ONESHOOT GHOST OF CAMERA

image

Cast: Zhou Tzuyu Twice

Minatozaki Sana Twice

Im Yoona Girls’Generation

Ahn Eunjin DIA (II)

Heo Eunice DIA (II)

Ki Hui hyeon DIA (II)

Genre: Horror, Romance, NC +17

@Februari2013

” YYA TZUYU PPALLI…!!” teriak seorang murid pada murid yeoja bernama tzuyu itu yang dari tadi tengah mengatur timer otomatis camera dengan malas, dari wajahnya ia terlihat tidak suka dengan apapun yang dinamai dengan camera, tapi apa boleh buat ini adalah tahun terakhir ia berada di kelas satu dan tentu ia harus membuat kenang-kenangan dengan teman-temannya itu sebelum ia benar-benar menginjakkan kakinya di kelas 2 nanti.

“5 detik saja..” ujar tzuyu dengan teriakan malas kemudian langsung berlari ketempat teman-temannya itu.

Kilatan kamera menandakan jika foto itu sudah diambil, teman tzuyu langsung berlari menuju kamera itu untuk melihat hasil jepretan tadi. Terlihat dari raut wajahnya murid itu tanpa tidak suka dengan hasil jepretan yang diatur oleh tzuyu.

“YYA! GADIS SIALAN? Kenapa kau hanya mengambil bagian kaki eoh?” teriak murid yeoja itu tidak terima.

“Mianh..kubilang aku tidak suka kamera” ucap tzuyu datar sambil mengangkat tangannya.

“Kali ini 10 detik..” ucap murid itu kemudian mengatur posisi berfotonya.

Setelah foto itu diambil tzuyu benar-benar kesal dan segera pergi dari tempat itu, berbeda dengan teman-temannya, mereka ingin melihat foto yang tadi.

“YYA EUNICE!! KAU SAMA SAJA DENGAN TZUYU, BAHKAN TIDAK ADA SATUPUN DARI KITA DI FOTO INI…!!” teriak salah satu murid yang lainnya. Eunice hanya mendesah kesal dengan wajah bingunnya.

Mereka kembali berfoto bersama.

“Biar aku yang foto kalian..” ucap tzuyu dengan teriakan malas sambil berjalan ke arah eunice dan mengambil kameranya itu. “Hingga hitungan ketiga dan satu jepretan, jika tidak aku akan melempar kamera ini..” ucap tzuyu sambil mengangkat kamera itu.

“Yya tzuyu, kamera itu lebih mahal dari yang kau kira..”

“Aku bisa menggantinya dengan uang ku..” balas tzuyu dengan tatapan yang menusuk pada eunice.

“Hana…dul…yya dimana tombolnya?” tanya tzuyu polos. Semua murid benar-benar kesal dengan tzuyu sekarang, eunice pun dengan sabar berjalan kearah tzuyu lalu menunjukan bagian-bagian kamera itu.

“Hana…dul…set..sudah kan..” ucap tzuyu sambil tersenyum paksa.

“Satu lagi..jebbal” rengek eunice pada tzuyu. Tzuyu hanya menatap temannya itu dengan kesal.

“Baiklah…” jawab tzuyu malas.

“Hana..” semua murid langsung mengatur posenya. “Dul..” semua murid menampilkan senyumnya membuat tzuyu menghela nafas pendek. “Se…” sosok yang menyeramkan dengan rambut hitam kusam serta mata kemerahan itu terlihat dari lensa kamera membuat tzuyu dengan sigap membanting kamera itu. Wajahnya memucat seketika.

“Seharusnya dari tadi aku sadar bahwa kau tidak pernah bermain dengan kata-katamu..” ucap eunice dengan kesal sambil memunguti kamera nya.

Sementara itu tzuyu masih terduduk shock dengan apa yang ia lihat barusan. Hal itu membuatnya semakin benci dengan apapun yang disebut dengan ‘kamera’

@May2014

Ini adalah bulan ke-3 tzuyu dan teman-temannya di kelas 12. Tzuyu adalah seorang murid yang berprestasi dalam renang, prestasi tertingginya adalah peraih mendalik perak tingkat nasional. Tzuyu pernah mendapatkan peluang untuk meraih mendali emas, namun suatu hal yang paling tak terduga olehnya terjadi membuatnya gugur di tengah jalan dalam pertandingan.

Hari itu tepat disaat Eunjin temannya menghilang bagaikan ditelan bumi. Semua murid SOPA sudah mengkonfirmasi jika  Eunjin sudah meninggal dan disaat itu jugalah yoona mulai berubah padanya.

Ya, karena perasaan yoona pada Eunjin bukan lagi sebagai teman ataupun sahabat tetapi sudah berubah menjadi rasa suka yang mendalam, hingga ia benar-benar tidak sadar dengan apapun yang ia perbuat. Ia tidal pernah menganggap tzuyu itu ada, tidak ada nama tzuyu lagi dalam hidupnya, yang ia pikirkan hanyalah, dimana Eunjin?

Semenjak saat itu pula ia memutuskan untuk berhenti menjadi seorang atlit walaupun disetiap jam ekskul ia selalu menghabiskan waktunya di kolam renang, ketika jam ekskul renang sudah berakhir.

“Baiklah…disini adalah seorang mantan camera girl yang sekarang membenci camera..” ucap eunice yang sedang merekam suasana kelas dengan cameranya, ia bahkan menzoom kamera itu tepat dimata tzuyu. Tzuyu sangat kesal sehingga ia keluar dari kelas. Yoona yang melihat kekesalan tzuyu pada kamera hanya tersenyum sinis, berbeda dengan Sana yang menghela nafas berat terhadap perubahan tzuyu pada sebuah kamera.

“Kurasa dia tidak suka kamera karena hal itu mengingatkannya pada Eunjin pacarnya..”  ucap salah satu murid namja pada Eunice yang berada di belakangnya.

“Bisa kau ulangi lagi? Apa pendapatmu tentang tzuyu yang sekarang menjadi hater kamera Ki HiuHyeon-ssi?” tanya eunice dengan suara sok jurnalisnya itu pada murid bernama HiuHyeon.

“KARENAA..Eunjin adalah seorang camera girl..” ucap HiuHyeon dengan pose anehnya.

“Bisa kalian hentikan?” ucap Yoona yang segera berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar kelas setelah menendang mejanya.

Eunice menatap kepergian Yoona dengan kesal, ia menyumpahi yoona dengan sumpah serapahnya.

“Bagaimana perasaan kalian jika seseorang mengungkit tentang kematian temannya, dan hal itu kalian jadikan bahan candaan..” ucap Sana pada eunice dan HiuHyeon. “Juga berhenti mengganggu tzuyu dengan kamera mu, kamera mu itu mengingatkan ia dengan Eunjin. Apa kalian bisa menghentikan itu..”ucap Sana pada eunice dengan tatapan sinisnya.

“Apa Sana berbicara padaku? Yya..ini pertama kalinya..” ujar eunice tidak percaya.

***

Di sebuah halte tempat pemberhentian bus, terlihatlah tzuyu yang sedang duduk sambil menyenderkan kepalanya di tepi halte.

Tidak jauh dari sana terlihat seorang murid namja di seberang jalan sedang memfoto tzuyu yang tengah tertidur, ia tersenyum geli melihat hasil jepretannya. Namja itu segera menyeberangi jalan dan duduk di samping tzuyu. Namja itu mengangkat kamera untuk mengambil foto tzuyu yang terlihat sangat lucu dan dia tertawa. Tzuyu terlihat sangat terkejut dengan namja yang berada di sampingnya.

“Sana..apa yang kau lakukan?” tanya tzuyu heran.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan?” tanya Sana dengan wajah sok dinginnya.

“Mwo?” tanya tzuyu dengan heran.

“Kau tertidur dari tadi, bus ku sudah berlalu hanya karena mu..”

“Bukankah kau punya motor?”

“Kau tau aku punya motor?”

“Lupakan..” jawab tzuyu dengan malas kemudian beranjak dari tempat duduknya, karena bus yang ia tunggu sudah berhenti, Sana hanya tersenyum geli dengan tzuyu.

Sana sampai di rumahnya, ia hanya menyapa eommanya yang berada di dapur tengah membereskan sisa makan malam.

Dinding itu terlihat banyak sekali foto yang tertempel dan tergantung dengan berbagai ukuran, dikamar itu hanya dipenuhi wajah yeoja yang ia cintai, tzuyu.

***

Di kamar mandi, terlihat tzuyu tengah berendam di bath-up sambil mendengarkan music dengan cukup kencang berputar di ponselnya yang  terletak di atas wastafel.

Ia mengikat rambut hitam panjangnya dengan tinggi tidak mau membasahi rambutnya.

Di balik kesempurnaanya itu, ia tidak pernah sekalipun merasakan apa itu cinta. Karena menurutnya orang yang mencintainya tengah berada disekitarnya untuk mengawasinya.

Tzuyu benar-benar berubah menjadi yeoja nakal semenjak Eunjin sudah tidak ada lagi dikehidupannya.

“Tzuyu-ah kau tidak makan?” tanya ibunya yang berteriak dari luar kamar mandi.

“Aku tidak makan dimalam hari eomma..” jawab tzuyu malas.

“Kalau begitu segera selesaikan kegiatan berendammu dan TIDUR..!!”

“Neee..!!” jawab tzuyu lagi dengan malas sambil menyingkirkan busa-busa yang berada disekitar kakinya.

3 helai rambut hitam yang cukup panjang tertempel di kakinya, tzuyu merasa heran dengan rambut itu karena ia tidak membasahi rambutnya.

“Apa ini rambut terpanjang yang ku punya?” gumam tzuyu heran hingga ia melepaskan ikatan rambutnya dan menyelamkan kepalanya ke dalam bath-up.

Ketika ia membuka matanya di dalam bath-up, ia melihat sesuatu yang berwarna hitam kelam di sekitar kakinya.

Sosok itu tiba-tiba membuka matanya. Matanya terlihat memerah kelam seperti darah dan air di bath up itu juga berubah menjadi berwarna merah seperti darah. Tzuyu terlihat panic dan hendak keluar dari bath up, tapi tubuhnya seakan ditahan hingga nafasnya benar-benar habis dan tidak bisa keluar, ia merasakan sosok itu juga menahan kakinya dengan kuat.

“Tzuyu gwaenchana?” tepat teriakan ibunya saat itu juga tzuyu terlempar dari bath up. Ia segera mengambil handuk dan menutupi tubuhnya. Ia terlihat mengambil nafas dengan tersengal-sengal, ia sangat takut.

“Tzuyu..?” teriakan ibu tzuyu kembali menyadarkan tzuyu dari lamunanya.

“Ne..gwaenchana” jawab tzuyu.

Di tempat tidurnya ia terlihat ragu untuk mematikan lampu kamarnya, ia mulai merasa takut dengan apapun disekitarnya.

***

“ANDWAE!!” Teriak tzuyu yang mengigau dari tidurnya. Hal itu membuat semua murid tertuju pada tzuyu, Sooyoung seonssaengnim yang mengajar MTK tentu merasa kesal karena salah satu muridnya tidak mempedulikan apapun yang sedang diajarkan olehnya. Saat itu juga tzuyu diusir keluar dari kelasnya, eunice yang duduk bersama tzuyu menatap tzuyu dengan prihatin.

“Minatozaki Sana, siapa yang mengijikanmu memegang kamera disaat jam pelajaran..kau keluar”
Titah sooyoung ssaem pada Sana yang terlihat memainkan kamera nya tanpa rasa bersalah, dan dia juga keluar dari kelas dengan wajah yang terlihat bahagia.

***

Di rooftop terlihat tzuyu yang berdiri sambil memegang pembatas rooftop, wajahnya terlihat datar namun jika dilihat lagi matanya menampakkan kesedihan dan sebuah penyesalan yang luar biasa.

“M-mianhae…mianhae Eunjin-ah..” gumam tzuyu pelan, air mata itu mengalir semakin deras hingga ia terduduk lemas, rambutnya yang ditiup angin membuat wajahnya ditutupi oleh rambutnya.

“Kau..menangis?” tanya seorang namja yang berdiri di samping tzuyu. “Kau menangis karena diusir atau sesuatu yang lain?” tanya Sana heran.

“Apa urusanmu?” balas tzuyu ketus.

“Yeoja seperti apa yang lebih mementingkan penampilannya daripada kesedihannya?” ujar Sana.

“Mwo?”

“Jam MTK akan segera berakhir, kita diusir 15 menit terakhir..sebaiknya kau segera ke kelas sebelum kau juga diusir di jam pelajaran selanjutnya” ucap Sana sambil menepuk-nepukkan tangannya di bahu tzuyu.

“Sana-Chan..” ucap tzuyu dengan suara paraunya ketika Sana sudah meninggalkannya sekitar beberapa meter darinya. “Sana-Chan..kapanpun jangan biarkan aku sendiri, kurasa kau orang yang tidak akan membiarkan ku sendiri” ucap tzuyu sambil menatap Sana dengan penuh harap, entah apa yang terpikirkan olehnya.

Sana melangkahkan kakinya kearah tzuyu dan mengulurkan tangannya pada tzuyu serta senyuman simpul itu tak hentinya ia tampilkan pada tzuyu.

***

Ketika di koridor semua murid menatap kearah Sana dan tzuyu yang berjalan dengan percaya dirinya sambil berpegangan tangan.

Semenjak kejadian itu semua murid mulai menyimpulkan  kamera couple mengadakan reunian kembali.

“Kurasa..ketika diusir mereka CUP..” ucap HiuHyeon dengan ekspresi kosong sambil menyatukan jari-jari tangannya itu keduanya memberi tanda aneh sebuah ciuman.

“Kau gila? Tzuyu bukanlah orang yang seperti itu, ia tegas dengan ucapannya. Apapun yang keluar dari mulutnya maka hal itulah yang terjadi, ia tidak menyukai Sana dan sampai kapanpun hal itu tidak akan terjadi…ARRA!!” ucap eunice kemudian menghabiskan minuman sodanya. “Manusia sampah” ujar eunice sebelum pergi meninggalkan HiuHyeon.

“Mwo?” bantah HiuHyeon tidak terima kemudian mengiringi eunice yang pergi dari kantin setelah menghabisi sisa rotinya.

***

“Yoongie…” panggil tzuyu dengan ragu pada yoona yang sibuk memilih beberapa buku diperpustakaan.

“Menyingkir dari hadapanku sebelum kau menyesal..” ujar namja itu ketika sudah merasa jengah terhadap tzuyu yang masih membuntutinya hingga ke dalam lift.

“Yoongie, akhir-akhir ini dia datang menghantuiku..apa yang harus kulakukan?” ujar tzuyu dengan suaranya yang sedikit bergetar.

“Kenapa kau harus takut? Sekarang kau mengakuinya?” ujar yoona datar. “Kau sudah menyesalinya sekarang dan sekarang kau mengakuinya padaku? Kau pikir aku akan memaafkanmu?” ujar yoona lagi dingin.

Tubuh tzuyu menegang ketika ia mendengar sesuatu melalui telinganya, suara itu sangat mengganggunya. Ia menutupi telinganya dengan teriakan histeris membuat yoona memperhatikan tzuyu dengan bingun.

‘Apa ia benar-benar ketakutan?’ batin yoona

***

Di klup terlihatlah tzuyu yang memakai gaun hitam pendeknya terus meminum sebotol vodka tanpa henti melalui sebuah gelas kecil.

“Kau sudah mengantuk?” goda seorang namja  yang juga setengah mabuk menghampirinya sambil memeluk pinggang kecil tzuyu dengan erat dari arah belakang lalu mencium aroma leher tzuyu dengan liar, menghirup aroma parfum tzuyu yang membuatnya semakin tidak tahan hingga menggigit dan membuat kissmark di sekitar sana.

“Dahyun-ah..geumanhae..” ucap tzuyu hingga melepaskan lingkarang tangan dahyun dipinggangnya.

“Arra…kau ingin melakukannya di kamar saja bukan?” ujar namja bernama dahyun itu kemudian membantu tzuyu untuk bangkit dari duduknya sambil merangkul pinggang tzuyu dengan sesekali tangan itu bermain di bokong tzuyu.

Di parkiran dahyun sedang menyalahkan mobil hitamnya untuk segera ke hotel setelah menidurkan tzuyu dikursi sampingnya.

Ditengah jalan dahyun yang setengah mabuk itu hampir saja menabrak seorang namja berseragam sekolah didepannya. Namja itu tidak sengaja menangkap seorang yeoja tengah tertidur lelap di dalam mobil yang sudah menabraknya.

Dahyun yang khawatir dengan tzuyu karena kepalanya sedikit membentur kaca disampingnya ia pun menarik kepala tzuyu agar ketengah.

Namja itu terlihat tidak terima hingga mendatangi mobil dahyun dan mengetuk-ngetuknya tanpa henti.

Kini namja itu beralih pada yeoja yang berada di dalam mobil, ia menggendong tzuyu.

Namja itu adalah Minatozaki Sana. Rumah Sana tidak jauh dari sini iapun membawa tzuyu kerumahnya.

Sana menidurkan tzuyu ditempat tidurnya, dikamar yang di penuhi foto-foto tzuyu.

“Tzuyu-ah..ireona, kau ganti baku dulu” ucap Sana sambil melemparkan celana panjang dan kaos pendek miliknya tepat dimuka tzuyu setelah sedikit menepuk-nepuk pipi tzuyu.

Tzuyu yang mabuk berat benar-benar tidak sadar dimana dan dengan siapa ia sekarang, ia masih mengira jika namja adalah dahyun.

“Kamar ini lebih besar dari biasanya, kita pindah kamar?” tanya tzuyu yang setengah sadar itu berbaring di tempat tidur.

Dengan ragu Sana menarik selimutnya untuk menutupi tubuh tzuyu.

“Kau punya masalah?” tanya Sana pelan.

Sekarang suara Sana yang pelan itu bagaikan bisikan malaikat untuk nya, sat itu juga tzuyu membuka matanya.

“Kkajima..kkajimaa” ujar tzuyu dengan suara paraunya dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, sesekali suaranya bergetar seperti orang ketakutan melihat hantu.

***

“Menurutmu tzuyu akan masuk hari ini?” tanya eunice pada HiuHyeon yang masih asik memainkan ponselnya.

“Apa urusanku” balas HiuHyeon ketus.

“Sana juga tidak masuk” ujar eunice lagi sambil menyenggol lengan HiuHyeon.

Nayeon seonssaengnim wali kelas para murid dikelas itu terlihat baru saja memasuki kelas.

“Heo eunice, Ki HiuHyeon, Minatozaki Sana, dan Zhou tzuyu..kalian harus mengikuti remedial sore ini, kalian tidak diizinkan pulang lebih awal dihari bebas ini..” ujar walikelas mereka itu sambil menatap tajam pada HiuHyeon yang terlihat tidak peduli dengan namanya yang disebut, berbeda sekali dengan eunice yang menundukkan wajahnya karena malu.

Yoona terlihat tidak suka mendengar berita itu, ia terlihat memutarkan bola matanya memikirkan sesuatu yang sangat serius sambil sesekali menggigit bibirnya.

“Tzuyu…kau harus mengikuti remedial sore ini…nayeon seonssaengnim menanyaimu”

Drt Drt

Getaran ponsel itu membangunkan tzuyu dari tidurnya, dengan mata tertutupnya ia mencari letak ponselnya yang berada di atas meja lalu membuka pesan teks itu.

“Kalau begitu aku akan datang sore ini…yoongie, aku ingin mengatakan sesuatu padamu hari ini. Aku akan menunggumu di rooftop nanti sore”

Di kelas itu yoona yang membaca pesan  balasan dari tzuyu menampilkan senyuman sinisnya.

Tzuyu yang terlalu asik membaca chatting itu tidak menyadari dimana ia sekarang, ketika ia membuka selimutnya dan mendapati tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

“Bajingan itu melakukannya lagi ketika aku tidak sadar?” gumam tzuyu pelan.

Tzuyu tiba-tiba terperangah ketika pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang mengherankan baginya.

“Uhm” terengar suara eluhan seorang namja disamping tzuyu.

“Minatozaki Sana..n-neo..bagaimana bisa?” gumam tzuyu ketika mendapati Sana yang berada disampingnya. “Sana, siapa kau sebenarnya? Ada apa denganmu? Kau berada disekitarku selama ini?” tanya tzuyu dengan menyipitkan matanya, ia terlihat tidak ingin Sana menjawab iya.

“Na-naneun…seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan semalam di luar batas kewajaran. Bagaimana bisa kau membiarkan seorang namja membawaku ke hotel? Sudah berapa kali kau melakukan hal itu? Kau benar-benar melakukan hal itu” tanya Sana ikut menyipitkan matanya pada tzuyu.

“Apa urusanmu? Aku tidur dengan namja dan melakukan hal itu apa urusanmu? Aku yang menginginkan hal itu apa urusanmu? Bukankah hal itu juga kau inginkan seperti namja brengsek lainnya? Kau merebutku dari namja itu dan membuatku tidur di ranjangmu? Apa kau juga mengambil foto setengah telanjangku dan menyebarkannya ke semua murid?” teriak tzuyu dengan tatapan sinisnya yang penuh benci itu.

Teriakan tzuyu pada namja itu membuat Sana terdiam membisu.

“Menurutmu kenapa kau berada disini?” tanya Sana dengan wajah datarnya.

Tzuyu terdiam dengan pertanyaan Sana, ia juga tidak ingat bagaimana ia bisa berada di tempat ini.

“Se-sebenarnya apa yang terjadi?” tanya tzuyu ragu-ragu sambil. menundukkan kepalanya bingun.

“Menurutmu kenapa aku memukul namja itu, kenapa aku membawamu kesini dan kenapa dengan kamar ini hanya dipenuhi fotomu?” tanya Sana lagi dengan nada suara dinginnya.

“Mwo?” balas tzuyu yang juga bingun dengan pertanyaan Sana.

“Saranghae..” ucap Sana biasa.

Tzuyu terdiam bingun ketika Saat  mengatakan hal itu, hatinya tidak bergetar sama sekali dengan pengakuan Sana.

Sejujurnya ia tidak pernah menatap dan menyadari namja yang bisa saja menyukainya semenjak ia mendapati sebuah madalah besar dalam hidupnya, yaitu 2 tahun yang lalu di masa hilangnya Eunjin seperti ditelan bumi.

Sejujurnya saat di rooftop tzuyu mulai merasa tenang dan sedikit bergetar hatinya  ketika Sana menghapus air matanya dengan lembut.

Melihat Sana adalah namja yang tidur dengannya saat ini, pandangan tzuyu pada Sana sedikit berubah.

“Apa aku terlihat sedang bergurau?” tanya Sana sambil menunjuk wajahnya heran.

“Kau tidal sekolah?” tanya tzuyu canggung untuk mengalihkan pembicaraan.

“Menurutmu aku akan meninggalkanmu sendirian di rumahku? Bisa-bisa kau akan kembali ke klup itu, mulai sekarang kau tidak boleh pergi ketempat seperti itu lagi ARRA?” ujar Sana sambil menjitak kepala tzuyu.

“Wae?” tanya tzuyu sambil mengelus bekas jitakan Sana yang membuat mimic wajahnya terlihat lucu karena tidak terima, ia sangat tidak terima dengan perlakuan itu tapi ia tidak berani melawan Sana saat ini.

“Karena kau milikku mulai sekarang, jika kau tidak terima aku benar-benar menyebarkan foto itu di sekolah” jawab Sana sambil melemparkan celana panjang da kaos yang ia siapakan untuk tzuyu tadi malam. “Kau sengaja melakukannya agar aku tergoda? Aku sudah puas memandangi tubuhmu itu semalaman..” ujar Sana menampilkan smirknya lalu bangkit dari ranjang.

Ketika Sana akan membuka pintu kamarnya untuk keluar, sebuah bantal tepat mendarat di kepalanya.

***

“Aku ingin pulaaaaaang..” rintih eunice sambil memeluk tasnya yang berada di atas meja.

Drt…Drt…

Getaran ponsel eunice membuat eunice segera mengadakan kepalanya, itu adalah telpon dari ibunya.

“Itu..itu tzuyu bersama Sana” gumam HiuHyeon ketika matanya tidak sengaja mendapati sepasang murid tengah berjalan memasuki sekolah.

“Jinjja?” tanya eunice tidak percaya. “Bukankah itu nayeon seonssengnim? Kenapa jalang itu meninggalkan sekolah sementara ia menyuruh kita menunggunya di kelas?” ujar eunice lagi tidak terima sambil membulatkan matanya melihat wali kelasnya yang sudah berada di luar gerbang bersama seorang murid yang tidak cukup jelas wajahnya karena ia menggunakan masker hitam.

“Kau yeoja, sebaiknya ucapanmu lebih sopan” ujar HiuHyeon sambil menarik sebelah pipi eunice. “Yya kenapa murid itu mengunci gerbangnya?” ujar HiuHyeon ketika melihat murid bermasker itu kembali memasuki sekolah dan mengunci gerbang itu.

“Perasaanku tidak enak” gumam eunice ketika memperhatikan jalan murid itu yang sangat pelan dan santai.

“Ia mengunci gerbang tapi ia berjalan menuju sekolah” gumam HiuHyeon pelan.

“Kita di jebak? Apa nayeon seonsseangnim menitipkan pesan pada seseorang jika ujian kita dibatalkan?” gumam eunice menatap HiuHyeon dengan wajah bingungnya.

“Mungkin” balas HiuHyeon datar.

“Bagaimana dengan Sana dan tzuyu? Ia akan segera menuju kesini? Sementara namja itu berada dibelakang mereka?” ucap eunice dengan wajahnya yang mulai menegang karena takut.

“Kau hubungi mereka” sergah HiuHyeon.

Eunice segera berlari menuju mejanya untuk mengambil ponselnya.

Deg

Saat itu juga lampu sekolah itu padam, membuat eunice terdiam membeku di tempat ia berdiri.

“HiuHyeon-ah…eotteokkhae, kurasa akan terjadi hal buruk pada kita” gumam eunice.

“Gwaenchana..kita harus cepat keluar dari sekolah ini setelah bertemu dengan Sana dan tzuyu” ujar HiuHyeon kemudian meraih tangan eunice dengan erat agar eunice tidak merasa takut.

“Kau yakin jika nayeon seonsseangnim mengadakan perbaikan nilai? Ini sangat gelap, tidak ada suara apapun, dan tidak ada seorangpun selain kita” ujar Sana yang kini tengah membantu tzuyu untuk memanjati pintu lift yang berhenti di lantai 3.

“Sana.. Kurasa ini akan lama, sebaiknya kau mencari senter aku akan ke rooftop sebentar. Jika kau tidak menemukanku kau bisa menghubungiku kan?” ujar tzuyu sambil menatap Sana dengan penuh harap.

Dengan napas tersengal-sengal tzuyu akhirnya sampai di rooftop.
Tzuyu terlihat cemas dan takut ketika ia merasakan sesuatu yang aneh berada dibelakangnya.

“Tzuyu” panggilan itu membuat tzuyu membuka matanya dengan lebar, suara itu sangat familiar baginya.

“Yoongie” gumam tzuyu sambil membalikkan tubuhnya dengan sigap, sedikit terkejut karena yoona tepat berdiri dibelakangnya.

“Wae? Kau ingin bertemu denganku!”

“Sudah lama berdiri disini?” tanya tzuyu sedikit ragu.

“Aku lebih dulu datang darimu” jawab yoona kemudian berjalan menuju pembatas rooftop. “Hal apa yang ingin kau katakan?” tanya yoona dingin.

Tzuyu dengan ragu berjalan mendekati yoona.

“Ini tentang Eunjin” gumam tzuyu dengan tenang, dari wajahnya terlihat ia tidak suka nama itu keluar dari mulutnya.

“Kau tahu jika Eunjin mempunyai seseorang yang ia cintai?”

“Ani..” balas yoona cepat.

“Kau mencintai Eunjin? Sebelumnya apa kau tau jika Eunjin tidak menyukaimu sama sekali?” tanya tzuyu sambil berusaha menatap mata yoona.

“Kau membenci Eunjin, sebab itu kau tidak ingin meneruskan pencarian Eunjin” ucap yoona dengan nada suara sinisnya, tzuyu langsung mengernyitkan keningnya mendengar ucapan yoona.

“Ne..aku membencinya..sangat membencinya” balas tzuyu dengan nada dingin.

“Kau tau jika saat itu Eunjin hamil?” tanya tzuyu dengan wajah seriusnya menatap mata yoona.

“Ani..” balas yoona dengan cepat.

“2 tahun yang lalu ketika akan mengikuti olympiade renang ku..”

Flashback

“Eunjin-ya..! Aku akan mengikuti lomba renang lagi!” teriak tzuyu sambil berlari-lari lalu memeluk seorang yeoja berambut hitam panjang yang bernama Eunjin. Yeoja itu terlihat mempunyai mata sembab dan bengkak seperti sudah menangis semalam.

“Jinjja? Chukka!! Kali ini harus medali emas, arra!!” balas Eunjin sambil membalas pelukan dengan erat, Eunjin menenggelamkan kepalanya dibahu tzuyu, menghirup aroma tubuh tzuyu yang begitu khas bagi-bagi orang.

Di kolam renang itu terlihat tzuyu yang masih terus berputar-putar berenang kesana kemari dengan iseng.

“Sesekali kau harus mau belajar renang denganku” gerutu tzuyu lalu keluar dari kolam dan berjalan menuju tempat duduk Eunjin untuk mengambil handuk yang terletak diatas tasnya.

Kilatan kamera membuat tzuyu terkejut hingga ia dengan kesal mencubit pinggang Eunjin gemas, ia selalu terkejut dengan kilatan kamera yang diberikan oleh Eunjin padanya.

“Gwaenchana?” tanya tzuyu bingung, Eunjin hanya mengangguk pelan.

Tzuyu berjalan meninggalkan Eunjin begitu saja untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh air kaporit. Tiba-tiba seorang namja menatapnya dengan tajam, Eunjin membalas tatapan itu lebih dingin lagi, lebih tepatnya tatapan itu adalah tatapan bencinya pada yoona.

~ satu hari sebelum perlombaan~

“Eunjin gwaenchana? Kau terus memegangi perutmu, wajahmu juga sangat pucat..kau PMS?” tanya tzuyu pada Eunjin yang hanya duduk ditepi lapangan basket sementara murid lainnya terus berlari mengitari lapangan.

“Tzuyu cepat berlari sebelum aku menambah jumlah putaranmu..” teriak guru olehraga pada tzuyu yang masih terus merukuk menanyai keadaan Eunjin.

Ketika tzuyu kembali masuk kedalam barisannya untuk melanjutkan larinya seorang namja terus menatap Eunjin dengan tajam. Eunjin benar-benar tidak suka dengan yoona, ia pun meninggalkan ruangan basket itu dengan langkaj berat. Baru beberapa langkah tiba-tiba Eunjin pinsang.

Semua murid langsung mengerubunginya, tak terkecuali tzuyu yang langsung memangku kepala Eunjin dengan tangannya.

“Apa dia sedang menkomsumsi pil aborsi?” tanya dokter UKS itu pada tzuyu yang ia sendiri juga terkejut dengan pertanyaan itu. “Eunjin hamil 3 bulan” ucap dokter yeoja itu pada tzuyu. “Ia tidak tau sebanyak apa harus meminumnya..yang jelas janin itu belum mati, namun kondisinya sangat mencemaskan, sebaiknya kau segera membawanya ke rumah sakit, aku tidak akan beritahukan hal ini pada guru-gurumu jika kau segera  membawanya ke rumah sakit” ucap dokter.

“Besok aku akan membawanya ke rumah sakit” balas tzuyu dengan wajah ragunya.

“Jika tidak janin itu benar-benar mati” balas dokter itu lagi dengan tatapan tajamnya pada tzuyu, ia melihat keraguan pada wajah tzuyu.

Dikamar tzuyu terlihat Eunjin yang tengah asik mengotak-atik kamera nya.

“Eunjin-ya..besok lombanya, kau ikut?” tanya tzuyu pelan.

“Uhm..itu..uhm..aku tidak bisa” balas Eunjin sambil menundukkan wajahnya takut jika tzuyu marah dan kecewa padanya.

“Wae? Kau masih sakit? Perutmu sakit?” tanya tzuyu cemas sambil memperhatikan perut Eunjin yang memang sedikit lebih besar dari biasanya. “Kau gendutan..itu sebabnya kau harus ikut berolahraga seperti yoona dan aku, kau hanya berjalan dipagi dan sore hanya untuk menemaniku dan setiap detik mengambil fotoku itulah yang membuat mu semakin gendut, bahkan perutmu sudah terlihat seperti orang hamil sekarang” ucap tzuyu dengan biasa kemudian kembali membolak-balikan majalah yang ia baca. Ia terlihat tidak peduli dengan raut wajah Eunjin yang berubah cemas. “Bajingan siapa yang melakukan hal itu padamu?” tanya tzuyu tiba-tiba dengan nada suaranya yang dingin.

“Ne?” tanya Eunjin pelan setelah sedikit mengatur napasnya karena takut.

Tzuyu yang sudah sangat penasaran dengan Eunjin pun kini menaruh majalahnya dan berjalan mendekati Eunjin lalu berjongkok dihadapannya.

“Siapa yang melakukan ini? Kenapa kau menyembunyikan masalah besar dariku? Dan kenapa kau melakukan hal itu sekarang? Kau ingin menyingkirkan janinmu itu?” tanya tzuyu dengan wajahnya yang terlihat marah. “Siapa yang melakukan hal itu padamu? Kenapa kau tidak menjawab? Kenapa kau hanya menangis? Eoh?” tanya tzuyu lagi.

“Tzuyu-ah…mianhae..” ujar Eunjin dengan suara paraunya, dan saat itu juga tangisannya berubah menjadi isakan.

“Kenapa kau harus meminta maaf..bukan kau yang salah kenapa kau harus meminta maaf padaku?”

“Mianhae..aku tidak akan menyebutkan nama orang itu padamu, hanya kau yang terus berada disisiku itu sudah lebih dari cukup untuk ku” ucap Eunjin menunduk tidak berani menatap tzuyu.

“Kalau begitu, jangan makan pil itu lagi.jangan lakukan hal itu pada janinmu, arra? Jika kau melakukannya lagi aku benar-benar marah padamu Eunjin-ya” ujar tzuyu lalu memeluk Eunjin dengan erat.

Tanpa sadar tzuyu juga meneteskan air matanya dipuncak kepala Eunjin.

Eunjin menangis haru dengan sikap tzuyu padanya, tzuyu tidak kecewa padanya ia hanya meminta agar menjaga janin itu tetap sehat.

~ hari perlombaan renang~

Ini final..aku yakin kau akan mendapat mendali emas itu tzuyu, sekolah kita akan bangga pada kalian tzuyu-ah, yuri-ah” ucap pelatih mereka pada 2 orang muridnya yang sudah di utus oleh sekolah.

Terlihat di wajah yuri ia tidak senang dengan kata-kata penyemangat dari pelatihnya itu.

Saat lomba final benar-benar akan dimulai di tepi kolam yuri mulai mengatakan sesuatu pada tzuyu.

“Tzuyu-ah, beberapa bulan yang lalu tidak sengaja aku melihat Eunjin yang menangis pagi-pagi sekali di toilet, saat itu ia terlihat frustasi dan melempar sebuah benda di tong sampah. Ketika ia sudah keluar dari toilet, aku langsung memunguti benda itu karena penasaran dan ternyata itu adalah sebuah test pack yang menunjukkan dua garis..apa kau sudah mengetahui hal itu?” ujar yuri biasa sambil melakukan pemanasan pada tubuhnya.

Namun bukan hal ini yang harus ia pikirkan sekarang, ia harus menang dalam perlombaan ini.

Walaupun ayahnya seorang atlit, ibunya tidak menginginkan anak semata wayangnya ikut menjadi atlit walaupun tzuyu sangat menginginkan dan menyukai hal itu.

Perguruan tinggi bukan hal yang disukai oleh tzuyu, melakukan persiapan ujian perguruan tinggi itu sangat melelahkan baginya.

Apa hanya ingin menjadi atlit dapat membahagiakan keluargamu nanti?’ maka tzuyu akan menjawab dengan enteng.

‘Dengan wajahku dan popularitas ayah itu akan muda bagiku eomma!’

Tapi sikap ibunya yang keras pada tzuyu tentu tidak akan menerima jawaban konyol itu.

Jika ia bisa mendapatkan mendali emas maka ia boleh menjadi atlit renang seperti yang ia inginkan.

“Untuk saat ini mendali itu bukan apa-apa bagimu bukan? Tapi bagiku mendali ini penentu apakah aku masih bisa untuk melanjutkan sekolahku disini atau tidak. Aku tau kau sangat kaya maka kau tidak berfikir hingga kesitu, untuk kali ini bisakah kau mengalah hanya untuk ku?” pinta yuri dengan tatapan penuh harapnya namun terlihat penuh kebencian dan keirian pada tzuyu.

“Anni..mendali emas itu penentu bagiku apakah aku harus melanjutkan karirku atau tidak, aku harus mendapatkan mendali itu” balas tzuyu datar pada yuri, sat itu juga ia menampilkan tatapan dinginnya pada yuri.

“Jika aku menang nama sekolah kita tetaplah juara satu, dan klup kita tetaplah juara satu”

“Jika eonni ingin menang maka berusahalah, kenapa eonni memohon seperti itu padeonni balas tzuyu yang tepat membuat yuri terdiam.

“SIAP?” teriak wasit renang sebelum membunyikan peluitnya.

“1 jam lagi Eunjin akan menuju rumah sakit setelah menerima sebuah pesan, didepan rumah sakit nanti sebuah mobil truk akan datang untuk menabraknya. Membunuh dua nyawa sekaligus, aku akan membuat itu menjadi murni kecelakaan, selain mati seprti itu fakta menyedihkan dan memalukan jika Eunjin tengah hamil akan berkembang menjadi topik hangat disekolah” ujar yuri sambil menyunggingkan senyuman sok manisnya pada tzuyu.

Lomba pun berakhir dan saat itu yuri lah yang mendapatkan mendali emas, sedangkan tzuyu hanya menddapatkan mendali perak, tzuyu terlihat tidak suka dan marah di dalam hatinya.

“Kau melakukan hanya karena Eunjin? Babo..kau berpacaran dengan jalang itu?” tanya yuri sambil melipat kedua tangannya.

“Menurutmu aku akan menyia-nyiakan hal itu? Aku sudah membayar mahal untuk rencana ini, jika ia tidak melakukannya uangku akan terbuang sia-sia” ucap yuri sambil berjalan menuju wastafel tempat tzuyu juga berdiri.

“Maksudmu? Kau tetap melakukannya?”

“Kurasa 30 menit lagi kau sampai disana maka tidak akan terlambat..” ucap yuri santai.

Saat itu juga tzuyu langsung mengemasi barang-barangnya dengan kencang menuju rumah sakit tempat Eunjin akan diperiksa kandungannya.

Tzuyu sampai di depan RS yang dikatakan oleh yuri, namun ia tidak melihat Eunjin bahkan truk atau apapun yang dikatakan oleh yuri.

Drt..drrt

Telfon tzuyu bergetar dan itu adalah telpon dari Eunjin.

“Eunjin-ya? Neo eodisseo?” teriak tzuyu kesal.

“Aku di kolam renang sekolah menunggumu, aku sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Apa kau masih lama? Sekarang sudah tidak ada orang lagi disekolah, aku sedikit takut, bagaimana dengan lombamu, kau pasti mendapat mendali emas itu kan?”

“Tuut..tuut..” saat itu juga wajah Eunjin berubah heran karena tzuyu yang memutuskan panggilan secara tiba-tiba tidak seperti biasanya.

“AAAARRRGGGHHHH!!” Tzuyu berteriak frustasi dijalanan yang cukup besar dan ramai, ia bahkan terduduk dan menangis.

Sekarang sudah pukul 12 malam. Tengah malam itu tzuyu yang datang ke sekolahnya seorang diri hendak menenangkan pikirannya di kolam renang sekolah, ia seakan lupa dengan Eunjin yang sudah menunggu tzuyu dari tadi siang.

Pagar sekolah itu sudah terkunci dengan rapat., namun, dengan tubuhnya yang lincah ia mampu memanjati pagar dengan mudah.

“Eunjin-ya..” panggil tzuyu pada Eunjin yang setengah tertidur dengan posisi duduk disebuah kursi ditepi kolam renang.

“Tzuyu-ah” ujar Eunjin langsung ketika mendengar suara tzuyu.

“Wae? Kau mendapat mendali emas kan?” tanya Eunjin lagi sambil melepaskan kamera yang menggantung dilehernya, lalu mengambil foto tzuyu. “Aku baru saja mencuri foto peraih mendali emas renang termuda” hal itu tentu membuat tzuyu semakin sakit hati dan kesal, ia pun merebut itu dari tangan Eunjin dengan kasar lalu membantingnya.

“Tzuyu-ah…wae geurae?” tanya Eunjin dengan ragu.

“Ada apa denganku? Tsk! NE!! ADA APA DENGANKU!!!” teriak tzuyu menggema.

Setelah dipikir-pikir lagi, jika mengatakan hal itu setidaknya tzuyu bisa menghentikan kemarahanya.

“Tzuyu sebelumnya aku sudah bertekad mengatakan hal ini padamu..”

“Katakan ucapan terakhirmu..” balas tzuyu dingin, hal itu membuat Eunjin menatap tzuyu dengan bingung.

“PPALLI!!” teriak tzuyu pada Eunjin, teriakan tzuyu kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Aku…aku menyukaimu…aku menyukaimu lebih dari seorang teman, saranghae. Ini memang gila tapi inilah yang kurasakan padamu tzuyu-ah” ujar Eunjin sambil menatap tzuyu dengan mata berkaca-kaca.

“Kupikir kau benar-benar gila” balas tzuyu tidak percaya semakin memajukan langkahnya membuat Eunjin juga memundurkan langkahnya ke belakang.

“Tzuyu apa yang kau lakukan? Kau tau kan aku tidak bisa berenang?”

“Siapa peduli..” balas tzuyu dingin hingga Eunjin benar-benar tercebur ke dalam kolam.

Eunjin tercekat tidak percaya dengan ucapan tzuyu padanya. Eunjin yang menyadari air itu berbau darah semakin panik hingga ia terus memanggil nama tzuyu namun tzuyu hanya berlalu meninggalkan Eunjin tanpa rasa bersalah.
Tzuyu tidak menyadari warna perubahan air, pandangannya hanya kosong pada jalan yang ia lewati ditepi kolam renang itu. Ia benar-benar benci pada Eunjin sekarang.

Setelah cukup lama Eunjin meneriaki dan memanggil nama tzuyu, hingga diteriakan akhirnya ia memanggil nama yang sebenarnya ia juga tidak tau kenapa menyebutkan nama itu di napas terakhirnya.

“Yoona.. Tolong aku..” ucap Eunjin dengan suaranya yang sudah lemah.

Teriakan Eunjin yang terakhir itu membuat tzuyu berhenti melanjutkan langkah kakinya dan membuat tzuyu sadar jika tindakannya memang sudah kelewatan.

Seakan bumi tidak terima dengan apa yang telah terjadi, tepat di saat itu cahaya bulan purnama memantul di kolam renang.

Cahaya bulan tepat masuk di tengah kolam renang. Saat itu juga tampak air disekitar Eunjin tiba-tiba berwarna kelam, tzuyu terduduk di tepi kolam itu pandangannya hanya kosong, ia menutupi mulutnya dan menepuk-nepuk dadanya dengan kencang.
Penyesalan memang selalu datang dikemudian, ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan, melihat tubuh Eunjin kolam renang itu, tubuh yang dikelilingi oleh warna darah membuat tzuyu benar-benar tidak menyangka.

***

“Sudah kuduga..kaulah yang membunuhnya” ucap yoona sambil menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya dengan kuat.

“Aku benar-benar tidak menyesal..aku tidak sadar apa yang kulakukan saat itu, aku benar-benar menyesal, ia sangat marah padaku. Semenjak saat ia tidak pernah membuatku hidup tenang, aku terus dihantui olehnya dalam mimpiku setiap aku sendiri kapanpun dimana pun terus ia menggangguku, hanya di kolam renang sekolah itu aku merasa ia tidak ada disampingku. Aku juga bingung padahal kolam renang itulah yang paling mengingatkanku dengan Eunjin..”

“Lalu dimana kau menyembunyikannya? EODDI!!!” teriak yoona yang kini melepaskan pegangannya pada pegangan rooftop dan beranjak memegangi kedua bahu tzuyu dengan kuat membuat tzuyu meringis sakit.

“Yoona.. Apa yang kau lakukan..hentikan!!” ujar tzuyu untuk menyadarkan yoona.

“Kau sadar? Saat itu kau membunuh dua nyawa sekaligus? Dua nyawa yang kucintai..” ucap yoona sambil menatap mata tzuyu dengan penuh kebencian.

“Saat itu kau tau jika Eunjin hamil?” tanya tzuyu heran, bahkan pegangannya pada lengan yoona sekarang melemah.

“Akulah bajingan itu..” balas yoona yang kini meneteskan air matanya.

~FLASHBACK~

“aku tidak menyukaimu…ini memang gila, sebenarnya aku menyukai tzuyu. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, tapi aku benar-benar menyukainya..” ucap Eunjin tetap menatap pada buku tulisnya tanpa menatap yoona yang ada disampingnya.

Terlihat di tempat itu mereka tengah berada di kamar tzuyu untuk mengerjakan tugas bersama.

“Eunjin-ya? Kau benar-benar tidak menganggapku ada? Apa menurutmu menyukai tzuyu bisa membuatmu bahagia?” tanya yoona dengan tatapan datarnya.

“Anni..jika aku mengatakan hal ini pada tzuyu aku yakin tzuyu akan menjauhiku, namun aku akan tetap mengatakan hal ini padanya suatu saat nant…” Ucapan Eunjin terhenti begitu saj ketika tiba-tiba
Yoona membekap bibir Eunjin dengan bibirnya, melakukan sebuah ciuman kasar pada Eunjin.

Eunjin terus memberontak namun yoona tidak mau peduli dengan hal itu Ia bahkan menahan kedua tangan Eunjin.

Eunjin terus merapatkan bibirnya tidak mau yoona melakukannya dengan lebih, namun hal ini membuatnya semakin tidak bisa bernafas karena yoona terlalu lama melakukan hal itu. Lidah yoona bermain dengan liar ia bahkan sedikit menggigit bibir Eunjin membuat Eunjin mendesah kesakitan sambil menghentakkan kakinya yang duduk di lantai.

Eunjin kembali berusaha mendorong tubuh yoona ketika tangan kanannya berhasil lepas dari genggaman yoona. Ia menahan tangan yoona yang kini meremas dadanya dengan gerakan kasar.

Ketika yoona melepaskan ciumannya saat itu juga yoona mendapatkan tamparan keras dari Eunjin, Eunjin segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar itu untuk menghindari yoona namun yoona langsung menarik tangan Eunjin dan membanting tubuh Eunjin di ranjang tzuyu.

YOONA!! KAU GILA? JANGAN LAKUKAN INI!!” teriak Eunjin yang sudah menangis ketika yoona menghimpit tubuhnya sambil menciumi leher Eunjin tanpa henti.

Yoona bahkan sudah meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana hingga kembali mengecupi bibir Eunjin, menjilati dan menggigitnya. Bukan desahan yang keluarkan oleh Eunjin namun hanya tangisan kencang.

Yoona sekarang ingin melakukan hal ini dengan lebih. Kini tangan yoona mulai menjalar dipaha Eunjin dan menyikapi rok sekolahnya, melepaskan dalaman Eunjin begitu saja dan memainkan tangannya di bagian sensitif Eunjin dengan gerakan pelan kemudian berubah menjadi cepat.

Yoona berhenti memainkan jarinya dibagian itu dan kini beralih untuk membuka kemeja dan celana sekolahnya dengan cepat agar Eunjin tidak bisa melarikan diri.

“Kita bisa menyelesaikan hal ini dengan cepat jika kau bisa sedikit lebih tenang..” ucap yoona tepat ditelinga Eunjin membuat Eunjin langsung terdiam tidak menyangka yoona yang dulu sangat berbeda dengan sekarang.

Yoona membuka kemeja Eunjin dengan kasar, bahkan bagian lengan dari kemejaitu robek saking kencangnya paksaan dari yoona. Sekarang terlihatlah tubuh Eunjin yang mengenakan tank top, yoona yang tidak sabar langsung membuka bra Eunjin, tak lupa tangan kirinya menekan payudara Eunjin.

Kali ini Eunjin mulai berani mengeluarkan desahannya, hal itu membuat yoona semakin bersemangat melakukan hal itu. Tanpa aba-aba ia langsung menggesekkan miliknya yang sudah menegang di dinding vagina Eunjin membuat tubuh Eunjin menegang hingga mengeluarkan sedikit cairan.

“Kau cepat sekali..” goda yoona dengan senyuman nakalnya. Yoona langsung memasukkan juniornya ke dalam miss V Eunjin dan yoona langsung mencium bibir Eunjin dengan kasar.

Eunjin kembali mendesah kesakitan ketika yoona melakukan gerakan pelan pada pinggulnya.

“Yoong.. Yoona.. Yoona-ah geumanhae..jebal..jebal” rintih Eunjin putus-putus sambil menahan lengan yoona. Kini yoona mempercepat gerakannya membuat Eunjin tak untuk berteriak dan memukul punggung yoona.

“Sudah terlambat kau jangan pernah meninggalkan ku, ARRA!! Mulai sekarang kau harus bisa membedakan mana orang yang lebih pantas untuk mu, jika kau memilih tzuyu maka kau tidak akan pernah merasakan hal ini” ucap yoona setelah mengeluarkan cairannya dirahim Eunjin.

Tubuhnya benar-benar setengah telanjang sekarang, hanya rok dan tank top yang tidak terpakai sempurna berada ditubuhnya.

Yoona memunguti celana dan kemeja yang ia lepaskan tadi dan memakainya dengan cepat. Ia menatap Eunjin dengan setengah iba. Ia tidak peduli Eunjin yang terbaring lemas.

***

“KAU BRENGSEK!!” teriak Eunjin tidak terima.

“Brengsek? Setidaknya aku tidak membunuhnya waktu itu..dimana kau menyembunyikannya?” tanya yoona lagi sambil mendorong tubuh tzuyu.

Tzuyu menendang bagian sensitif yoona dengan lututnya membuat yoona melonggarkan genggaman tangannya pada bahu tzuyu dan saat itu juga tzuyu mengambil kayu dan memukul yoona.

Paku itu tertanam cukup dalam membuat punggungnya berdarah.
Dan tzuyu melarikan diri.

Tzuyu tidak sengaja menginjak tali sepatunya ketika hampir dekat dengan lantai membuatnya tersandung dan terkilir.

“HiuHyeon-ah..kau tetap disini, walaupun kau berada di toilet yeoja kau tidak boleh mengintip ARRA!!” Teriak eunice pada HiuHyeon sebelum ia memasuki toilet untuk buang air kecil.

Di toilet itu dengan kaki yang tidak bisa tenang Eunice berusaha mempercepat buang air kecilnya sambil memicingkan matanya erat-erat karena sedikit takut. Tidak sengaja ia mendengar suara langkah kaki di sekitar toilet tapi suara langkah kaki itu seperti langkah perempuan karena begitu pelan, kemudian diakhiri dengan suara jepretan kamera.

“HiuHyeon-ha, kau sedang mencuri fotoku diam-diam?” teriak eunice dari dalam toilet namun tidak ada balasan dari HiuHyeon.

Eunice dengan heran membuka lebar matanya untuk mencari sosok yang memainkan kamera nya, namun ia merasakan sesuatu yang terinjak oleh sepatunya. Ia pun memunguti benda itu dengan heran, betapa herannya eunice menyadari jika itu adalah sebuah foto.

Sebuah foto yang hanya menampakkan bagian kakinya saja dari semua murid yeoja. Ini adalah foto yang diambil oleh tzuyu di kelas 1 dulu.

“40 pasang kaki? Bukankah semua murid 39?” gumam eunice heran. Tiba-tiba sesuatu menetes tepat mengenai foto itu, eunice mengira itu adalah tetesan air dari atap yang bocor. Namun ketika ia membersihkan tetesan itu dengan jarinya, ia terlihat terkejut karena itu adalah tetesan darah.

Eunice segera mengadahkan kepalanya mencari-cari asal tetesan itu. Tapi ia tidak melihat apapun di atas sana dan ketika ia kembali merunduk untuk menatap foto itu.

“EOMMA!!” teriak eunice cukup kencang melihat sosok menyeramkan dengan seragam sekolah namun dengan wajah yang sangat mengerikan dihadapannya.

Sosok itu berdiri dengan menunduk, eunice di dudukkan di toilet tentu dengan jelas dapat melihat wajah yang sangat mengerikan itu.

“AAAAAAA!!!!” teriak eunice ketakutan lalu segera bangkit dari duduknya untuk keluar dari toilet.

“Yya..!! Kau sedang bermain-main?” tanya HiuHyeon heran sambil menyenteri wajah eunice yang kini memucat.

“Kau darimana?” tanya eunice sedikit menaikkan kepalanya agar bisa menatap HiuHyeon.

“Dari gudang kolam renang, aku menemukan senter disana..setidaknya kita bisa keluar dengan senter ini” ucap HiuHyeon mendorong tubuh eunice dan menyenteri tubuh eunice dari atas sampai bawah.

“Tadi aku mendengar suara langkah kaki dan jepretan kamera di depan toilet ini” ucap eunice dengan penuh kepastian.

“Kau tidak memasang celana dalammu?” tanya HiuHyeon polos karena melihat celana dalam eunice yang menggantung dipahanya.

Hal itu membuat eunice segera bangkit dan mengangkat celana dalamnya itu spontan membuat HiuHyeon menatap eunice setengah tidak percaya.

“Aku takut..aku ingin keluar..apa tidak bisa memecahkan kaca kolam renang ini? Kita sudah berada di lantai dasar?”

“Jika hal itu bisa terjadi maka sudah dari dulu ruangan kolam renang sunhwa di masuki para perampok?”

“Seharusnya aku menjawab telfon eommaku tadi, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Bateri ponselku tertinggal di kelas”

“Kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya HiuHyeon heran karena eunice tiba-tiba memeluknya.

“Di dalam sana..ada hantu” balas eunice menunjuk toilet yang ia masuki tadi.

“Hantu? Ini baru jam 7, hantu datag tengah malam” balas HiuHyeon sambil mendorong bahu eunice agar ia melepaskan pelukannya. “Tidak ada apapun” balas HiuHyeon ketika ia membuka pintu toilet dengan hentakan kasar kakinya.

“Itu..” tunjuk eunice pada sebuah foto yang ia temukan tergeletak di lantai.

Dengan helaan nafas kesal HiuHyeon memunguti foto itu setelah melepaskan eunice dengan malas.

“Ada apa dengan foto ini?”

“Ini foto kami ketika akan meninggalkan kelas 1, saat itu kami menggunakan timer otomatis. Tzuyu bilang ia sudah mengatur foto itu dengan benar namun yang terambil tetap bagian kaki. Aku menghitung jumlah pasang kaki itu, itu semua 40 sedang dari kami hanya 39..” jelas eunice sambil menunjukkan foto itu.

Dengan bingung HiuHyeon ikut menghitung jumlah pasang kaki di foto itu.

“40…kau yakin tidak ada orang di kelas itu?”

“Anni..di kelas itu hanya ada 39 murid, murid lainnya sudah pulang dan sebagian lagi di audatorium untuk meramaikan graduation sunbae kelas 3 dulu..”

“Lalu?”

“Eunjin?” tanya eunice menatap kedua bola mata HiuHyeon dengan heran.

“Eunjin? Kau gila? Bukankah dia sudah meninggal”

“Arwahnya menghantui kita..bukankah mayatnya sampai sekarang belum di temukan? Dan tidak ada yang mengetahui dimana Eunjin sampai sekarang”

“Kita harus pergi” balas HiuHyeon sambil menarik tangan eunice hingga foto itu terjatuh di lantai.

Foto itu tiba-tiba berubah kelam, sepasang kaki dari foto itu menghilang tiba-tiba.

Di sebuah koridor hanya di penuhi oleh ruangan kelas 1 terlihat tzuyu yang berjalan sambil menyeret kakinya yang terkilir. Ia sudah berjalan dan berlari begitu jauh menuruni tangga dari rooftop untuk menghindari yoona, tidak mungkin baginya menuruni tangga hingga lantai dasar. Tzuyu tiba-tiba mendengar decikan sepatu.

“Yoona berhasil mengikutiku? Babo..dia sudah mengenalku 5 tahun, dia pasti tahu apa yang kupikirkan” batin tzuyu sambil berusaha berjalan dengan cepat menghindari decikan sepatu yang pelan itu seperti hampir mendekatinya.

1-2 class

Tzuyu memasuki ruangan kelas 1 itu dan terduduk di depan pintunya. Tiba-tiba tzuyu mendengar suara jepretan kamera dari ruangan 1-2 itu. Dengan heran tzuyu berdiri dari duduknya, ia melihat seseorang tengaj duduk di tepi jendela sambil memainkan kamera nya. Murid duduk dengan tenang hanya memperlihatkan rambutnya yang panjang, dia hanya duduk dengan tegap. Ia hanya menatap keluar jendela tanpa menatap tzuyu.

Tzuyu menolehkan pandangannya kearah memastika suara decikan sepatu sudah tidak ada.

“Yya..apa kau juga terkurung disekolah?” tanya tzuyu sambil mendekati murid yeoja itu.

Tzuyu yang sudah berada di samping meja murid itu menatap meja yang ada di sampingnya dengan heran.

Tzuyu kembali menolehkan kepalanya keluar kelas ‘1-2 class’

Ini adalah kelas tzuyu dulu ketika masih kelas 1. Juga meja ini adalah meja Eunjin.

“Kenapa kau tidak menelfon seseorang untuk membantumu keluar dari sekolah? Sebenarnya ada bahaya di sekolah ini..sebaiknya kau ikut denganku? Ayo..kita keluar bersama” ajak tzuyu lembut sambil mengulurkan tangannya pada murid itu.

Tzuyu sedikit kesal karena di diami oleh juniornya, melihat kamera itu yang tergeletak di meja membuat tzuyu sedikit tertarik. Tzuyu merasa familiar dengan kamera itu.

“Yya..gwaenchana?” tanya tzuyu sedikit cemas.

Murid itu segera berdiri dari duduknya namun tetap membelakangi tzuyu.

“Kau? Itu…kau tidak memakai pembalut? Darahmu menetes” ucap tzuyu ragu ketika ia melihat darah menetes dari dalam rok murid itu.

Murid itu dengan pelan menolehkan kepalanya kepada tzuyu.

“Jinjja?” tanya murid itu dengan nada suaranya yang dingin.

Murid itu kembali memutarkan kepalanya untuk menatap tzuyu yang masih penasaran dengan wajahnya. Sosok itu tepat menatap tzuyu dengan tatapan kebencian.

“Eunjin” gumam tzuyu.

Sosok itu terus menatap tzuyu dengan tatapan tajamnya. Tzuyu benar-benar takut sekarang ia tidak tahu harus berkata apa.

“Mi-mianhae…mianhae Eunjin-ya” ucap tzuyu takut hingga meneteskan air matanya. “SANA-CHAN!!!” teriak tzuyu ketika Eunjin berhasil meraih leher tzuyu dengan tangannya.

“TZUYU-AH!!!” panggil seseorang yang memasuki kelas itu dan berlari mendekati tzuyu. “Yya! Kau mencekik dirimu sendiri! Ada apa dengan mu!! TZUYU-AH!!!” teriak Sana menarik tangan tzuyu yang semakin erat mencekik lehernya sendiri.

Ketika namja itu berhasil melepaskan tangan tzuyu dari lehernya.

“Tzuyu-ah…gwaenchana?” tanya namja itu sambil sedikit menggosok-gosok pundak tzuyu.

“Sana-chan…kkajima..muesowo.neoumu museuwo..” gumam tzuyu bergetar sambil memeluk tubuh Sana.

“Ada apa denganmu?” tanya Sana heran.

“Ayo…keluar dari sini sebelum bertemu dengan yoona” ucap tzuyu ketakutan membuat Sana semakin heran.

“Yoona??” tanya Sana memastikan.

***

“HiuHyeon-ah…aku lapar” gumam eunice.

“Kau tunggu di UKS, disana sedikit terang” ucap HiuHyeon malas.

“Shireo…aku ingin bersamamu..bagaimana jika aku melihat hantu lagi” tolak Eunice.

“Yya…sudah kubilang disana terang..jika kau melihat seseorang berjalan di halaman depan, kau goyangkan senter ini untuk meminta pertolongan..aku akan ke kanting untuk mengambil beberapa makanan” ucap HiuHyeon.

“Lalu bagaimana denganku?” tanya eunice.

“Mataku mata singa…gelap adalah lingkunganku” balas HiuHyeon sambil tersenyum tulus pada eunice.

***

Di kantin terlihat HiuHyeon yang sedang menendang mesin minuman. Ketika beberapa minuman keluar, HiuHyeon langsung memunguti minuman itu. HiuHyeon meletakkan semua makanan itu di meja dan kemudian merunduk untuk mengambil minuman. Ketika ia berhasil mengambilnya, tiba-tiba ia melihat sepasang kaki. HiuHyeon segera bangkit untuk melihat orang itu. Ketika akan berdiri HiuHyeon langsung terjatuh.

Kepalanya banyak mengeluarkan darah, matanya bahkan setengah terbuka, HiuHyeon terlihat tidak bernyawa lagi.

***

Di UKS eunice masih terus berusaha menyenteri jendela berharap seseorang menyadari sinar senternya.

“Ahh…BERIKAN AKU MAKANAN!!!” teriak eunice histeris.

“Apa yang kau lakukan?” suara itu mengejutkan eunice.

“Yoona!! Kau juga terkurung? Kenapa bisa!!” tanya eunice heran.
“Gwaenchana?” tanya eunice canggung.

Ketika yoona menurunkan lengannya terlihat pundak yoona yang di penuhi oleh darah.

“Yoona-ah..” gumam eunice cemas bahkan eunice segera berjalan mendekati yoona untuk membantunya.

“Serahkan padaku..” sergah eunice yang merebut kotak obat yang ada di tangan yoona.

Eunice sedikit ngeri melihat luka yoona karena lukanya yang begitu dalam. “Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau melihat HiuHyeon? Sebenarnya ada tzuyu dan Sana juga yang terkurung di gedung ini” ucap eunice.

“Mwo? Sana?” tanya yoona memastikan.

“Aku sangat lapar…ayo ke kantin, disana HiuHyeon sedang mengumpulkan makanan” ucap eunice meraih tangan yoona untuk segera pergi dari UKS. “Yoona-ah… Wae irae?” tanya eunice sedikit gugup karena wajah yoona berubah dingin. “Yoona-ah” gumam eunice lagi.

“Bukankah dulu aku pernah bilang… Tidak ada yang boleh menduduki kursi Eunjin?” gumam yoona dengan suara dinginnya.

“Yoona-ah…. Lepaskan..ada apa denganmu”

“Kau ingin menemui HiuHyeon? Dia sudah mati” ucap yoona lagi dengan dingin. “Kau ingin menyusulnya?” tanya yoona kepada eunice yang semakin takut.

Eunice segera melangkahkan kakinya untuk kabur namun tubuhnya tumbang begitu saja. Ia pun terjatuh ketika yoona melepaskan benda yang tertancap di kepala eunice.

“Yoong.. Yoona” gumam eunice cegukan ketika darah itu semakin deras mengalir di kepalanya.

***

“Sana-chan… Sebaiknya kita ke kolam renang, aku tau jalan rahasia untuk keluar dari sana” ucap tzuyu dengan tatapan penuh kepastian dari Sana. “Kau mendengar itu?” tanya tzuyu pelan pada Sana.

Tzuyu langsung menarik Sana untuk memasuki sebuah ruangan yang lumayan terang. “Sana-chan..” panggil tzuyu sambil menunjuk senter.

“Ada orang lain selain kita yang berada di gedung ini..” ujar Sana santai dan berjalan untuk mengambil senter itu.

“AAAAA!!!!” teriak tzuyu sambil menutupi mulutnya karena ia tidak sengaja menyenteri lantai bawah memperlihatkan eunice yang telungkup.

“Ayo kita keruangan kolam renang sekarang juga..” ucap Sana sambil mengelus kepala tzuyu.

“Yoona… Yoona yang melakukan iyu, eotteokhae… Dia melakukan itu, dia hanya ingin membunuhku.. Tapi kenapa dia membunuh semua orang” ucap tzuyu terisak.

Di ruangan kolam renang itu Sana
terus memeluk tzuyu agar tzuyu tidak marah lagi.

“Dimana pintu keluarnya?” tanya Sana pada tzuyu yang masih ketakutan.

“Disitu” ucap tzuyu pelan menunjuk sebuah tumpukan kardus.

“Tzuyu..” suara itu membuat tzuyu dan Sana menoleh kebelakang.

“Yoona-ah..” gumam tzuyu pelan.

“Kenapa kau lari dariku? Semakin kau berlari maka semakin membuatku ingin segera membunuhmu..” ucap yoona.

“Yoona.. Kau yang membunuh eunice?” tanya Sana sambil bersiap-siap dengan serangan yoona yang mungki saja menyerangnya.

“Eunice? Kurasa kau melupakan HiuHyeon… Kau ingin menjadi seperti mereka? Jika tidak tinggalkan aku dan tzuyu di ruangan ini..” ucap yoona menampilkan senyum sinisnya.

Tzuyu benar-benar tidak menyangka yoona bisa melakukan semua ini. Yoona adalah seorang monster, ia berubah. Dari wajahnya yang polos kini menjadi seorang pembunuh hanya karena Eunjin.

Yoona mengangkat linggisnya hendak memukul kepala Sana namun Sana dengan sigap langsung menahan linggis itu dengan tangannya.

“GEUMANHAE!!!!” teriak tzuyu sambil menutupi telinganya karena takut. “Apa yang ingin kau tanyakan? Kau ingin tau dimana Eunjin? Kau ingin tau dimana aku menyembunyikannya? Kau ingin tau dimana aku menguburnya?” ucap tzuyu membuat Sana terperangah tidak percaya.

‘Tzuyu? Tzuyu temannya sendiri yang suda membunuh Eunjin?” pikir Sana.

Tzuyu melangkahkan kakinya mendekati yoona. Yoona membanting linggisnya dan menarik kerah baju tzuyu.

“Eoddi!!!” tanya yoona.

Tzuyu menatap kolam renang disampingnya itu dengan lamat.

~FLASHBACK~

Sambil menahan tangisannya tzuyu menyelam di kolam renang itu yang kini airnya berwarna merah. Ia menarik tubuh Eunjin dan membaringkannya di tepi kolam renang. Tzuyu tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat kolam renang itu yang setengah jadi. Entah pikiran darimana ia menggali tanah di kolam itu cukup dalam seorang diri. Ia menarik kaki Eunjin untuk turun ke dasar kolam renang yang masih belum jadi itu, lalumendorong tubuh Eunjin jatuh ke dalam lubang yang sudah digali cukup dalam.

Sat itu juga tzuyu langsung naik dan menguburkan Eunjin dengan terus menghapus air matanya dan keringatnya tanpa henti tidak lupa melemparkan kamera Eunjin.

~keesokan harinya~

Ke esokan harinya terlihat tzuyu yang terbaring lemas diranjangnya.

“Tzuyu..kau gila? Siapa yang menyuruhmu untuk membersihkan kolam renang yang besar itu seorang diri? Untung aku yang menemukanmu terlebih dulu..jika ibumu yang menemukanmu kau benar-benar akan mati” ucap yoona kesal.

Saat itu juga ibu tzuyu datang dengan wajah cemasnya. “Kau..lihatlah kulitmu..sudah kubilang sesuatu yang kau sukai bisa saja membunuhmu!” ucap ibu tzuyu kesal.

“Eomma..aku akan berhenti dari kegiatan renangku, aku tidak suka renang lagi..aku trauma” ucap tzuyu dengan wajah datarnya.

“Bagaimana dengan Eunjin? Dia selalu mendukungmu..” tanya yoona heran.

“Anni..aku berhenti renang karena keinginanku sendiri yoona.. Dan jangan sebut nama itu dihadapanku..namanya membuatku tertekan..” ucap tzuyu yang membuat yoona heran.

Beberapa hari kemudian

“Kapan terakhir kali kau bertemu dengan Eunjin?” tanya yoona dengan wajah gusarnya.

“Pagi sebelum aku akan pergi ke lombaku..dia bilang dia tidak bisa pergi ke lomba ku..dan kupikir dia ada di kolam renang namun tidak. Malam itu aku sangat frustasi jadi aku ingin membersihkankolam renang itu. Setidaknya itu adalah salam perpisahanku untuk kolam renang.. Aku benar-benar tidak memikirkan Eunjin waktu itu, kupikir Eunjin akan kecewa padaku karena tidak mendapatkan mendali emas” ucap tzuyu panjang lebar.

“Eunjin menghilang.. Ia tidak ada dimanapun..” ucap yoona sambil mengatur nafasnya.

“Mungkin.. Dia ke suatu tempat?” tanya tzuyu heran

Pertanyaan tzuyu membuat yoona teringat pada hal yang sudah ia lakukan pada Eunjin.

~beberapa hari kemudian

“Sebenarnya..Eunjin tengah hamil.. Kurasa dia melarikan diri dan bunuh diri.. Ahjussi. Tolong kau hentikan pencarian Eunjin, aku tidak ingin sekolah tau jika Eunjin hamil. Terakhir kali di malam itu dia mengatakan padaku, aku harus menang dalam pertandingan itu. Ia mengungkapkannya seperti ia akan pergi jauh. Bahkan ia menolak untuk datang ke pertandinganku, tidak seperti biasanya. Ahjussi.. Eunjin sudah seperti saudaraku sendiri, ia tumbuh tanpa kedua orang tuanya. Ibuku juga sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Atas nama saudara dan sahabatnya, kuharap ahjussi mengerti” ucap tzuyu panjang lebar.

“Kalian dengar sendiri? Sebentar lagi..sekolah kami akan mengadakan ujian..kami tidak ingin kegiatan belajar-mengajar kami terganggu begitu saja. Bukankah keluarga mereka sudah merelakan kepergian Eunjin?” ucap kepsek pada kedua polisi itu.

“Yya!! Secara sepihak kau melakukan hal ini? Kau yang menghentikan pencarian Eunjin? Kau pikir Eunjin benar-benar mati? Dan menurutmu aku ini siapa?” ucap yoona setengah berteriak.

“Yoona-ah.. Eunjin adalah temanku, aku lebih dulu mengenalnya dari pada dirimu..aku sudah mengenalnya dari kecil.. Sementara kau? Kenapa kau tidak rela terhadap Eunjin? Kau mencintainya?” tanya tzuyu heran.

“Ne… Aku mencintainya..” balas yoona dengan nada dinginnya.

***

“Jalang… MATI KAU!!!” teriak yoona sambil mencekik leher tzuyu.

Tzuyu menangis dengan apa yang terjadi. Mata tzuyu memerah ia bahkan berusaha bernafas namun
tidak bisa, Sana benar-benar tidak tahan hingga ia mengambil linggis yoona dan membanting linggis itu dipunggung yoona. Sana terus mengulang pukulan itu hingga beralih dikepala yoona, tzuyu sudah sangat kritis sekarang.

“ARRRGGGHHH!!!!” teriak yoona semakin mencekik tzuyu dan melempar tubuh tzuyu ke kolam renang. Yoona langsung menarik tubuh Sana. Dengan luka parahnya yoona benar-benar tidak peduli pada Sana yang kini memukul kepala yoona.

Di kolam itu terlihat punggung tzuyu yang mengapung tanpa pergerakan. Sana terdiam tidak percaya. Ia sangat marah kepada yoona hingga ia memukul yoona tanpa henti.

“Eunjin-ah” gumam tzuyu yang matanya terbuka di kolam renang.

“Tzuyu-ah” terlihat seseorang muncul dari kolam renang, ia adalah Eunjin.

“Mianhae”

~ 5 tahun kemudian ~

“Sekolah ini ditutup karena tidak ada lagi yang berani bersekolah disini..sekolah ini sangat angker semenjak ditemukan beberapa mayat mengenaskan di dalam sekolah dalam satu malam. 1 mayat yeoja di UKS dengan luka sutusk di puncak kepalanya, 1 lagi murid namja dengan luka pukulan linggis di kantin” ucap seorang penjaga sekolah.

“Kudengar 2 mayat yeoja juga ditemukan dikolam renang ini?” tanya yeoja itu.

“Sekitar 7 tahun yang lalu, seorang murid membunuh temannya yang hamil dan menguburnya di dalam kolam ini. Mayat itu ditemukan sekitar 2 tahun kemudian setelah seseorang menemukan surat yang dipenuhi darah tergeletak di ruangan basket. Disurat itu dikatakan semua hal yang terjadi terhadap mayat itu. 5 tahun yang lalu murid yang membunuh temannya itu di temukan mengapung di dalam kolam, ia dibunuh setelah dicekik oleh seorang namja. Murid namja itu juga adalah temannya, ialah yang menghamili yeoja yang terkubur di dalam kolam. Murid namja itu juga mati dengan banyak luka, temannya dari klup basket sekolah ini yang memukulnya” jelas penjaga sekolah itu.

“Lalu berapa total murid yang meninggal itu?” tanya yeoja itu pensaran.

“Ada 6 mayat yang di temukan, 3 mayat yeoja dan 3 mayat namja..” ucap penjaga sekolah itu

“Lalu siapa murid namja lainnya?”
Tanya yeoja itu penasaran.

“Minatozaki Sana… Ia adalah murid terakhir yang tewas..ia tewas karena gantung diri, di kamar mandi ruangan basket ini. Karena ia sendiri yang menulis  surat itu, menjelaskan secara rinci..terhadap apa saja masalah yang terjadi” ucap penjaga sekolah itu.

“Lalu apakah surat itu masih ada?” tanya yeoja itu.

“Ada..surat itu di simpan di ruangan kepala sekolah” jawab penjaga sekolah itu.

“Apa aku boleh menunjukkan surat itu di terbitkan dimajalahku? Setidaknya itu bisa menjawab semua rsa penasaran orang-orang terhadap sekolah ini” ucap yeoja itu dengan penuh harap.

“Baiklah..ayo” ajak penjaga sekolah itu.

“Kurasa aku akan menunggu disini, ruangan basket ini cukup luas aku akan mengambil gambar di kamar mandinya” ucap yeoja itu yakin.

“Kau yakin? Dari semua tempat.. Ruangan basket inilah yang paling angker..” ucap penjaga itu.

“Gwaenchana.. Aku sudah terbiasa berada di tempat angker” balas yeoja itu biasa.

Yeoja itu mengambil gambar disetiap Sudut ruangan basket hingga kamar mandinya. Yeoja itu menyerah dan keluar dari kamar mandi itu. Ketika yeoja itu sudah berada di lapangan basket.

“Yuri noona… Kau meninggalkan kamera mu”

Yeoja bernama yuri itu langsung menolehkan kepalanya untuk menatap orang yang sudah memanggil namanya itu.

“Semua ini diawali karena mu” ucap sosok itu dingin.

“Sana..” gumam yuri mundur dari hadapan Sana.

Yuri mengira ia hanya berhalusinasi, sejujurnya ia sudah mengalami hal seperti ini.

“ARRRRGGGHHH!!!” tiba-tiba seseorang memukul kepala yuri dengan sebuah linggis membuat darah mengalir dengan deras di kepalanya.

“Semua ini tidak akan berakhir bila kau belum mati.. Itulah kalimat terakhir dari surat itu..”

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s