CHAPTER 1 FOOLISH LOVE

image

Cast :

Im yoona a.k.a Im Yoong

Jung Chaeyeon (DIA (II)

Jessica Jung a.k.a Jung Sooyeon

Krystal Jung a.k.a Jung Soojung

Rating : Romance, Sad, Teenager to be Mature

Lenght : Chapter

Chaeyeon Pov

Kutatap gedung besar berwarna putih dihadapanku ini yang sudah hampir setahun selalu aku kunjungi setiap minggunya. Gedung yang berisikan dengan orang-orang yang berkebelakangan mental atau biasa dikatakan autis. Ya, gedung ini adalah gedung rehabiltasi. Dengan langkah malas kulangkahkan kakiku memasuki gedung ini. Kulihat penghuni di gedung ini dengan tatapan datar di umur mereka yang sudah lanjut tetapi bertingkah seperti anak kecil. Kubukan pintu kamar yang bertulis IM YOONG. Terlihat namja yang sedang ku kunjungi dengan berpakaian serba putih sedang bermain dengan boneka teddy bear kesayangannya di atas tempat tidurnya. Kalau tidak ada tujuan, aku mati-matian tidak akan mau mengunjunginya.

“Kau sedang apa?”

Kuletakkan makanan yang kubuat sendiri di meja samping tempat tidurnya. Kuhembuskan nafasku dengan kasar. Bukan sekali duakali dia mengacuhkanku. Tak mau ambil pusing segera kusiapkan makanan untuknya.

“Buka mulutmu” sahutku dingin.

“Sudah makan” jawabnya sambil memainkan boneka teddy bearnya. Tiba-tiba saja seorang perawat masuk ke dalam.

“Oh, nona jung, kau sudah datang” kulihat perawat tersebut membawa vitamin untuk disuntikkan. “Belakangan ini yoong tidak mau makan, jadi mau tidak mau kami memberinya vitamin lebih” kata perawat tersebut.

“Kau baru aku tinggal seminggu kau sudah mengulah tidak mau makan” tanyaku dengan nada sedikit tinggi. Kulihat dia menghentikan acara bermainnya dengan bonekannya dan memeluk bonekanya erat.

“Jangan terlalu keras nona, itu bisa menghambat penyembuhan yoong” sahut perawat itu dengan nada sedikit takut. Ku hembuskan napasku kasar sambil melihatnya tajam.

“Maaf” ucapku kepada perawat disampingku ini.

“Yoong sekarang makan ya. Nona jung kan sudah datang. Kalau kau tidak makan kau bisa sakit” kulihat perawat membujuk yoong agar makan. Kemudian perawat ini tersenyum kepadaku lalu keluar dari kamar yoong.

Ku ambil makanan di meja lalu kusodorkan nasi ke mulut yoong. “Makan cepat waktuku tak banyak”

Sial, dia menggeleng. “Makan atau kubuang bonekamu” kutatap dia dengan tajam. Dengan gerakan cepat dia mengambil makanan di tanganku lalu memakannya dengan asal seperti anak kecil. Dan lihat lah makananya banyak berjatuhan di atas selimutnya. Menambah pekerjaan saja.

Aku tidak habid pikir bagaimana bisa aku dijodohkan dengan dia oleh orang tuaku. Hanya karena dia satu-satunya penerus perusahaan SOSHI CORP perusahaan yang diterkenal di korea dan itu artinya perusahaannya bisa mengangkat kembali perusahaan appa yang hampir dikatakan bangkrut. Ya, walaupun kata dokter dia bisa sembuh dari penyakit mentalnya. Tapi sama saja, saat ini dia dikatakan autis. Dengan umur 23 tahun tetapi sifat seperti anak kecil berumur 5 tahun. Aku tidak tahu pasti kenapa dia bisa seperti ini. Yang ku tau ini bukan penyakit bawaannya dari lahir. Benar-benar menyebalkan apakah tidak ada namja lain yang cocok untukku? Tidak harus dengan namja dihadapanku yang bisa dikatakan autis.

Ku bersihkan wajahnya yang belepotan oleh makanan dengan tisu basah. Setelah itu ku bersihkan juga selimutnya. Tidak mungkin kubiarkan dia tidur dengan nasi yang bertumpahan di selimutnya. Aku tidak sejahat itu.

“Aku ada hal lain, aku pergi dulu” ucapku setelah selesai membersihkan wajahnya selimutnya dan juga kamarnya.

“Kau mau pergi lagi?” kulihat dia yang sekarang bertanya dengan mata memerah. Apa dia mau menangis lagi aku pergi. Benar-benar seperti anak kecil.

“Besok aku kembali lagi”

“Jinjja” tanyanya dengan cengiran konyolnya

“Ne” jawabku singkat kemudian kulangkahkan kakiku keluar kamarnya. Sebelum kututup pintu kamarnya dapat kulihat dia melambai seperti orang bodoh.

Author

Chaeyeon menapaki tangga rumah satu persatu menuju rumahnya dengan langkah lemah.

“Kau sudah pulang?” Chaeyeon menoleh ke sumber suara. Disana terdapat kedua onnienya lagi membuat makan malam.

“Appa, eomma?”

“Mereka pergi ke china?” Chaeyeon mendengus mendengar jawaban onnienya Sooyeon.

“Sebaiknya kau bersihkan dirimu lalu kita makan malam. Kau belum makan kan?” soojung dengan lembut. Dengan gerakan lemah Chaeyeon menggeleng kepalanya kemudian melangkahkan kakinya ke kamar sendiri.

Kini mereka makan malam dengan diiringi canda tawa. Chaeyeon sangat bersyukur mempunyai kedua kakak yang perhatian kepada dirinya. Tidak seperti orang tuanya, yang lebih mementingkan uang dan menelantarkan kasih sayang terhadap dirinya dan juga kakaknya. Nasib dia kedua kakaknya juga sama. Sama-sama dipaksa menikah dengan bukan pilihan mereka sendiri. Tapi setidaknya kakak Chaeyeon lebih beruntung karena tidak menjodohkan dengan namja berkebalakangan mental seperti yoong. Chaeyeon sempat protes kenapa harus dia, tapi protesnya itu tidak di gubris oleh kedua orang tuanya.

“Selama aku pergi yoong tidak mau makan” ujar Chaeyeon disela-sela makan malamnya.

“Jinjja? Bagaimana kesehatannya?” Sooyeon menatap Chaeyeon dengan cemas, bagaimanapun juga Sooyeon kakak tertua jadi dia harus perhatian kepada adik-adiknya dan juga calon pendamping buat adik bungsunya ini.

“Kesehatannya tidak bermasalah. Dia hanya tidak banyak bergerak seperti biasanya karena lemas” dengan nada datar Chaeyeon menjawab.

Soojung menatap adik satu-satunya. “Kau baik-baik saja kan?”

Chaeyeon diam menatap makanan dihadapannya. “Aku baik-baik saja, kalau tidak di jodohkan dengannya” desisnya dingin.

“Chaeyeon apa yang kau katakan” Sooyeon terbelalak kaget mendengar penuturan adiknya ini.

“Aku akan baik-baik saja kalau tidak dijodohkan dengan anak autis seperti dia” kini Chaeyeon menjerit di depan kedua kakaknya. Matanya memerah menahan tangis dan juga wajahnya menegang membuat kedua kakaknya tidak bisa mengatakan apa-apa. Kemudian Chaeyeon menangkup kedua tangannya. “Kenapa hidupku harus seperti ini” mendengar isakan dari mulut Chaeyeon yang tak kuat merasakan sesak didadanya.

Sooyeon dan soojung saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka beranjak mendekati adiknya tersayang lalu memeluknya. Dengan sayang.

“Mianhae” desis Sooyeon.

Soojung yang memang tidak bisa melihat orang nangis apalagi adiknya nangis juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan adiknya.

-ooo-

Hari senin adalah hari paling dibenci oleh Chaeyeon. Hari dimana semua pekerjaan dimulai dan Chaeyeon juga merasakan hal itu. Semua pekerjaan menyambutnya dari tugas kuliah sampai tugas perusahaan yang di tangani sendiri. Chaeyeon menatap buku yang berisikan catatan tentang perusahaannya disela dosennya mengejar. Rasanya dia ingin mati menghadapi tugas-tugas yang menghampirinya.

“Baiklah kita akhiri kuliah hari ini”

Chaeyeon menatap dengan senang melihat dosennya beranjak pergi dari ruangan.

“Chae ayo kita makan siang” temannya menepuk pundak Chaeyeon dan membuat Chaeyeon harus menoleh ketemannya.

“Ah tidak. Aku ada kerjaan. Kalian saja ya” jawab Chaeyeon dengan senyuman.
“Ya ampun kau ini, pasti urusan perusahaanmu ya? Sekali-kali kau harus ingat pacaran dong chae”

Dengan senyuman tipis Chaeyeon membalas pertanyaan temannya dan entah kenapa Chaeyeo mengingat yoong yang sudah lebih dari seminggu tidak dikunjunginya.

-ooo-

Chaeyeon memarkirkan mobilnya didepan gedung putih yang biasa dia kunjungi. Rasanya Chaeyeon tidak akan lelah menghela napas kalau tiba di tempat ini.

Di tatapnya pintu kamar yoong, dengan ragu Chaeyeon membuka knop pintu yoong kemudian Chaeyeon terdiam. Dia tidak ada, dengan cepat Chaeyeon melangkahkan kakinya ke dalam kamar yoong. Mulai mencari dari dalam kamar mandi, balik lemari sampai di bawah tempat tidur, tapi tidak ada yoong, kini Chaeyeon mulai khawatir.

“Yoong..”

YOONG KAU DIMANA?” teriak Chaeyeon dengan kelimpungan.

“Yoong!”

Tak merasa ada jawaban Chaeyeon melangkahkan kakinya untuk mencari yoong. Baru selangkah di depan pintu Chaeyeon dikejutkan oleh perawat shin. Perawat yang biasa menangani yoong.

“Ah nona jung, kapan datang?” perawat shin dengan ramah bertanya kepada Chaeyeon.

Dengan muka menegang Chaeyeon menatap perawat shin kemudian menatap ke arah kamar yoong.

“Oh, yoong. Yoong sedang diruang terapi psikologis” papar perawat shin seakan mengerti apa yang ada di pikiran Chaeyeon.

“Ah…” kini Chaeyeon melepaskan napas dengan tenang.

“Ah, ia ini laporan psikologis yoong, nona. Dan kami cukup terkejut dengan psikologinya yang meranjak ke titik normal” dengan bingun Chaeyeon mengambil lembaran yang diberikan perawat shin. Sama seperti yang dikatakan perawat shin, Chaeyeon juga kaget melihat grafik psikologis yoong dari bersifat anak-anak kini sudah mendekati pubertas. Seulas senyum dibibir Chaeyeon melihat grafik psikologis yoong.

“Aku dan juga dokter yang lain optimis yoong bisa normal seperti namja yang diluaran sana. Ah tidak bisa membayangkan betap kerennya yoong nanti apalagi dengan ketampanannya itu” perawat shin tersenyum hangat ke arah Chaeyeon dan disambut senyuman simpul oleh Chaeyeon.

“Kalau begitu saya pergi dulu nona jung” perawat shin pamit dari hadapan Chaeyeon.

Kini Chaeyeon menduduki dirinya di tempat tidur yoong. Dilihatnya sekeliling kamar yoong. Chaeyeon cukup tertegun melihat kamar dengan aroma khas namja. Lalu dilihatnya kembali papan tulis disamping tempat tidur yoong yang berisikan gambar-gambarnya dengan teddy bear boneka kesayangannya yang digambar oleh seperti anak kecil. Dan juga pandangannya tidak lepas oleh vas-vas yang berisi bunga baby breath bunga kesukaan yoong yang sudah mulai kering. Apa dia tidak menggatinya batin Chaeyeon.

Chaeyeon tidak sengaja melihat buku diary yoong dan dia mulai membukanya.

Air mata Chaeyeon tak terbendung lagi dan kini airmatanya mengalir dipipinya setiap membaca kata-kata yoong untuknya. Apa diary ini khusus buat dia. Dengan gerakan kasar Chaeyeon membolak-balikan diary yoong. Dan ternyata benar semua itu tentang dia.

“Chaeyeon sedang apa?”

Terkejut mendengar suara yoong, Chaeyeon langsung meletakkan diary yoong ke tempatnya.

“Sudah selesai terapinya?” sahut Chaeyeon yang sebelumnya menghapus air matanya secara kasar.

Yoong mengangguk seperti anak kecil. Yoong mendekati Chaeyeon.

“Chaeyeon menangis?” tanya yoong dengan suara serak.

“Chaeyeon jangan menangis” kini air mata yoong dengan cepat keluar dari matanya.

“Aniyo, aku tidak menangis. Kau jangan menangis. Masa namja menangis”

“Yoong tidak menangis” yoong menghapus air matanya dengan lengan bajunya.

“Sudah makan?”

Yoong menggeleng. “Belum, Chaeyeon bawah makanan buat yoong?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Hum…ayo kita makan”

-ooo-

Chaeyeon menghitung-hitung kalender didepannya ini. Sudah lebih dari setahun dia mengenal yoong dan mengunjungi yoong kalau waktunya senggang. Sejujurnya Chaeyeon bosan harus mengunjunginya terus. Hanya daja Chaeyeon tidak tega berbuat jahat kepada yoong. Chaeyeon mengakui kalau yoong itu tampan untuk anak autis seperti dia.

Hari minggu hari dimana yoong bisa di bawah yoong keluar jalan-jalan. Yoong sudah siap dengan pakaian santainya kini sedang menatap toko bunga disamping gedung ini.

“Hai bunga yang indah, kita bertemu lagi”

“Wah yoong… Kau pagi sekali datang” sapa pemilik toko.

“Hai lee ahjumma, senang bertemu dengan mu lagi” yoong membungkuk kemudian tersenyum ke lee ahjumma.

“Omo,omo,omo. Lihat kau semakin tampan” lee ahjumma mengagumi yoong.

“Jinjja?”…yoong jadi malu” yoong menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kau mau membantu”

Dengan antusias yoong mengangguk.

-ooo-

“Chae…ayo bangun?”

“Eonnie…ini hari minggu aku masih mengantuk” Chaeyeon menjawab dengan masih memejamkan matanya.

“Karena hari minggu lah kau harus bangun. Kau tidak mengajak yoong keluar? Pasti yoong sudah lama menunggumu”

“Ya…eonnie” protes Chaeyeon.

“Sudah cepat bangun mandi dan sarapan dibawah. Sooyeon eonnie sudah menunggu dibawah”

Masih dengan mata terpejam Chaeyeon mendengus kesal.

“Sekali-kali kau ajak yoong ke tempat keramaian. Agar psikisnya semakin membaik”

“Kalau dia normal semakin cepat aku menikah dengan nya”

“Bukankah kau bilang kau sudah lelah menunggu yoong kembali normal?” Sooyeon menatap adiknya.

“Tapi setelah menikah dengannya lalu perusahaan appa kembali normal kemudian aku meninggalkannya gitu?” jawab Chaeyeon.

“Eonnie tau betapa jahatnya aku sebagai wanita” sambung Chaeyeon lagi.

Kedua kakaknya menghela napas melihat adiknya.

Langkah santai mengawali jung Chaeyeon menulusuri koridor-koridor gedung rehabilitasi. Sesampainya di kamar yoong. Chaeyeon mengkerutkan keningnya membaca tulisan tangan yoong.

“Yoong berada di toko bunga disamping. Chaeyeon menyusul yoong ya”

Chaeyeon mencibir membaca tulisan yoong

Tidak menunggu lama Chaeyeon menuju toko bunga disamping gedung.

“Chae…”

“Chaeyeon datang”

Biasanya Chaeyeon akan marah dia dipanggil chae oleh yoong. Tapi kali ini Chaeyeon diam. Malah dia tersenyum tipis ke yoong.

“Kau mau aku ajak pergi?”

Seketika mata yoong berbinar di ajak pergi.

“Chaeyeon mengajak yoong pergi? Lagi? Jinjja?” yoong menatap Chaeyeon dengan mata rusanya dan juga senyuman yang dianggap manis oleh Chaeyeon.

“Ini aku membawakan baju untukmu. Segeralah ganti baju didalam. Aku tunggu”

Selagi menunggu yoong yang sedang berganti baju. Chaeyeon memperhatikan bunga baby breath yang baru saja di rawat yoong.

“Pantas saja si bodoh itu menyukainya. Bunga ini sangat indah” gumam Chaeyeon.

“Yoong sudah siap, ayo pergi?”

Chaeyeon diam melihat yoong. Lebih tepatnya terpesona. Yoong sangat tampan.

“Chaeyeon” yoong melambai-lambaikan tangannya ke wajah Chaeyeon.

“Bagaimana? Yoong tampan kan?” yoong memutar-mutar badannya di depan Chaeyeon.

“Ah…Chaeyeon sebentar ada yang ketinggalan, yoong masuk ke dalam dulu” kemudian yoong berlari-lari kecil menuju ke dalam gedung.

“Disini” Chaeyeon sedikit berteriak kepada yoong yang sudah keluar dari gedung putih.

Yoong menghampiri Chaeyeon dengan cepat. “Mian lama” yoong menundukkan kepalanya kepada Chaeyeon.

“Ayo masuk ke mobil”

-ooo-

Chaeyeon memarkirkan mobilnya ke taman bunga.

“Waaahhh taamman bungaaa”

Yoong menatap takjub taman dihadapannya.

“Kau suka?” Chaeyeon melirik yoong.

“Ya..ya…yoong sangat suka. Gomawo jung Chaeyeon”

Ujar yoong dengan senang dan juga tersenyum manis kearah Chaeyeon.

Kemudian mereka berkeliling taman bunga.

Sudah lebih dari 30 menit mereka berjalan mengelilingi taman bunga yang luas ini. Chaeyeon sedikit kecewa karena yoong sedari tadi tidak mau berjalan di sampingnya. Dengan cepat Chaeyeon menarik lengan baju yoong. “Kau harus berada disampingku nanti kau bisa hilang arah” Chaeyeon beralasan karena dia melihat ekspresi penuh tanda tanya dari yoong.

“Mau duduk?” tanya Chaeyeon.

Yoong menoleh kearah Chaeyeon kemudian mengangguk seperti anak kecil.

Keheningan melanda mereka berdua. Mata Chaeyeon tertuju ke sebuah bunga di ujung sungai.

“Wah lily” sahut Chaeyeon kencang sepertinya dia tidak sadar.

Yoong ikutan menoleh ke arah bunga yang Chaeyeon katakan.

“Chaeyeon suka lily?” yoong menatap Chaeyeon dengan ekspresi bingun.

“Mereka indah, aku menyukainya. Sayangnya bunga itu jauh disana. Kalau tidak sudah ku hampiri bunga itu”

Yoong menatap Chaeyeon dengan diam tapi kemudian tapi yoong menatap bunga lily di ujung sungai buatan itu.

“Mau minum?”

“Yoong mau” cengir yoong kesenangan.

“Baiklah tunggu sebentar” Chaeyeon pun bangkit dari duduknya mencari minuman.

Chaeyeon sedikit tersenyum melihat minuman ditangannya. Minumab kesukaan yoong.

Chaeyeon menatap heran bangku yang ditempatinya tadi. Yoong tidak ada. Chaeyeon mengedarkan pandangannya keseluruh taman tersebut.

“Yoong”

Teriak Chaeyeon kaget melihat yoong tenggelam.

“YOONG”

Minuman yang dipegang jatuh. Chaeyeon berlari kearah sungai.

“Yoong… Kemari gapai tanganku” histeris Chaeyeon.

“Yoong… Ayo gapai tanganku”

Sayang itu sia-sia karena yoong sudah masuk ke dalam sungai.

SIAPA PUN TOLONG. TOLONG, ADA YANG TENGGELAM DISINI” teriak Chaeyeon kencang airmatanya sudah mengalir.

Tidak butuh waktu lama, beberapa pengunjung mulai menolong yoong.

Chaeyeon duduk di depan ruangan gawat darurat menunggu kabar dari dokter.

Chaeyeon mendongakkan kepalanya melihat dokter sudah keluar dari ruangan.

“Bagaimana keadaannya dokter?” ucap Chaeyeon cepat.

Dokter itu tersenyum kearah Chaeyeon.

“Maaf, sebelumnya anda siapa?” tanya dokter itu dengan ramah.

Chaeyeon tertegu dengan pertanyaan dokter. “Aku…aku tem– ah tidak aku calon istrinya” jawab Chaeyeon mantap.

Dokter itu tersenyum.

“Calon suami anda baik-baik saja sekarang. Tinggal menunggu dia bangun. Beruntung air tubuhnya bisa disedot keluar. Kalau calon suami sadar. Besok anda bisa bawah pulang ke rumah” papar sang dokter.

“Saya iri dengan anda, anda memiliki calon suami yang sangat tampan, juga romantis” ujar dokter itu ke Chaeyeon.

“Kamhsamnida dokter” ujar Chaeyeon menundukkan badannya.

“Ah tidak masalah. Itu memang tugas saya. Saya pergi dulu. Anda bisa masuk sekarang” kemudian dokter paru baya tersebut pergi meninggalkan Chaeyeon

Dengan gugup Chaeyeon membuka knop pintunya, dia perlahan masuk ke dalam.

Setelah berada disamping yoong, Chaeyeon perlahan menatapnya. Chaeyeon terbelalak kaget melihat apa yang ada ditangan yoong.

“Itu…”

Tanpa terasa air mata mengalir dipipinya. Tubuh Chaeyeon lemas seketika. Tanpa ragu Chaeyeon menggenggam tangan yoong.

“Yoong bangun…” Chaeyeon menangis.

“Yoong… Ayo bangun” desis Chaeyeon sambil sesenggukan.

“Yoong…” Chaeyeon semakin menangis.

“Ayo bangun ca-calon suamiku” ucap Chaeyeon.

“Eunghhh”

Chaeyeon dengan cepat mendongakkan kepalanya dilihatnya yoong perlahan membuka matanya.

“Yoong” desisnya parau.

Yoong menoleh ke Chaeyeon. “Chaeyeon” sahut yoong dan tersenyum.

“Ia ini aku” jawab Chaeyeon.

“Jangan banyak bergerak” sahut Chaeyeon kesal.

Yoong ingin bertanya kenapa Chaeyeon menangis.  Tapi tiba-tiba dia teringat bunga lily itu.

“Ini buat Chaeyeon” yoong memberikan bunga lily.

Air mata Chaeyeon yang tadi sudah mereda kini kembalj jatuh bebas ke pipinya.

“KAU TAU KAU TADI HAMPIR MATI KARENA BUNGAN ITU”

Teriak Chaeyeon didepan yoong.

“KENAPA KAU MENGAMBIL BUNGA ITU KAU HAMPIR MATI TADI YOONG”

Chaeyeon memukul-mukul yoong.

“Kau membuatku khawatir. Kenapa kau membuatku merasa seperti wanita jahat yoong” nada pilu keluar dari mulut Chaeyeon.

Entah dorongan darimana yoong memeluk Chaeyeon.

“Chaeyeon jangan menangis. Chaeyeon tidak jahat” kini yoong ikutan menangis.

“Chaeyeon membuat yoong sedih. Yoong tidak mau Chaeyeon menangis. Tangis Chaeyeon membuat yoong sakit”

Yoong sesenggukan memeluk Chaeyeon.

“Jung Chaeyeon jangan menangis” jemari-jemari yoong terulur menghapus menghapus lembut airmata Chaeyeon.

“Yoong tidak suka melihat Chaeyeon menangis”

“Jangan menangis lagi ya” pinta yoong dengan suara parau.

“Ah yoong.. Bodoh..bodoh” tiba-tiba yoong memukul kepalanya.

“Yoong apa yang kau lakukan” seru Chaeyeon melihat yoong menyakiti dirinya.

“Yoong telah membuat Chaeyeon menangis. Yoong bodoh” yoong menarik tangannya dan memukul dirinya lagi.

“Yoong.. Jangan sakiti dirimu…aku mohon” isak Chaeyeon sambil menarik paksa tangan yoong.

“Ani…yoong cocok mendapatkan ini”

“Aniyo yoong, aniyo”isakan Chaeyeon semakin kencang.

“Jangan lakukan..jangan” pinta Chaeyeon memeluk yoong erat.

“Jangan..” desis Chaeyeon yang sudah tak kuat menahan sakit didadanya.

Chaeyeon tertegun karena yoong memeluknya kembali.

Yoong menarik tubuh Chaeyeon agar duduk ketempat tidurnya. “Maafkan aku” desis yoong dingin dengan nada berat ditelinga Chaeyeon. Sukses membuat Chaeyeon merinding mendengar kata-kata yoong yang sangat jantang menurutnya.

Kini yoong sedang tertidur pulas.

“Kau tertidur seperti anak kecil” gumam Chaeyeon.

Mata Chaeyeon tertuju pada bunga lily yang dia buang. Chaeyeon mengambil bunga itu.

“Gomawo” Chaeyeon tersenyum tulus kearah yoong yang tertidur pulas.

Chaeyeon mengambil ponselnya dari sakunya.

“Ada apa?”  tanya Chaeyeon tanpa basa-basi.

“Appa ingin kau menjauh dari yoong karena appa telah menemukan calon yang lebih baik darinya dan juga perusahaannya menjanjikan”

“MWO? Apa appa katakan” Chaeyeon kaget mendengarnya.

“Dia terlalu lama sembuhnya”

“Jadi buat apa menjodohkan aku dengannya” tanya Chaeyeon dengan emosi.

“Sudah kau jangan membantah”

“Tidak! Aku ingin membantah” tegas Chaeyeon.

“Apa katamu” terdengar nada marah dari ayahnya.

“Beri waktu 3 bulan. 3 bulan aku akan membuatnya menjadi normal”

“Baiklah 3 bulan. Lewat 3 bulan kau harus segera menikah dengan pilihan yang kuberikan”

“Terserah” Chaeyeon mematikan teleponnya secara sepihak.

Chaeyeon menggenggam ponselnya dengan kuat. Dipegannya dadanya sendiri yang terasa sesak. Lalu mengalihkan pandangannya menatap yoong dan berjalan perlahan melangkahkan kakinya ke arah yoong. Didudukkannya tubuhnya disamping yoong. Bulir-bulir air Chaeyeon mengalir di pipinya. Digenggamnya tangan kiri yoong dengan kedua tangannya.

“Dalam 3 bulan aku akan membuatmu normal seperti yang lainnya. Ujar Chaeyeon disela isak tangisnya kemudian dia mengecup punggung tangan yoong dengan lembut.

Tobe Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s