dan keluar dari kamar mandi itu. Ketika yeoja itu sudah berada di lapangan basket.

“Yuri noona… Kau meninggalkan kamera mu”

Yeoja bernama yuri itu langsung menolehkan kepalanya untuk menatap orang yang sudah memanggil namanya itu.

“Semua ini diawali karena mu” ucap sosok itu dingin.

“Sana..” gumam yuri mundur dari hadapan Sana.

Yuri mengira ia hanya berhalusinasi, sejujurnya ia sudah mengalami hal seperti ini.

“ARRRRGGGHHH!!!” tiba-tiba seseorang memukul kepala yuri dengan sebuah linggis membuat darah mengalir dengan deras di kepalanya.

“Semua ini tidak akan berakhir bila kau belum mati.. Itulah kalimat terakhir dari surat itu..”

End

ONESHOOT CAN I COME BACK TO MY HOME

image

Cast: Im Yoona & Jung Chaeyeon

Genre: Romance

lenght: Oneshoot

Rating: NC
.
.
.

Happy Reading

Yoong, kamu ikut kami, tidak?” sahutan sooyoung mengalihkan perhatian yoong yang sedari tadi terlihat kesal menggeledah ransel hitam miliknya.

“Sial. Kurasa jam tanganku tertinggal di ruang renang. Hari ini aku tidak ikut. Kalian pergi saja” tangannya mengibas-ibas mengisyaratkan sekelompok kawannya untuk pergi.

“Sayang sekali, padahal film kali ini lebih ‘panas’ dari yang kemarin. Ya sudah, selamat mencari. Bye hyung” pamit somi sembari meninggalkan ruang kelas diikuti kawan-kawannya dari belakang.

Sekarang tinggal yoong sendiri. Tapi kemudian ia meraih ransel dan menyusul keluar dari kelas, berlari menuju ruang renang sambil bergelut dengan pikirannya mencoba mengingat dimana ia meletakkan jam tangannya.

Perlahan-lahan dia membuka pintu kaca di hadapannya dengan hati-hati begitu juga saat ia melangkah masuk. Mata rusanya membesar ketika menangkap pemandangan yang ‘luar biasa’ baginya.

Di tepi kolam sesosok yeoja membelakangi yoong membuka seragam sekolahnya secara terang-terangan. Yoong bersembunyi di balik tiang dinding memperhatikan gerak-gerik yeoja itu seperti sedang memata-matai seorang penjahat.

Pikiran kotor yoong buyar seketika melihat baju renang dibalik seragam yang dibuka. Awalnya ia sudah menduga-duga warna pakaian dalam apa yang yeoja itu kenakan. Pink pastel? Baby blue? Pearl aqua? Atau warna hitam yang sering ia lihat di majalah dewasa.

Tapi biar begitu, bagaimanapun juga baju renang tetaplah ketat. Sudah pasti akan memperjelas lekuk tajam tubuh yeoja itu. Benar saja. Baju renang berwarna dark blue itu masih dapat di kategorikan sexy karena bagian bawahnya berbentuk celana dalam dan atasnya tanpa lengan.

“Lumayan” sepertinya namja ini benar-benar melupakan tujuannya datang kesini.

Yeoja itu melompat memasuki kolam dan mulai berenang. Yoong merasa seperti berada di pertunjukan teather air. Gerakan tajam tubuhnya yang meliuk-liuk di air sangat indah dan terlihat begitu profesional.

“Dasar pabo, kau datang kesini bukan untuk mengintip yeoja sexy berenang” ia bergumam sendiri setelah akal sehatnya kembali.

“Ehem” suara berat yoong menggema di ruang kolam yang sunyi. Dalam sekejap yeoja itu menghentikan aktivitasnya, wajah cantiknya terlihat terkejut saat menoleh ke arah yoong.

“Nuguseyo?” suaranya agak gemetar mungkin ia mengira yoona adalah namja mesum yang berniat menculiknya.

“Kau lihat jam tangan tidak? Kurasa aku meninggalkan jam tanganku saat pelajaran renang tadi” tanya tanpa basa-basi. Seperti biasa.

“Hm..aku belum lama disini, jadi aku tidak begitu memperhatikan sekeliling. Dimana kau terakhir kali meletakkannya?”

Kepala yoona mengadah ke langit-langit berusaha mengingat saat seusai pelajaran renang. Tapi sia-sia ia sama sekali tidak mengingat apapun selain ketika membasuh diri ketika di kamar mandi namja.

“Aku lupa, yang ku ingat terakhir kali disini saat mandi”

“Kalau begitu kau cari saja di kamar mandi namja”

“Tidak bisa. Kau itu tersangka. Bisa saja kau yang mengambil jam tanganku”

“Mwo? Kau menuduhku?”

“Hm” yoona berdehem seraya melipat kedua tangan di depan dada.

“Tapi aku tidak melihat apapun semenjak masuk kesini. Sungguh!”

“Tidak bisa dipercaya. Lebih baik bantu aku mencari untuk membuktikan kau tidak bersalah”

“Aish. Apa-apaan ini..” yeoja itu dengan sangat terpaksa keluar dari kolam.

Mata yoona tak sempat berkedip menjelajahi pemandangan menyegarkan di hadapannya. Namun segera ia tepiskan fantasi liar yang memenuhi otaknya. Tanpa ia menggeleng cepat kepalanya.

“Kau kenapa?” yeoja itu sudah berbalut baju handuk berwarna pink pastel namun tidak terikat. Terlihat seperti seorang yeoja baru selesai mandi.

“Aniyo. Ayo cari di kamar mandi namja”

Sudah sekitar 15 menit mereka menjelajahi setiap sudut ruangan lembab. Namun nihil hasilnya. Anehnya yeoja yang tidak bersalah itu terlihat lebih putus asa dibanding yoona.

“Kau yakin meninggalkannya disini?” suaranya terdengar aneh karena berbicara sambil menutup hidung dengan kedua jarinya, menahan bau busuk yang menusuk hidung.

“Hm” yoona memang tipe pemalas sampai-sampai ia terlalu malas untuk mengatakan “ne”

“Aish, tapi kita tidak menemukan apa-apa, disini selain bau busuk”

“Itu karena kau yang mengambilnya, sudahlah mengaku saja”

“Yang benar saja. Aku tidak melihat jam tanganmu, apalagi mengambilnya” ia pun keluar dari toilet menghampiri yoona yang sedang mencari di sekitar loker.

“Ini kan salahmu, kenapa jadi aku yang repot- HIYAAAAAA KECOAA!!!!” seekor kecoa terbang dan mendarat di lengannya. Secepat mungkin membuka baju handuknya dan berlari mendekap yoona begitu erat.

“Berisik bo- Hey, kau kenapa?” niat yoona membentak yeoja itu hilang ketika menyadari ia di peluk erat yeoja yang hanya mengenakan pakaian renang dengan gemetar ketakutan.

Bukannya menjawab pertanyaan yoona, yeoja itu malah terisak membenamkan kepalanya di dada yoona.

Dengan agak ragu namja itu membalas pelukannya. Tangan kirinya merangkul pinggang sedangkan satunya mengusap-usap punggung yeoja itu mencoba menenangkannya.

“Kecoanya sudah pergi. Kau bisa berhenti menangis”

Sebenarnya yoona tengah menahan mati-matian hormon namjanya, untuk tidak berbuat macam-macam pada yeoja ini. Bagaimana tidak? Payudara yeoja ini sangat empuk ketika memeluk dirinya.

“A-aku phobia kecoa..” ucapnya gemetar.

“Aku paham. Sebaiknya kita keluar dari tempat menjijikan ini” dilepasnya pelukan yeoja ini lalu menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya dengan ibu jari.

“Maaf merepotkanmu dan membuat ketakutan begini” penyesalan yoona terdengar tulus dibalas senyuman oleh yeoja itu.

“Sudahlah aku tak apa. Oh ya, aku jung Chaeyeon kelas 10-2. Kau?”

“Im yoona! Sudah malam. Masih mau berenang?” tanyanya setelah melihat ke jendela, warna langit yang sudah menjadi gelap.

“Aniyo, aku akan pulang”

“Ya sudah, cepat ganti baju”

“Loh? Kenapa kau mengaturku?”

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak perlu, aku bisa-”

Tanpa mengubris ucapan Chaeyeon. Ia malah mengambil seragam Chaeyeon lalu memakaikannya, juga mengaitkan setiap kancing bajunya dengan tidak sabaran.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku bisa sendiri?” ia merasa sedikit tegang dan kegelian di bagian dadanya karena yoona tanpa sadar menyenggol puting buah dadanya.

“Cerewet, aku tak suka menunggu. Kalau begini kan lebih cepat”

Setelah itu yoona juga memakaikan rok pendek pada Chaeyeon dari ujung kaki menuju pinggang. Lalu merapatkan tubuh Chaeyeon padanya agar yoona bisa meresleting roknya di bagian belakang.

Posisi mereka membuat keduanya semakin menegang. Apalagi yoona bisa kembali merasakan empuknya buah dada Chaeyeon sekaligus mencuri-curi kesempatan menyentuh bokong yeoja itu.

Setelah rok Chaeyeon terlesleting sempurna. Bukannya melepaskan pelukan, mereka malah seakan mematung dengan pikiran masing-masing.

Yoona sudah tidak dapat menahannya lagi. Kedua tangannya merangkul pinggang ramping Chaeyeon. Bibirnya mengarah ke telinga Chaeyeon. Ia mengecup, mengulum lalu menjilat cuping telinga Chaeyeon.

Karena tidak ada respon dari yeoja itu, baik itu membalas maupun menolak. Akhirnya namja tampan itu melanjutkan aksinya. Bibirnya turun hingga leher jenjang Chaeyeon.

Dikecup beberapa kali daerah sensitifnya lalu dijilat dan dihisap permukaan kulit putih leher itu, menimbulkan banyak tanda kemerahan.

Suara kecupannya mendominasi ruang kolam yang sunyi, mendengar itu Chaeyeon kembali mendapatkan akal sehatnya.

“Y-yoona..a-apa yang kau laku-ahh” Chaeyeon tak bisa menahan desahannya.

Bibir yoona mendarat di belahan payudaranya. Tak hanya itu sekarang tangan yoona beralih meremas buah dadanya dengan penuh nafsu. Kemudian dipilin pelan kedua putingnya dari luar seragam.

“Seharusnya aku membukakan baju renangmu bukannya memakaikanmu seragam. Iya kan, sayang?” godanya dengan suara yang terdengar seksi ditelinga Chaeyeon.

“H-hentikann..ahh” Chaeyeon menggigit bibir bawahnya sendiri mencoba menahan desahannya dan menghilangkan rasa takutnya.

“Kau yang harus berhenti menyakiti bibirmu. Kemarilah biar aku obati” lantas yoona mencium bibir Chaeyeon.

Ia menekan tengkuk yeoja itu untuk memperdalam ciumannya. Di lumatnya bibir bawah dan atas Chaeyeon secara bergantian. Chaeyeon hanya bisa memejamkan matanya.

Tak lama yoona melepaskan ciumannya. Menatap dalam kedua mata Chaeyeon. Mereka seperti mencari sesuatu dari cara mereka bertatapan. Lalu tiba-tiba yoona tersenyum simpul. Menjauhkan dirinya selangkah dari Chaeyeon.

“Ayo aku antar pulang” namja tampan itu mengambil tas mereka dan menarik pergelangan tangan Chaeyeon.

Chaeyeon tak mengeluarkan suara, ia mengikuti yoona yang membawanya menuju parkiran. Ia takut yoona berubah pikiran untuk menerkamnya lagi.

Yoona membukakan pintu mobil sportnya untuk Chaeyeon sembari tersenyum mencurigakan bagi Chaeyeon. Tapi lagi-lagi ia hanya bisa menurut.

Alis Chaeyeon bertaut keheranan. Pasalnya yoona juga ikut masuk ke tempat duduk di bagian belakang.

“Kenapa kau disini? Siapa yang menyetir?”

“Ck, pulangnya nanti saja. Ada hal yang belum ku selesaikan, jung Chaeyeon” senyum nakalnya mengembang sempurna.

Kemudian tangannya mengangkat tubuh ramping Chaeyeon agar berada di pangkuannya. Sekarang Chaeyeon duduk di kedua paha yoona. Kakinya ditekuk ke belakang punggung yoona.

“Eh? Kita mau ngapain?” pertanyaan polos Chaeyeon semakin menaikan hasrat yoona.

“Diam dan turuti perkataanku. Oke?” Chaeyeon mengangguk seperti orang yang sudah benar-benar kehilangan kewarasannya.

Yoona menarik tengkuk Chaeyeon, mengarahkan wajah cantik itu ke wajahnya. Ketika dahi dan hidung mereka bersentuhan, yoona mulai memejamkan matanya. Chaeyeon pun mengikuti yang dilakukan namja itu.

Bibir mereka pun berpautan, saling melumat. Tangan nakal yoona mencubit payudara Chaeyeon dan membuat yeoja itu membuka mulutnya. Tak disia-siakan kesempatan itu, yoona berhasil menelusupkan lidahnya ke mulut Chaeyeon.

Ciuman sejoli itu semakin panas. Lidah mereka beradu, juga tak lupa yoona mengabsen gigi-gigi Chaeyeon dengan lidahnya. Tangan kanan namja itu semakin menekan tengkuk Chaeyeon.

Yeoja itu sudah terlihat kelelahan sekaligus kehabisan nafasnya tapi yoona masih gencar memainkan lidahnya sambil meremas bokong Chaeyeon.

Karena tak lagi mendapat balasan, yoona melepaskan ciumannya, Chaeyeon segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya, begitu juga yoona.

“Hhh..kapanh kita pulang?” tanyanya dengan napas tersengal-sengal, seketika mimik wajah yoona berubah jadi kesal.

“Baiklah, kita pulang sekarang” yoona pun pindah ke tempat duduknya ke bagian depan. Ia juga bisa mendengar helaan nafas lega Chaeyeon, bibirnya spontan membentuk smirk.

Selama perjalanan tak ada yang membuka suara. Yoona fokus menyetir mobil sedangkan Chaeyeon memandang keluar jendela dengan muka suntuk.

“Hmm…memangnya kau tahu alamat rumahku?”

“Aniyo”

“Lalu kita mau kemana?”

“Apertemenku”

“Eh? Kau bilang kau akan mengantarku pulang”

“Memang, tapi besok. Malam ini menginap saja di rumahku”

“Ayolah, aku masih punya orang tua. Mereka pasti cemas anak putrinya tidak pulang semalaman”

“Kau bisa menelpon mereka dan mengabari kalau kau menginap di rumah teman, sayang”

“Berhenti memanggilku sayang, menjijikan”

“Terserah”

***

Chaeyeon tak bergeming di depan pintu bernomor 93, yoona yang lebih dulu masuk menatapnya bingung.

“Cepat masuk”

Chaeyeon semakin menundukkan kepalanya, matanya lebih betah menatap ujung sepatunya daripada menoleh pada yoona.

Yoona memutar bola matanya jengah lalu berdecak kesal. Ia pun berinisiatif menggendong Chaeyeon secara bridal dan menutup pintu dengan kakinya.

“Yaaaah! Turunkan aku, Im yoona!”

Namja itu pun menurunkannya dengan hati-hati, di kamar mandi.

“Mau aku mandikan atau mandi bersama?”

“Mandi sendiri!” Chaeyeon spontan menutupi badannya.

Yoona terkekeh geli mendengarnya. “Hahaha, baiklah aku mengerti” diacak-acaknya puncak rambut Chaeyeon dengan lembut. “Sebentar aku ambilkan handuk dan pakaianmu” yoona pergi meninggalkannya. Matanya menjelajahi kamar mandi namja tampan dan mesum baginya.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah tumpukan majalah yang tersusun rapi di sebuah rak.

“Untuk apa majalah di kamar mandi?” ucap Chaeyeon.

“Untuk mencuci mata” Chaeyeon terkejut saat tahu yoona ada dihadapannya.

“Cuci mata”

“Kau tidak tahu itu majalah apa?” Chaeyeon menggeleng cepat. “Majalah itu isinya gambar-gambar yeoja seperti dirimu”

“Seperti diriku?” Chaeyeon semakin terlihat kebingungan.

“Ck, lupakan. Kau memang yeoja polos yang cerewet. Nih handuk dan pakaianku, semoga ketat”

“Heh!”

Yoona segera bergegas keluar kamar mandi dan menutup pintu. Ia memutuskan menunggu dengan duduk di sofa seraya menonton film ‘panas’ kesukaannya.

Entah ini kebetulan atau bukan, Chaeyeon keluar dari kamar mandi dengan celana boxer hitam dan kaos putih kebesaran milik yoona. Parahnya, tepat pada saat yoona memanjakan ‘miliknya’

“Y-yoona, k-kau sedang apa?” Chaeyeon terkejut melihat milik yoona yang cukup besar sedang berdiri sempurna.

Yoona terlihat sumringah begitu melihat Chaeyeon. Ia pun melangkah menghampiri yeoja itu.

“Cepat bantu aku Chaeyeon”

“B-bantu apa? Bisakah setelah membantumu aku pulang?”

Yoona tidak mendengarkan Chaeyeon karena sibuk membetulkan celananya. Lalu ia merangkul dan menuntun Chaeyeon menuju tempat tidur. Setelah itu di dorongnya Chaeyeon hingga jatuh ke atas kasur.

Yoona segera menindih Chaeyeon.
Mencium bibirnya dengan kasar. Tangannya lihai meremas kedua payudaranya. Chaeyeon merasa nikmat luar biasa, ia mendesah ketika tangan yoona beralih mengelus bagian privat Chaeyeon dibalik celana dalamnya dengan kedua jari yoona.

“Kuharap kau belum lelah karena malam ini kau milikku seutuhnya, jung Chaeyeon”
.
.
.
***

Sinar matahari menembus kaca jendela setiap rumah di seoul pagi ini. Begitu juga dengan apartemen yoona. Sinar itu menyinari kedua sejoli bergelut dengan alam bawah sadar mereka di atas kasur.

Keadaan tempat tidur yang tak berbentuk lagi telah menjadi saksi bisu hilangnya keperawanan Chaeyeon semalam.

Keduanya masih terlihat terlelap begitu nyenyak meskipun tanpa berbalut sehelai benang dan hanya berbagai satu selimut berdua.

Yoona perlahan membuka matanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menguap. Ia baru menyadari tangan kanannya tengah menggenggam sesuatu yang kenyal rupanya buah dada Chaeyeon.

Melihat keadaan full naked mereka, ia pun tersenyum sumringah kemudian menarik tubuh Chaeyeon kedalam dekapannya. Ia tak tahu kenapa berdebar setiap kali memutar ulang kejadian kemarin, apalagi saat ingat tingkah dirinya yang tak bisa di kendalikan dan wajah polos Chaeyeon yang menerima segala perlakuannya.

Ia pun menatap wajah yeoja yang pertama kali membuat otaknya tak terkontrol. Wajahnya cantiknya yang diterpa sinar mentari membuat yoona berpikir sejenak apa tadi malam ia meniduri seorang bidadari?

“Eungh~”

“Cepat bangun, buatkan aku sarapan” Chaeyeon yang masih setengah sadar tidak mengubris perkataan yoona. Namja itu terlihat gemas memperhatikan gadisnya menggeliat kesana kemari.

“Yoona-ah”

“Hm”

“Apa setelah membuatkanmu sarapan aku bisa pulang?”

.
.
.

END

CHAPTER 3 MY HANDSOME DEVIL

image

Cast: Im Yoonan a.k.a Yoona Snsd

Jung Chaeyeon DIA (II)

Genre: kekerasan, hurt, NC

Rating: +20

Chaeyeon Pov

Sungguh, aku tak tahu harus bersikap bagaimana ketika dihadapan yoonan. Kenapa dia memperlakukanku seperti itu? Dia berubah, dan ya tuhan…aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengannya.

Saat ini aku sedang melihatnya berkumpul bersama ahjussiku. Sedangkan aku sendiri bersama dengan yebin. Yoonan sesekali melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan, sungguh, aku jadi salah tingkah karena nya.

“Well…sepertinya hubungan kalian membaik” ucap yebin.

“Hubungan kami memang baik, yebin” aku mencoba tersenyum.

“Sekarang, tapi tidak dulu. Coba lihat, dia sesekali memandangmu seakan ingin memakanmu hidup-hidup” yebin menggodaku.

“Kau berlebihan”

Dan yebin tertawa. Mungkin dia menertawakan wajahku yang sudah semerah tomat.

“Chae, kuharap kau bahagia dengannya. Tapi aku penasaran, bagaimana hubunganmu dengan taejoon oppa?”

Pertanyaan yebin membuatku tertegun. Bagaimana dengan taejoon oppa? Kenapa aku tidak memikirkannya sedikitpun saat aku berada di dekat yoonan.

“Aku tidak tahu?” ucapku pasrah.

“Kau masih berhubungan dengan taejoon oppa?”

“Tentu saja yebin, dia kekasihku, aku mencintainya”

“Tapi kau sudah memiliki yoonan oppa, chae”

“Yoonan juga memiliki yeoja lain selain aku, yebin”

Yebin menggelengkan kepalanya. “Sungguh, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Kalian terlihat baik-baik saja, bahkan tatapan matanya seakan menunjukkan jika hubungan kalian sangat panas” yebin berkata sambil terkikik geli.

“Panas kau bilang?” aku mencubit lengan yebin, bisa-bisanya dia menggodaku.

“Chae..”

Ya tuhan..hampir saja aku terlonjak karena terlalu terkejut dengan suara yoonan yang berada tepat di belakangku. Bukan karena panggilannya, tapi karena suaranya yang terdengar serak membuatku sedikit merinding.

“Ne..!” aku membalikan tubuhku dan mendapati tubuhnya tepat menjulang tinggi dihadapanku.

“Apa aku mengganggumu?”

“Aniyo yoong…ada apa?”

“Aku ingin keluar sebentar, apakah tidak apa-apa?”

Ada apa dengannya? Bukankah biasanya dia keluar masuk sesuka hatinya? Kenapa saat ini seakan dia ingin meminta izin dariku?

“Tidak masalah..pergilah?”

“Aku hanya sebentar chae..”

“Aku tahu..”

Lalu tanpa kuduga dia mendaratkan bibirnya tepat dibibirku…mengecupnya lembut. Ya tuhan…aku tak bisa bernafas.

“Tunggu aku, jangan tidur dulu” bisiknya tepat di telingaku. Astaga…pesan sensualnya benar-benar membuat pipiku memerah, untung saja yebin sudah meninggalkanku tadi saat yoonan menghampiriku. Lalu kemudian kulihat dia pergi begitu saja. Sebenarnya kemana dia?

***

Yoonan Pov

Saat ini aku sedang berada di sebuah di jeonju. Tzuyu tadi menghubungiku, dia menyusulku kemari dan saat ini sedang menungguku di sebuah kamar do hotel ini.

Kamar 202, aku mengetuk sebentar, lalu tak lama kemudian seorang yeoja cantik keluar hanya mengenakan kimono tidurnya.

Tzuyu menarikku masuk ke dalam kamarnya. Tanpa banyak bicara dia menyerang bibirku dengan bibirnya.

“Aku merindukanmu oppa..sangat merindukanmu” ucapnya di sela-sela desahannya.

Aku menegang seketika, tzuyu memang sangat hebat dalam mencium, hanya dengan ciumannya saja dia mampu membuatku menegang. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku bercinta dengan panas bersama Chaeyeon di dalam bath up kamar mandi.

Chaeyeon, setelah mengingat nama itu, semuanya terasa hambar. Aku menjauhkan tzuyu dari tubuhku, dan menatapnya dengan tatapan tak suka.

“Kenapa oppa?”

“Kau..perlu sesuatu? Kenapa kau menyusulku kemari?”

“Aku merindukanmu oppa..”

“Tzuyu..kupikir sebaiknya tidak disini” aku mencoba menghindarinya.

“Yoonan oppa..kau menolakku?”

“Tidak sayang…”

“Kau menolak ku. Aku menyusulmu ke jeonju dan ini yang aku dapatkan? Sebuah penolakan?” teriaknya tak percaya dengan apa yang kulakukan.

Astaga…apa aku sudah gila? Aku tak pernah menolak yeoja di atas ranjang apalagi jika yeoja itu kekasihku yang seksi. Tanpa banyak bicara, aku mencumbunya kembali. mendorong tubuhnya mundur hingga terjembab di atas ranjang. Aku menindihnya, melumat bibirnya hingga aku kembali menegang seketika. Saat itu juga aku menurunkan celanaku dan kutenggelamkan diriku ke dalam dirinya. Ini nikmat, tapi tentu saja ta senikmat bersama Chaeyeon.

Chaeyeon!! Lagi-lagi nama itu terngiang di kepalaku. Dengan frustasi aku bergerak secepat mungkin.

“Chae…aku tak dapat menahannya lagi..!!” racauku dengan tak sadar, lalu meledaklah aku di dalamnya…sial..benar-benar nikmat.

Aku tersungkur lemas di sebelah tzuyu, tak mempedulikan tzuyu yang menatapku dengan tatapan membunuhnya. Aku mengernyit, apa aku berbuat salah?

“Apa ada masalah, baby?” tanyaku padanya.

“Kau keterlaluan!” ucapnya sambil berdiri dan merapikan kimono tidurnya.

“Apa yang kulakukan?”

“Kau bercinta seakan-akan bercinta dengan seorang pelacur. Aku kekasihmu oppa, bukan yeoja yang kau bayar untuk memuaskan nafsumu. Kau jahat, kau memperlakukanku dengan kasar kau bahkan menyebut nama yeoja itu di sini..saat berada di dalam tubuhku…!!”

“Sh*t!! Apa aku melakukan itu? Apa aku menyebut nama Chaeyeon tadi?” Aku bertanya-tanya dalam hatiku.

“Pergilah..aku ingin sendiri..”

“Tzuyu..”

“Pergilah oppa..!” teriaknya lagi. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi ketika dia sudah marah. Tzuyu yeoja keras kepala, dan aku tak ingin memperkeruh keadaan ketika ia sedang marah padaku. Lebih baik aku mengalah.

***

Aku sampai di rumah yebin tepat jam 1 malam. Disini sangat sepi. Saat aku membuka pintu, di dalam masih ada orang tua yebin yang masih berbincang-bincang.

“Yoong.. Kau baru pulang? Sapa eomma yebin.

“Ne..ahjumma. Maaf tadi aku bertemu dengan salah rekan kerja”

“Oh, tentu saja sayang. Kau pengusaha muda yang memiliki jam padat. Aku bahkan heran, saat tahu kau meluangkan waktumu menemani Chaeyeon kesini”

Aku tersenyum. “Aku hanya tak ingin melihat istriku bersama namja lain, ahjumma” ahjumma dan ahjussi tertawa renyah.

“Ne..kami tahu, bagaimana pun juga kalian masih pengantin baru?” aku tersenyum ahjussi mencoba menggodaku.

“Kami menunggu bayi mungil dari kalian” ucap ahjumma, dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum padanya.

Tentu saja…secepatnya aku akan membuat Chaeyeon hamil dan mengakhiri hubungan ini.

***

Aku membuka pintu kamar kami dan mendapati Chaeyeon tidur meringkuk di ujung ranjang. Dia mengenakan lingerie seksi berwarna hitam. Astagaa..hanya melihatnya seperti itu saja membuatku menegang kembali.

Aku naik ke atas ranjang. Aku mencoba tak tergoda oleh Chaeyeon. Tapi sial!! Nafsuku yang besar tentu membuat semuanya memburuk aku mengecupi wajah lembut Chaeyeon. Mengecupi pundaknya yang sedikit terbuka.

Chaeyeon mengerang dan dia membuka matanya. “Yoong..” panggilnya dengan terkejut. Saat bibirnya terbuka, aku melumatnya habis, membuatnya terengah dengan ciuman sensualku.

“Ku bilang jangan tidur, chae.. Tunggu aku..” bisik ku pelan. “Aku ingin bercinta dengan mu, menyatu dengan mu, dan mengubur dalam-dalam diriku di dalam tubuhmu” lanjutku lagi dengan suara yang sangat serak.

“Lakukanlah…yoong” ucapnya pasrah.

Aku membalik tubuhnya cepat hingga ia berada di bawahku. Lalu tanpa banyak bicara, aku menyatukan diri dengw Chaeyeon, mengubur diriku semakin dalam di dalam tubuhnya. Dia memekik tertahan karena kejantananku yang menghujamnyan tiba-tiba.

Sh*t!! Aku bahkan tak bisa menggerakan diriku di dalam sana. Semuanya terasa erat mencengkeramku, menghisapku, seakan tak memperbolehkanku bergerak leluasa, ini sangat sempurna, kenikmatan yang tak pernah kudapatkan dari yeoja lain.

“Chae, a…aku akan bergerak” kataku menahan gairah.

“Yahhh…” jawabnya dengan mendesah. “Bergeraklah yoong..oh astaga” dia terengah-engah

Damn!! Pemandangan wajah penuh kenikmatan yang di pancarkan Chaeyeon benar-benar membangkitkan seluruh gairahku. Aku mulai bergerak pelan, di dalam sana sangat sempit.

Chaeyeon mendesah nikmat, bibirnya yang sedikit terbuka membuatku tak kuasa menahan diri untuk mencumbunya. Aku mengcekeram dagunya, mengarahkannya padaku lalu segera menikmati bibir tipisnya itu. Ciuman yang sangat lembut tanpa menghentikan pergerakanku di bawah sana.

“Apa kau menikmatinya, baby?” tanyaku dengan parau.

“Aahh…” hanya itu yang dapat ia ucapkan.

“Begitupun dengan ku” kataku lalu kembali melumat habis bibirnya, bibir yang kudamba…mencumbunya tanpa habis hingga kami berdua tiba pada pelepasan kami secara bersamaan.

***

Aku melihat Chaeyeon yang wajahnya tampak pucat, dia juga tak nafsu makan. Ada apa dengannya? Apakah ia sakit?

Ini sudah 2 bulan sejak kami menghabiskan malam di rumah yebin, di jeonju. Hubungan kami mulai membaik. Bagaimana mungkin aku mengacuhkannya, jika tiap malam dia selalu membuatku mendesah karena nikmat.

Tujuanku masih sama, membuatnya hamil lalu aku mendapatkan warisan dari appaku. Tapi sampai saat ini Chaeyeon belum juga hamil.

Pagi ini kami akan makan pagi bersama, ketika tiba-tiba aku melihat Chaeyeon membungkam mulutnya dengan tangannya, lalu berlari ke kamar mandi di dekat dapur. Ada apa dengannya? Saat aku menyusulnya, dia sedang memuntahkan seluruh isi perutnya.

“Kau tidak apa-apa, chae?” tanyaku selembut mungkin, sambil mengusap punggungnya.

Chaeyeon membersihkan wajahnya lalu menghadapku, wajahnya benar-benar pucat.

“Tidak apa-apa, aku hanya…” dia tak melanjutkan kata-katanya ketika tubuhnya tiba-tiba limbung dan terjatuh begitu saja dalam pelukanku.

Chaeyeon pingsang….

Tobe continue…