CHAPTER 2 MY HANDSOME DEVIL

image

Cast: Im Yoonan a.k.a Yoona snsd

Jung Chaeyeon DIA (II)

Zhou Tzuyu Twice

Genre: Kekerasan, Hurt, NC

Yoonan Pov

Paginya aku bangun sedikit kesiangan. Tadi malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan keinginan appa dan eomma. Jika itu satu-satunya jalan aku mendapatkan warisan itu, lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meniduri Chaeyeon untuk kedua kalinya.

Aku bangun dan bergegas membuka jendela kamarku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah sebuah mobil jelek yang terparkir di depan rumahku. Mobil siapa itu? Apa Chaeyeon menerima tamu? Bukankah dia akan jeonju hari ini.

Aku pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahku lalu bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. Di ruang tamu aku melihat seorang namja sedang duduk. Siapa dia?

“Nuguseyo? Ada perlu apa kemari?” tanyaku dingin. Rumahku memang tak pernah kedatangan tamu selain yeoja-yeoja yang menjadi kekasihku.

“Anyeonghaseyo Taejoon imnida, namjachingu Chaeyeon”

“MWO?” teriakku tak percaya

Berani-beraninya yeoja itu membawa kekasihnya ke rumah ini. Apa dia tak tahu batas privasi seseorang? Apa dia ingin membuatku marah? Tanpa banyak bicara lagi aku pergi ke kamarnya, kubuka keras pintu kamarnya lalu kubanting hingga pintu itu tertutup dengan keras.

“Yoong.. Apa yang terjadi?” tanyanya sedikit kerkejut saat aku menghampirinya.

“Apa yang terjadi? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa namja itu ke rumaku?” teriakku tepat di hadapannya.

“Apa maksudmu, yoong?”

“Namja brengsek di luar itu. Siapa yang mengijinkanmu membawanya kemari?”

“Umm…aku…aku minta maaf, tapi dia yang akan mengantarku ke jeonju pagi ini, yoong…”

“Kau bisa memintaku Chaeyeon, kenapa harus memintanya”

“Aku sudah memintamu tadi malam yoong… Dan kau menolaknya”

Aku terdiam!! Dia benar, bukankah tadi malam aku sendiri yang menolaknya, lalu apa aku membiarkannya pergi dengan namja itu?

“Lupakan tadi malam, aku akan mengantarmu, jadi usir dia sekarang juga” kataku dengan datar

“Tapi yoong, aku tidak enak kalau harus mengusirnya , karena aku yang memintanya untuk datang kemari”

Aku melangkah mendekatinya hingga Chaeyeon mundur. “Wae? Karena dia kekasihmu? Aku tidak peduli, kau harus mengusirnya sekarang juga” desisku tajam. Lalu aku pergi meninggalkannya begitu saja. Apa yang terjadi denganku?

Chaeyeon Pov

Dasar iblis…dia benar-benar menyebalkan. Bukankah tadi malam aku sudah memintanya untuk mengantarku? Dan dia menolak keras permintaanku. Lalu kenapa pagi ini dia berubah pikiran dan meledak-ledak tak jelas? Astaga…aku bisa gila jika harus hidup selamanya dengan iblis yang satu itu.

Akhirnya dengan berat hati aku menghampiri taejoon oppa, dan berusaha menjelaskan jika hari ini rencana kami ke jeonju bersama gagal. Semoga saja taejoon oppa mengerti.

“Hai Chaeyeon… Kenapa kamu belum bersiap? Ini sudah sedikit siang” sapanya sambil berdiri, ya tuhan, aku tahu harus berkata apa padanya.

“Taejoon oppa, mianhae, sepertinya rencana kita batal” jawabku sedikit pelan.

“Kenapa batal chae? Ada masalah?”

“Tidak taejoon oppa. Umm sepertinya…yoonan…”

“Aku sendiri yang akan mengantar istriku kesana” suara itu datang dari tangga dan terdengar tegas. Tapi…apa? Istri? Sejak kapan dia memanggilku sebagai istrinya?

“Umm…taejoon oppa, aku sungguh minta maaf”

“Any chae, kau tidak perlu meminta maaf. Aku senang jika ada yang mengantarmu” jawab taejoo oppa sambil mengusap lembut rambutku.

“Singkirkan tanganmu dari rambutnya” kali ini yoonan yang berbicara dengan nada dinginnya. Ya tuhan…sebenarnya apa masalah namja ini?

Taejoon menarik tangannya kembali kemudian melangkah ke hadapan yoonan.

“Kau tidak berhak mengaturku tuan”

“Dia istriku”

“Dia kekasihku”

Lalu keduanya saling menatap dengan tatapan tajam. Aku bahkan sudah melihat tangan yoonan mengepal seakan ingin menghantam wajah di hadapannya.

“Baiklah taejoon oppa, kupikir kau harus pulang, aku harus segera berangkat” kataku mencoba untuk mencairkan ketegangan diantara mereka.

“Baiklah chae, jangan lupa hubungi aku setelah sampai di jeonju”

Aku mengangguk, lalu mengantar taejoon oppa keluar sampai ia meninggalkan rumah yoonan. Aku kembali dan mendapati yoonan dengan tatapan tajamnya. Apa dia akan marah? Meledak-ledak mungkin? Aku tak tahu, dan aku hanya bisa diam dan menunduk dihadapannya.

“Cepat siapkan barang-barangmu sebelum kita kesiangan” katanya dengan dingin dan pergi begitu saja meninggalkanku. Aku melihat tangannya masih mengepal. Dia masih marah? Apa yang membuatnya marah?

***

Akhirnya pun kami sampai di jeonju, disana sudah ada eomma dan beberapa keluargaku, tentu saja, ini adalah pesta pernikahan yebin unnie. Dia akan menikah dengan namja yang dicintainya.

“Hai chae…apa kabar? Yebin menyambutku sambil mmengecup kedua pipiku.

“Aku baik, kau sendiri?”

“Kau bisa lihat, aku lebih dari baik” katanya dengan sangat bahagia. “Oh, hai yoong…kupikir kau tidak akan kesini. Chaeyeon bilang jika kau mungkin sangat sibuk” sapa yebin pada yoonan yang sejak tadi berdiri di belakangku.

“Yahh…aku memang sibuk, tapi aku akan mengantar istriku kemana pun dia pergi” katanya dengan nada posesif. Ya tuhan ada apa dengan dia?

“Uhh..kalian membuatku iri” goda yebin unnie. Dan aku hanya bisa merasakan pipiku memanas karena nya. “Baiklah, kalian bisa ke atas, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian” lanjut yebin unnie lagi.

Aku mengangguk dan mulai menaiki tangga diikuti yoonan di belakangku. Aku membuka pintu berwarna cokelat yang berada di ujung ruangan. Yaa..tentu saja itu kamarku. Dulu, aku sering menginap disini dan kamar inilah yang menjadi kamar favoritku.

Aku melihat yoonan melemparkan diri ke atas ranjang. Mungkin dia lelah, sedangkan aku memilih untuk mendekat ke arah jendela kaca besar yang langsung menuju ke balkon samping rumah ini.

Tak lama aku mendengar suara ponsel berbunyi. Itu ponsel yoonan. Aku melihat dia mengangkat teleponnya dan entah kenapa itu membuat dadaku sesak saat mendengar yoonan dengan suara di seberang sana.

“Halo baby! Aku tidak ada di rumah?”

“….”

“Aku di jeonju, yaah…sedang menghadiri acara keluarga”

“…”

“Oh, kau tidak perlu menyusulku ke sini”

“…”

“Baiklah..aku tidak akan melarang jika kau benar-benar merindukanku”

Aku sudah tak tahan lagi mendengar suara-suara mereka. Aku langsung bergegas menuju ke kamar mandi. Mungkin dengan mandi aku bisa menghilangkan stress yang ada di kepalaku.

Ini bukan sekali dua kali yoonan menelpon yeoja dengan mesranya, aku sangat sering mendengar dia bermesra-mesraan di telepon. Bahkan  melihat dengan mata kepalaku sendiri pun aku pernah. Yah…yoonan sering sekali membawa teman yeojanya pulang dan bahkan menginap, dan entah kenapa aku tidak suka dengan itu.

Aku menenggelamkan diri ke dalam bath up sambil memejamkan mata. Aroma mawar dari sabun yang disediakan benar-benar membuatku rileks. Ketika aku mulai sedikit demi sedikit terenggut dari kesadaranku, tiba-tiba aku merasakan air di dalam bath up bergelombang seakan ada yang mengusik ketenangannya.

Dan benar saja, saat aku membuka mata, aku mendapati yoonan yang sudah telanjang bulat, masuk ke dalam bath up bersamaku. Astaga…apa yang dilakukan namja ini? Dengan gelegapan aku terbangun dan beringsut menjauh.

“Apa yang kau lakukan yoong?”

“Aku hanya ingin berendam. Apa  tidak boleh?”

“Tapi kau bisa menungguku”

“Tidak ada waktu, sebentar lagi akan masuk waktu makan malam” dan aku tak dapat membantahnya lagi.

Kami akhirnya berendam bersama di dalam bath up yang lebih kecil daripada yang ada di rumah yoonan. Tubuh kami saling bersentuhan dan entah kenapa itu membuatku sedikit gelisah. Lalu tiba-tiba kurasakan tangan yoonan mulai melingkari perutku. Apa yang akan dia lakukan? Astaga…dia membuatku gila.

“Disini cukup sempit Chaeyeon, kau bisa pindah ke atasku” katanya dengan parau. Apa maksudnya?

Dan tentu saja bukan yoonan namanya, jika dia tidak melakukan hal-hal yang menyebalkan bagiku. Tanpa banyak bicara, dia meraih tubuhku dan mendudukkan ku di atas pangkuannya. Astaga…aku bahkan merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana…! Ya tuhan.

Yoonan Pov

Apa aku sudah gila? Baiklah..anggap saja aku memang sudah gila. Jika tidak, mana mungkin aku melakukan ini pada Chaeyeon dalam keadaan sadar sepenuhnya? Mendudukkan dia di atas pangkuanku, di antara kejantananku yang seakan sudah siap meledak sewaktu-waktu.

“Yoong… Kupikir…!”

“Wae…Chaeyeon? Kau tidak suka?”

“Aniyo… maksudku…”

“Bukankah kita suami istri? Bukankah wajar kita melakukan hal ini?”

Sebenarnya sangat wajar. Yang tidak wajar adalah dirimu yoong? Bagaimana bisa kau memperlakukan dia seperti ini setelah seharian bersikap dingin padanya!! Bahkan hati nuraniku pun ikut memaki sikapku.

“Kupikir kau…”

“Ssshh…” aku menyuruhnya diam dan tanpa permisi tanganku mendarat sempurna di payudara ranumnya. Lembut…sangat lembut! Kenapa aku baru menyadari ini!

Setelah puas memainkannya dengan tanganku, aku membalik tubuh Chaeyeon hingga dia menghadap padaku seutuhnya. Menulusir wajah polosnya yang cantik, wajah polos yang tak pernah sedikitpun mengenakan riasan dan entah kenapa itu semakin membuatku menegang.

Aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lalu mulai melumat bibir ranum tersebut. Damn…!! Ini sangat panas dan menggairahkan. Aku mencari-cari lidahnya, mengajaknya menari bersamaku. Dan aku tak dapat menahannya lagi. Kuangkat sedikit tubuh Chaeyeon, lalu memposisikannya hingga aku dapat menyatu sempurna dengan dirinya.

Saat kami menyatu, aku melihat keningnya berkerut, seperti sedang merasakan sesuatu. Apa dia kesakitan? Bisa jadi…disana sangat sempit. Aku kembali menyambar bibirnya. Hingga ia merasakan rileks kembali. Saat ia mulai mendesah di antar ciuman kami, aku tahu jika ia mulai menikmati permainan ini.

“Bergeraklah Chaeyeon… Puaskan dirimu…puaskan aku” ucapku dengan suara serak.

Dia benar-benar mulai bergerak. Dan itu membuatku seakan ingin meledak.

“Pelan sayang…jangan terburu-buru…” racauku saat menahan kenikmatan yang diberikan Chaeyeon.

“Aahh…yoong…” dia mengerang nikmat.

Aku hanya bisa mengumpat saat dinding kewanitannya mulai mengetat, semakin menghimpitku, tanda jika ia mencapai klimaksnya.

Akhirnya tanpa dapat menahan lebih lama lagi, aku mengeluarkan orgasmeku di dalamnya.

Dia terkulai dalam pelukanku, kami berdua sama-sama saling terengah, sama-sama kehabisan napas karena percintaan panas yang baru saja kami lakukan. Tanpa sadar aku memeluknya erat, mengusap lembut rambut panjangnya…setidaknya dengan ini, aku akan mendapatkan keinginanku. Apalagi jika bukan warisan itu, segera setelah Chaeyeon hamil, aku akan mendapatkan warisan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s