CHAPTER 1 MY HANDSOME DEVIL

image

Cast : Im Yoonan a.k.a Yoona Snsd

Jung Chaeyeon DIA (II)

Zhou Tzuyu Twice

Genre : Kekerasan, Hurt, NC

Happy Reading

Chaeyeon Pov

Memiliki seorang suami tampan pastinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang yeoja biasa sepertiku, ya…aku sangat bangga memiliki suami yang sangat tampan seperti Im Yoong. Wajahnya terlihat tegas dengan garis kokoh seorang namja sejati, aku sangat bangga memiliki suami yang bagaikan malaikat. Tapi tak ada yang tahu jika dia seperti iblis…iblis bertubuh malaikat.

Aku jung Chaeyeon, 3 bulan yang lalu aku masih menjadi yeoja biasa dengan seragam putih bersih dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit. Ya..aku hanya seorang perawat. Tapi semuanya berubah ketika aku bertemu dengannya. Im yoong.

Tiba-tiba dia datang ke rumah, melamar dan seminggu kemudian menikahiku. Tentu saja semua ini terasa sangat membingunkan untuk ku. Yoong bukanlah namja biasa seperti tae joon, namjachingu ku. Yoong, tentu saja, melebihinya. Dia namja kaya dengan ketampanan di atas rata-rata. Saat itu aku berpikir, kenapa dia mencariku dan menikahiku begitu saja? Jawabannya ada pada kalung yang sedang ku kenakan saat ini.

Kalung berbentuk separuh hati, yang separuhnya lagi ada pada yoong, bagaimana bisa? Aku juga tidak tahu dan tak mengerti bagaimana persisnya. Eomma hanya bercerita padaku jika dulu saat masih bayi aku dan yoong sudah di jodohkan.  Kami dulu memang tinggal di Busan, lalu saat aku berusia tujuh tahun, appa mengajakku dan eomma pindah ke seoul, karena appa memang di pindah tugaskan ke kota ini, dan kami tinggal disini hingga saat ini.

Datangnya yoong 3 bulan yang lalu, membuat orangtuaku mengingat janji-janji mereka saat aku masih bayi dulu.

Janji akan menikahkan aku dengan salah seorang keluarga Im yang tak lain adalah Im yoong, si iblis tampan bertubuh malaikat.

Kenapa aku menjulukinya seperti itu? Sungguh, yoong memang seperti seorang iblis, iblis berwajah tampan. Dia dikenal sebagai pengusaha muda berdarah dingin. Siapapun yang menentangnya akan digilas begitu saja. Memiliki banyak yeojachingu, dan bahkan dia tak segan-segan mengajak yeojachingunya tersebut menginap dirumah kami. Sikapnya kasar, sering meledak-ledak, pemaksa dan juga pemarah.

Tapi aku menyukainya…

Suka? Astaga…ya..aku suka. Entah sejak kapan, aku juga tak tahu. Yoong mempengaruhiku. Mungkin sejak malam itu… Malam dimana aku menjadi istri sesungguhnya untuk nya.

Beberapa minggu yang lalu…

Flashback

Aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Mungkin sebuah ketukan kurang sesuai, itu lebih mirip dengan sebuah gedoran. Kulirik jam di nakas yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Siapa yang menggedor pintu kamarku seperti itu? Apa itu yoong? Ahh…mana mungkin dia ke kamarku, bukankah dia memiliki kamar sendiri?

Walau kami sudah menikah, tetapi tentu saja kami tak tidur sekamar. Dia memilih tidur di kamar tidur pribadinya yang ekstra besar itu daripada harus tidur denganku. Sambil sesekali menguap aku membuka pintu kamarku, dan sontak aku terkejut saat bibir itu mendarat mulus di bibirku.

Dia menciumku…

Astaga…sangat panas. Ciuman yang aku sendiri tak tahu kenapa bisa begitu mempengaruhiku… Dia mendorongku, lalu merangkul pinggangku, dan menendang pintu di belakangnya hingga tertutup rapat.

Ciumannya semakin intens, dia mengajak lidahku menari dengan lidahnya, membuat perutku seakan dihinggapi ribuan kupu-kupu. Ada apa dengan namja ini? Ada apa denganku?

Yoong melepaskan pagutannya dan menatapku dengan mata rusanya, dia mabuk…aku tahu itu. Aku mendorongnya menjauh tapi dia kembali lagi kesisiku, memeluk ku erat.

“Aku ingin menyatu denganmu Chaeyeon…” ucapnya sensual tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang.

Lalu kurasakan bibir basahnya menyentuh permukaan leherku, menghisapnya disana… Di sekitarnya…lalu turun ke pundakku. Please…jika aku harus melakukan ini, kumohon jangan pada saat dia mabuk seperti ini… Aku memohon dalam hati.

“Yoong… Kau mabuk”

“Aku tak peduli Chaeyeon… Aku menginginkanmu”

Lalu yoong mendorongku hingga telentang di atas ranjang. Menindihku dan kembali mencumbuku. Ya tuhan… Sampai kapan siksaan ini berakhir?

Yoong mulai membuka satu per satu kancing piyama yang ku kenakan. Matanya berkilau saat melihat gundukan di dadaku. Aku malu, sungguh sangat malu. Ini pertama kalinya aku melakukan hal ini di depan namja, tubuhku terekspos tepat dihadapan seorang namja. Aku memalingkan wajahku ke samping, tapi kemudian yoong meraih wajahku, seakan menyuruhku untuk menatap mata indahnya.

“Kau malu Chaeyeon…?”

Aku tak menjawab, tentu saja aku sangat malu. Ini adalah hal yang paling intim yang pernah kulakukan dengan seorang namja.

“Jangan malu dan jangan takut… Setelah ini aku akan mengajarimu untuk menyentuhku” lalu yoong mendaratkan bibir basahnya tepat di ujung payudarku, memainkannya..membuatku merintih nikmat! Kenapa seperti ini? Atau apa memang seperti ini rasanya?

Yoong masih saja memainkannya bergantian. Ya tuhan…rasanya benar-benar aneh, aku seperti terbang melayang…aku bahkan berani mengacak-acak rambut cokelat yoong. Ini terasa nikmat…

Cumbuan yoong kini bergeser menuruni puncak payudaraku, aku bahkan merasakan tangannya mulai menurunkan celana piyama yang kukenakan.

“A…apa yang kau lakukan yoong?”

“Sshh…aku akan membuat ini indah untuk kita”

Lalu tak ada yang dapat kulakukan lagi selain merintih nikmat saat jari-jarinya mulai memainkan pusatku? Namja ini begitu ahli. Pantas saja jika ia memiliki banyak kekasih ternyata cara dia bercinta sepanas ini…

“Yoong…kumohon hentikan…aku…”

Aku sedikit melihat yoong menyeringai. “Belum sayang…ini belum seberapa…”

Lalu dia mendaratkan bibirnya pada pusatku dan lagi-lagi bermain-main disana…astaga…aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia begitu ahli bagaikan seorang dewa seks…saat aku hampir menjerit karena pelepasan, tiba-tiba yoong menghentikan aksinya, ia menatapku dan tersenyum. Aku sedikit mengerang sebagai bentuk protes karena dia menghentikan aksinya yang membuatku nikmat.

“Belum saatnya sayang, gunakan aku untuk mencapai puncak itu”

Lalu aku melihatnya berdiri, membuka seluruh pakaian yang ia kenakan termasuk celananya. Tubuhnya terlihat kokoh dan memiliki abs yang bagus. Dia terlihat sangat gagah, tampan dan tentunya..panas, dan dia suamiku..astaga, aku masih tak dapat mempercayainya.

Dia kembali menindihku, lalu memposisikan dirinya diantara kedua pahaku…aku terkesiap saat dia mulai menyentuhkan kejantanannya pada pusatku, mendesak masuk. Yang kurasakan saat ini adalah sakit dan sedikit perih. Aku memejamkan mataku bahkan menggigit bibirku.

“Kau siap Chaeyeon?” tanyanya dengan terengah. Dan aku hanya dapat menganggukan kepala lemah. Yoong menghentak keras masuk ke dalam hingga kami menyatu seutuhnya. Yang kurasakan saat ini perih, seperti dirobek oleh sesuatu dan aku menangis.

Yoong mengarahkan wajahku hingga kami saling menatap. “Mianhae Chaeyeon…”

Lalu dia mulai melumat bibirku, menari-nari dengan lidahku, membuatku kembali terengah, merasakan kenikmatan yang tadi sempat hilang karena rasa sakit yang melandaku.

Dia mulai menggerakkan dirinya, tak menghentikan cumbuannya pada tubuhku. Yoong benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Apa yang membuatnya seperti ini?

“Aaahhh….” aku mengerang, sungguh, yoong kembali membuatku gila. Dia juga mengerang, sesekali meracau tak jelas.

“Kau sungguh menakjubkan…” racaunya masih dengan mencumbuku. “Aku akan sampai Chaeyeon…” lalu dia mempercepat gerakannya. Membuatku semakin terengah, nafasku semakin pendek, dan aku tak dapat merasakan apa-apa lagi ketika kepalaku mulai berputar, mataku berkabut, dan semua otot-ototku menegang karena kenikmatan yang kurasakan dari yoong. Tak lama kemudian aku merasakan ia mengerang panjang, menandai jika ia juga mencapai pelepasannya.

Yoong kembali menciumku lembut. Sesekali berkata. “Gomawo Chaeyeon…” dan aku tak tahu apa yang dikatakannya lagi ketika rasa kantuk mulai melandaku.

End Flashback

***

Aku mendengar pintu depan terbuka dengan keras. Siapa lagi jika bukan namja itu, sang iblis penghuni rumah ini. Aku sedikit mendengar yoong berteriak marah kepada pelayannya. Apa yang terjadi? Tapi Sudahlah…bukankah setiap hari yoong memang selalu berteriak seperti itu? Aku sudah tidak heran lagi, dia memang pemarah dan suka meledak-ledak.

Aku melanjutkan lagi kegiatan memasak dengan para pelayannya. Ya…aku memang suka memasak, disela-sela pekerjaanku sebagai perawat, saat dirumah aku selalu menyempatkan diri untuk memasak dengan eomma.

“Ehhheemmm”

Aku mendengar suara berdehem tepat di belakangku. Membalikkan tubuhku dan sangat terkejut saat tubuh tegap itu tepat berdiri dibelakangku.

“Ada apa?” tanyaku sedikit gugup. Sejak malam itu kami memang tak pernah berbicara lagi, kecuali jika ada hal yang penting untuk dibahas. Hubungan kami masih sama datarnya seperti sebelumnya, tetapi tentu saja yoong selalu mempengaruhiku. Bayangan akan kelembutan yang dia berikan malam itu seakan selalu terngiang di kepalaku.

“Kita makan malam di luar” ucapnya datar.

“Aku sudah masaka yoong..”

“Aku ada janji dengan teman, dan aku ingin kau menemaniku”

“Tapi aku..”

“Aahh lupakan! Aku akan keluar dengan kekasihku yang lain saja” ucapnya dingin lalu meninggalkanku.

Ya…seperti itulah yoonan. Dia selalu bersikap dingin dan menyebalkan ketika kemauannya tidak di turuti. Dan aku menyesal karena tak menuruti kemauannya.

****

Kenapa aku bisa mengajak wanita kolot itu untuk makan malam denganku? Sungguh, itu sama sekali bukan aku. Apa karena malam itu? Malam dimana aku mabuk hanya karena melihat wajah cantiknya.

Sejak malam itu aku tak bisa berkonsentrasi lagi. Pikiranku selalu pada sosok yang selama ini kusebut dengan wanita kolot.

Bagaimana tidak? Jung Chaeyeon, yeoja yang sudah lebih 3 bulan ini kunikahi. Adalah seorang yeoja biasa, dengan pakaian yang tak kalah biasanya, bukan apa-apa, tapi cara berpakaiannya benar-benar tak sesuai dengan warga seoul umumnya. Dia sangat biasa, dan aku tak percaya jika aku mau menjadikannya sebagai istriku.

Malam itu, entah setan apa yang merasukiku hingga aku menyentuhnya dan sekarang berakhir dengan aku yang selalu penasaran terhadapnya.

Aku menginginkannya lagi…dan…lagi..

Tapi tentu saja aku memungkiri semua itu. Hubunganku dengan Chaeyeon tidak semulus hubungan seorang namja dan yeoja pada umumnya. Kami awalnya tak saling mengenal, dan tiba-tiba saja kami harus menikah dan tinggal bersama. Ini benar-benar gila. Jika bukan karena warisan itu, mungkin aku tak akan menikahi Chaeyeon saat ini.

Aku dan Chaeyeon memang sudag dijodohkan sejak kecil. Tapi tentu saja saat itu aku menolak mentah-mentah perjodohan itu, mana mungkin aku mau menikah dengan yeoja biasa seperti dia…tapi nyatanya, tanpa sadar dia mempengaruhiku. Entah setan apa yang membuatku ingin menemuinya malam itu disaat aku sedang mabuk. Dan…terjadilah malam yang membuatku menginginkannya kembali.

“Yoong, apa yang kau pikirkan?” tzuyu, yeoja yang duduk disebelahku, akhirnya angkat bicara karena kediamanku.

“Tak ada” jawabku datar.

“Apa kau tahu jika kau berubah yoong..? Kau jadi semakin dingin”

“Aku banyak pekerjaan di kantor tzuyu, harusnya kau mengerti”

“Tapi sepertinya bukan karena itu”

“Terserah apa katamu…” jawabku ketus.

Aku juga tak mengerti kenapa aku bisa bersikap semenyebalkan ini dengan tzuyu. Bukankah dia kekasihku? Apa ini ada hubungannya dengan Chaeyeon?

Ahh…sial, nama itu lagi.

“Yoong… Kapan kau akan menceraikan istri kampunganmu itu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Bukankah kau berjanji akan menikahiku yoong… Aku tidak suka kau dekat dengan dia” rengek tzuyu padaku.

“Tidak semudah itu tzuyu…warisan itu belum jatuh di tanganku. Semua masih atas nama appa, jadi aku belum bisa menceraikannya”

Alasanku menikahi Chaeyeon hanya karena warisan keluarga yang akan kuterima setelah aku menikahi yeoja itu. Hanya itu saja.

“Apa itu masih lama yoong…?”

Aku mengangkat bahu. “Aku tak tahu, semoga saja tidak”

“Tapi aku lelah yoong, jika harus sembunyi-sembunyi seperti ini”

Aku mengusap pipinya dengan ibu jariku. “Tenang baby…semua akan membaik…segera setelah aku menerima warisan itu, aku akan menceraikannya dan akan menikahimu” jawabku penuh keyakinan.

Tentu saja aku menceraikannya. Bagaimanapun juga aku tak mungkin hidup selamanya dengan yeoja biasa seperti Chaeyeon.

***

Setelah makan malam dengan tzuyu, aku tak langsung pulang. Aku lebih memilih pergi ke rumah orangtuaku. Aku terlalu malas jika pulang dan mendapati Chaeyeon masih terjaga, aku hanya tak tahu harus berbicara apa dengan nya.

Appa dan eomma pindah ke seoul sebulan yang lalu. Tentu saja aku yang menyuruhnya, mungkin mereka akan tinggal disini selama beberapa bulan sebelum kembali lagi ke busan. Appa dan eomma sangat menyayangi Chaeyeon, aku tak tahu apa yang telah dilakukan oleh yeoja itu hingga appa dan eomma sangat menyayanginya.

“Malam, eomma, appa..” sapaku saat melihat kedua orang tuaku di ruang keluarga.

“Yoong.. Kau sendirian? Dimana Chaeyeon?” eomma bertanya dengan antusias.

Selalu itu yang ditanyakan. “Entahlah, aku tak tahu”

“Bagaimana, bisa kau tidak tahu. Dia kan istrimu?”

“Aku banyak urusan eomma, aku tak selalu mengurusnya” jawabku singkat. “Appa…kapan penyerahan warisan itu akan dilaksanakan?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku tak bisa menunggu lama lagi. Chaeyeon bisa mempengaruhiku jika aku terlalu lama hidup dengannya.

“Kau hanya memikirkan warisan, yoong? Tapi maaf, appa belum bisa menyerahkan warisan itu padamu”

“Mwo? Tapi kenapa?”

“Tidak, sebelum kau memberi kami seorang cucu dari Chaeyeon..”

“MWO??” teriakku tak percaya, apa maksudnya? Apa mereka tak mengerti jika aku dan Chaeyeon tak mungkin memiliki bayi bersama!!

***

Aku kembali pulang dengan sangat kesal. Rasanya aku ingin meledak-ledak pada siapapun yang berada di dekatku. Mana mungkin aku bisa membuat Chaeyeon hamil sedangkan hubungan kami saja bukan hubungan yang wajar.

Aku membuka pintu dengan gusar, dan ternyata aku mendapati Chaeyeon masih terjaga dan duduk santai di sofa ruang tamu. Apa yang terjadi? Apa dia sedang menunggu?

“Hai yoong..” sapanya dengan sedikit kaku.

“Ada apa?” jawabku ketus.

“Yoong, aku…besok aku ingin pergi ke jeonju beberapa hari karena saudara eomma sedang melakukan acara pernikahan, apa aku boleh kesana?”

“Terserahmu saja, itu bukan urusanku”

“Ku pikir kau mau mengantarku, yoong..”

“Mengantar? Kau pikir aku seorang pengangguran yang memiliki pekerjaan?”

“Baiklah, kalau begitu aku sendiri saja” katanya lalu bergegas meninggalkanku.

“Bagus…pergilah, lebih lama lebih bagus” aku sedikit berteriak karena Chaeyeon sudah tak terlihat.

Tobe continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s